pertahankan-pancasila-agar-tak-sengsara-seperti-rakyat-timur-tengahTiga narasumber Derap Kebangsaan yang digelar PWS Yogyakarta, Sabtu (4/5/2019), dari kiri Drs Imam Aziz, Dr Badrun Alaena MSi dan Drs Idham Samawi. (arie giyarto/koranbernas.id)


arie-giyarto

Pertahankan Pancasila agar Tak Sengsara seperti Rakyat Timur Tengah


KORANBERNAS.ID --  Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan RI harus tetap dipertahankan sak lawase atau selamanya. Ketiganya terbukti mampu mempersatukan bangsa besar terdiri dari ratusan suku yang menghuni ribuan pulau.

Hal ini harus tumbuh menjadi kesadaran bersama karena belakangan ditengarai ada sekelompok orang menginginkan Pancasila sebagai dasar negara digantikan paham Islam yang berkiblat ke Irak dan Suriah.


Baca Lainnya :

Padahal sudah terbukti di Timur Tengah, paham itu mengakibatkan peperangan, kehancuran negara dan kesengsaraan  rakyat.

Negara harus hadir dan mengembalikan semuanya pada kesepakatan nasional yang sudah dengan susah payah dibangun para pendiri bangsa melalui proses sangat panjang. Meskipun itu bukan sesuatu yang mudah.


Baca Lainnya :

Hal itu terungkap dalam Derap Kebangsaan XXVI yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta di Cafe Cangkir Jalan Bintaran Yogyakarta, Sabtu (4/5/2019).

Tampil sebagai narasumber Dr Badrun Alaena MSi selaku Ketua Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Drs Imam Aziz, Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) serta anggota DPR RI Drs H Idham Samawi.

Diskusi bertema Kita Indonesia Menjaga Kerukunan Nasional kali ini sekaligus untuk menyikapi adanya kecenderungan terjadinya perpecahan pasca pemilihan presiden dan legislatif 17 April 2019 akibat perbedaan pilihan politik.

“Setelah pemilu selesai seharusnya seluruh elemen bangsa menyatu kembali bersama-sama membangun negeri sembari menunggu hasil penghitungan suara secara konstitusional,” ungkap Badrun Alaena.

Mengingat masih ada pihak merasa menang karena tidak puas dengan hasil penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU), maka situasi menjadi seperti yang terjadi belakangan ini.

Hal ini diperburuk dengan munculnya sejumlah elite politik yang mengeluarkan statemen bersifat provokatif dan menghasut sehingga tidak membuat suasana tenang tapi justru sebaliknya.

Soetomo Parasto, aktivis Angkatan 66 Yogyakarta menanggapi materi narasumber. (arie giyarto/koranbernas.id)

Hoaks yang berseliweran di sosial media bisa mempengaruhi pendapat, sikap dan pikiran akar rumput. “Kewaspadaan terhadap adanya kelompok yang ingin mengganti Pancasila harus disikapi serius,” ungkap Badrun.

Menurut dia, mereka yang punya keinginan mengganti Pancasila masuk lewat jalur pendidikan, birokrat, pesantren dan lain-lain.

Jika itu terjadi maka semakin lama semakin sulit untuk mengembalikan kepada keyakinan Pancasila sebagai kesepakatan nasional dasar negara.

“Gejala itu ditengarai sudah masuk Yogyakarta sehingga perlu kewaspadaan kita semua menjaga agar Yogyakarta tetap nyaman,” tambahnya.

Drs Risdiyanto, pemerhati politik tampil sebagai salah seorang penanggap. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sejak dini

Badrun Alaena, Imam Aziz maupun Idham Samawi merasa prihatin bibit intoleransi sudah mulai diintervensikan sejak dini di kalangan anak-anak TK dan SD.

Ke depan bibit itu dikhawatirkan menumbuhkan generasi intoleran. Karena dilakukan sejak dini maka sangat kuat tertanam dalam pikiran dan sikap hidupnya untuk tidak mau menerima perbedaan.

Padahal keberagaman merupakan sunnatullah dan mewarnai kehidupan bangsa-bangsa di dunia.

Ketiga narasumber sepakat, inilah pekerjaan rumah bersama seluruh elemen bangsa, termasuk menghilangkan kubu-kubu yang terpolarisasi pada pemilu lalu dan kembali menyatu sebagai bangsa Indonesia.

Pada forum dialog dan tanya jawab, peserta mengusulkan pelajaran budi pekerti dihidupkan lagi. Anak-anak cenderung kehilangan suba sita atau sopan santun.

Mereka mengritik dengan tanpa rasa sungkan disertai lontaran caci maki. Sebenarnya kritik konstruktif diperlukan untuk membangun bangsa.

Diskusi atau Derap Kebangsaan diikuti peserta berbagai elemen antara lain kalangan generasi muda terutama mahasiswa pemilik masa depan bangsa.

Pada kesempatan itu dibagikan buku, sertifikat serta undangan menyaksikan pergelaran Ranggalawe Makar karya Joko Santosa, seorang anggota PWS Yogyakarta. (sol)



BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini