atas1

Puisi dan Geguritan Bertemu di Sastra Bulan Purnama

Selasa, 19 Mar 2019 | 23:25:34 WIB, Dilihat 2153 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Puisi dan Geguritan Bertemu di Sastra Bulan Purnama Aksi panggung Sunawi. (istimewa)

Baca Juga : Dua Korban Longsor Belum Ditemukan


KORANBERNAS.ID -- Puisi dan geguritan bukan dua hal yang berbeda kecuali dari sisi bahasa. Puisi ditulis menggunakan bahasa Indonesia sedangkan geguritan berbahasa Jawa.

Tapi tema yang diangkat bisa sama. Misalnya soal kerinduan, alam dan seterusnya. Penulis puisi disebut penyair dan penulis geguritan disebut penggurit.

Sastra Bulan Purnama edisi 90, Sabtu (23/3/2019) malam, di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Tembi Timbulharjo Sewon Bantul, diisi peluncuran empat buku terdiri dari dua buku puisi dan dua buku geguritan.

Buku puisi berjudul Yang Terasing dan Mampus karya Marlin Dinamikanto, penyair dari Jakarta dan Gapura karya Suyitno Ethex, penyair dari Mojokerto.

Adapun buku geguritan berjudul Taman Kembang Sore karya Sri Wijayati dan Kalamun Bening karya Sunawi, keduanya penggurit dari Yogyakarta.

Sri Wijayati. (istimewa)

Selain dibacakan oleh penulisnya, puisi dan geguritan dibacakan oleh Ami Simatupang pemain teater, Krishna Miharja penyair maupun Liek Suyanto aktor teater.

Selain itu, tampil pula R Agus Purnomo MM, Tri Suwarni, Tari Made, Listiani Darma, Budi Siswanto, Supriyadi, Anwar Wiyadi, Choen Supriyatmi dan Otok Bima Sidharta.

Untuk lagu puisi, Marlin Dinamikanto mengalunkan puisi-puisinya yang digubah menjadi lagu diiringi petikan gitar.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro,  menjelaskan sengaja puisi dan geguritan dipertemukan karena kedua jenis karya sastra tersebut bukan dua hal yang berbeda.

Bisa ditemukan penggurit sekaligus penyair, karena mampu menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Marlin Dinamikanto. (istimewa)

“Puisi dan geguritan hanya berbeda dari segi bahasa yang digunakan. Problemnya pada geguritan, hanya dimengerti oleh orang yang bisa berbahasa Jawa. Orang Sunda yang tidak mengerti bahasa Jawa tidak bisa memahami geguritan, tetapi bisa mengerti puisi yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia,” ujarnya Selasa (19/3/2019).

Interaksi bukan hanya dari segi karya, namun secara personal antara penyair dan penggurit saling bertemu dan berinteraksi.

Kedua penyair dari kota yang berbeda, Marlin Dinamikanto dari Jakarta, Suyitno Ethex dari Mojokerto. Sri Wijayati dan Sunawi sama-sama dari Yogyakarta.

Kedua penyair dan kedua penggurit bukan hanya sekali ini tampil di Sastra Bulan Purnama. Sunawi pernah meluncurkan antologi puisi.

Suyitno Ethex. (istimewa)

Hal yang sama dilakukan Suyitno Ethex. Dua kali dia meluncurkan antologi puisi di Sastra Bulan Purnama.

Marlin dan Ethex sering tampil membaca puisi di tempat berbeda termasuk setiap tahun ikut menghadiri acara Negeri Poci di Tegal. Keduanya ikut tampil membacakan puisi karyanya.

“Selain diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, puisi-puisi saya di dalam buku Yang Terasing dan Mampus secara terpisah sering saya bacakan di kota-kota berbeda,” kata Marlin Dinamikanto. (sol)



Selasa, 19 Mar 2019, 23:25:34 WIB Oleh : Sholihul Hadi 397 View
Dua Korban Longsor Belum Ditemukan
Selasa, 19 Mar 2019, 23:25:34 WIB Oleh : Sholihul Hadi 440 View
Job Fair Solusi Kurangi Pengangguran di DIY
Selasa, 19 Mar 2019, 23:25:34 WIB Oleh : Sholihul Hadi 8474 View
Sebagian Lurah di Yogyakarta Masih Ketakutan

Tuliskan Komentar