atas1

Revolusi Digital Berlangsung Kejam
DPR RI Dorong Pemerintah Siapkan SDM Masuki Era Digital

Jumat, 23 Nov 2018 | 14:12:09 WIB, Dilihat 795 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Revolusi Digital Berlangsung Kejam Anggota Komisi I DPR RI Dr H Sukamta menjadi narasumbner Dialog Publik Tantangan SDM Menghadapi Disrupsi pada Era Revolusi Digital, Jumat (23/11/2018), di Hotel Sahid Jalan Babarsari Sleman. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Jokowi Tanya LPj Dana Desa, Ribuan Kades Kompak Menjawab Sulit


KORANBERNAS.ID -- Sejumlah 9.100 kantor cabang bank di Eropa terpaksa tutup. Lebih kurang 5.000 karyawan kehilangan pekerjaan dan dirumahkan. Ini terjadi secara tidak terduga-duga karena terlambat mengikuti perubahan zaman.

Di Indonesia, dua tahun lalu perusahaan taksi terbesar omzetnya turun 50 persen sedangkan perusahaan taksi nomor dua ozetnya turun 70 persen. Toko besar dan terkenal di Jakarta juga tutup.

Gambaran realitas mengenai kejamnya revolusi digital itu mengawali pembahasan Dialog Publik Tantangan SDM Menghadapi Disrupsi pada Era Revolusi Digital, Jumat (23/11/2018),  di Hotel Sahid Jalan Babarsari Sleman.

Pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI itu, tampil tiga orang narasumber.

Yaitu, anggota Komisi I DPR RI Dr H Sukamta, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Drs Gun Gun Siswadi MSi serta pakar SDM/Akademisi Setyabudi Indrartono PhD.

“Di era revolusi digital, jika tidak berubah kita akan tertinggal. Ini persoalan serius tetapi bagi anak-anak muda justru menjadi tantangan,” ungkap Sukamta.

Sebagai gambaran, dulu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan dambaan sedangkan generasi saat ini berpikir praktis mengandalkan pekerjaan dari dunia digital bahkan tidak memikirkan pensiun.

“Dunia digital itu tidak mengenal tempat, negara dan wilayah. Orang bisa punya kantor di Jogja, tempat produksinya di China tetapi jualannya ke Amerika. Teman-teman kita di Bantul dan Jogja cukup banyak yang kerjanya begitu. Omzet mereka miliaran,” kata Sukamta.

Dia mengakui teknologi digital berkembang luar biasa. Contoh paling gampang adalah medsos. Di Eropa dan mayoritas negara lain, keberadaan medsos dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan produktif.

Sebaliknya di Indonesia medsos baru sebatas untuk sosialisasi atau reuni, mendekatkan yang jauh dan justru menjauhkan yang dekat.

“Obrolan kita di medsos masih sebatas remeh remeh, negatif dan bukan kegiatan produktif. Itu perlu, tapi lama-lama bisa saling sikut dan gosip,” ungkapnya.

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Drs Gun Gun Siswadi MSi. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Karena itulah, anggota DPR RI dari DIY ini terus mendorong pemerintah supaya terus menyempurnakan regulasi sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM).

“Pertanyaannya bagaimana negara kita mempersiapkan rakyat yang berusia 10-15 tahun untuk memasuki dunia kerja di era digital. Perlu rencana yang strategis,” kata dia.

Sukamta bercerita, sewaktu berkunjung ke China tahun lalu dirinya menyaksikan sendiri perusahaan telekomunikasi negara itu dengan jumlah pengguna 925 juta atau empat kali jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Perusahaan tersebut sudah memiliki data real time penggunanya termasuk data-data transaksi. Sedangkan data di Indonesia umumnya masih data tahun lalu. “Kita berpikir analog ketika zaman sudah digital,” ucap Sukamta.

Mengingat negara-negara lain sekarang ini sangat serius menyiapkan rakyatnya masuk dunia digital, menurut Sukamta, Indonesia juga harus mempersiapkan warganya memasuki era digital.

Di sektor pendidikan, kesiapan itu meliputi sistem dan cara pengajaran, pelatihan serta budaya. “Bagaimana mengajarkan budaya baru di era digital. Guru yang sudah ada mau diapakan dan calon guru mau diapakan. Ini semua menjadi rantai panjang dan tantangan kita bersama,” tambahnya.

Sedangkan Gun Gun Siswadi menyampaikan data tahun lalu pengguna internet di Indonesia 143 juta. Sedangkan penggunaannya lebih banyak untuk medsos.

Inilah pentingnya warga diberikan pemahaman mengenai pentingnya melek digital. Selain itu, perlu ada edukasi terkait dengan etika di media berjejaring sosial.

Dia menegaskan, teknologi memang penting tapi ada yang lebih penting yaitu sumber daya manusianya. (sol)



Kamis, 22 Nov 2018, 14:12:09 WIB Oleh : B Maharani 7708 View
Jokowi Tanya LPj Dana Desa, Ribuan Kades Kompak Menjawab Sulit
Kamis, 22 Nov 2018, 14:12:09 WIB Oleh : Sari Wijaya 1112 View
Stand Up Comedy Digelar di Hutan
Kamis, 22 Nov 2018, 14:12:09 WIB Oleh : Arie Giyarto 1193 View
Nikmatnya Tongseng Ayam Kampung Pak Antok

Tuliskan Komentar