penutupan-tpst-piyungan-tanpa-batas-waktuSuasana TPST di Dusun Banyakan Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan Bantul, Kamis (28/3/2019), sejak ditutup lima hari terakhir. (sari wijaya/koranbernas.id)


sri-wijaya

Penutupan TPST Piyungan Tanpa Batas Waktu

Lembaga Ombudsman Minta Pemerintah Segera Bertindak
SHARE

KORANBERNAS.ID – Sudah lima hari terhitung sejak Minggu (24/3/2019) silam Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Dusun Banyakan Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan Bantul ditutup oleh warga sekitar.

Penutupan itu berdampak serius pada terjadinya penumpukan sampah di wilayah Bantul, Kota Yogyakarta serta Kabupaten Sleman.


Baca Lainnya :

Armada pengangkut sampah tidak mengambil sampah ke rumah warga. Bahkan ada  beberapa armada yang sudah telanjur mengambil sampah warga pada Sabtu (23/3/2019) malam, esoknya pada Minggu pagi saat akan membuang tidak diperbolehkan.

Saat ini armada seperti truk dan pikap yang penuh muatan sampah diparkir di tepi jalan menuju TPST.  Bau  busuk terasa sangat menyengat.


Baca Lainnya :

Saat koranbernas.id menuju ke lokasi tersebut, Kamis (28/3/2019) siang bersamaan dengan kunjungan Lembaga Ombudsman RI Perwakilan DIY dipimpin Budhi Masthuri, suasana TPST itu menyedihkan.

“Sampah sudah tidak diambil lima hari karena memang armada kami tidak diizinkan masuk. Banyak pelanggan mengeluh karena sampah menumpuk di mana-mana,” kata Sodik Murwanto, Ketua Paguyuban Armada Sampah “eker-eker golek menirkepada koranbernas.id.

Didampingi bendahara Sapta Wijaya, dia menjelaskan saat ini yang bisa dilakukan oleh 150 anggota paguyuban adalah menunggu perkembangan situasi.

Sodik mengaku sudah mengadukan masalah ini ke beberapa instansi terkait namun belum ada perkembangan berarti.

“Kami juga meminta agar pintu masuk atau armada bisa difungsikan dua seperti dulu, sehingga tidak ada antrean  panjang karena ada perbedaan pintu masuk untuk plat merah dan hitam. Sepekan sebelum penutupan oleh warga, yang berfungsi hanya satu pintu sehingga antrean sangat panjang, bahkan saya pernah mau buang sampah menunggu hingga tujuh jam,” katanya.

Batas waktu

Antrean yang panjang, mengular hingga depan permukiman warga inilah yang dikeluhkan sehingga warga memutuskan menutup TPST hingga waktu yang belum ditentukan.

“Karena memang antrean armada sampai ke depan rumah mereka, belum lagi antrean panjang membuat rembesan air sampah itu mengalir sangat deras ke jalanan. Kondisi jalan berlumpur di TPST juga terbawa  roda kendaraan ke aspal, sehingga sangat membahayakan bagi mereka yang melintas,” urainya.

Beberapa bulan sebelumnya petugas melakukan penyemprotan air minimal dua kali sehari, namun beberapa waktu terakhir penyemprotan ditiadakan.

Tokoh masyarakat Desa Jambidan, Rustam Fatoni SPd, yang lokasinya dilewati dan berdekatan dengan TPST berharap pemerintah mengambil inisiatif cepat untuk mengatasi persoalan sampah.

“Agar segera dipikirkan penanganan sampah ini. Mereka kru  dan pemilik armada dan juga pengambil sampah, jasanya begitu besar kepada pemerintah,” kata mantan Lurah Jambidan tersebut.

Lembaga Ombudsman RI Perwakilan DIY dipimpin Budi Masthuri (kanan) berdialog dengan ketua pemulung, Maryono,  Kamis (28/3/2019). (sari wijaya/koranbernas.id)

Tuntutan warga

Sementara itu Maryono selaku koordinator pemulung  setempat mengatakan penutupan itu karena ada beberapa alasan.

Di antaranya  warga  sekitar membutuhkan perbaikan akses jalan ke TPST  yang memang banyak berlobang dan rusak di banyak titik.

Warga juga membutuhkan penerangan yang  memadai di sepanjang jalur tersebut serta ada kompensasi bagi  lingkungan yang terkena dampak.

Sedangkan Budi Masthuri berharap terkait kondisi yang ada pemerintah segera melakukan tindakan. Baik untuk jangka panjang ataupun pendek.

“Untuk jangka pendek dengan pengerukan di titik dermaga (pintu masuk-red) l yang memang sudah penuh,” katanya.

Perlu dipikirkan solusi jangka panjang mengingat TPST Piyungaan yang menampung sampah dari Bantul, Sleman dan Kota Jogja tersebut sudah memiliki lahan baru  berupa perbukitan yang belum dikepras seluas 5 hektar.

“Seluas apapun lahan, suatu saat akan overload lagi. Jadi perlu dipikirkan bagaimana mengolah sampah ini dalam jangka panjang,” katanya.

Sedangkan fasilitas jalan dipastikan sudah dianggarkan dan menunggu pelaksanaan pada bulan April. “Tadi saya sudah ke DLH DIY untuk mengkonfirmasi hal ini,” katanya. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini