atas

Penilaian Pakar, Pendidikan Kita Salah Arah
Guru Harus Jadi Pendorong Kebhinnekaan

Minggu, 18 Nov 2018 | 20:11:28 WIB, Dilihat 3918 Kali - Oleh Prasetiyo

SHARE


Penilaian Pakar, Pendidikan Kita Salah Arah Dosen FKIP Universitas Jambi, Dr Drs H Eko Kuntarto MPd M Comp Eng tampil pada Seminar Pendidikan di Pendopo Dipokusumo, Minggu (18/11/2018). (prasetiyo/koranbernas.id)

Baca Juga : Kedatangan Caesar Hito Bikin Peserta Audisi Bertengkar


KORANBERNAS.ID -- Di tengah ancaman disintegrasi bangsa saat ini, guru harus menjadi pendorong bagi terciptanya kebhinnekaan, harmonisasi dan toleransi.

Guru juga dituntut berubah, seiring era revolusi industri 4.0 atau era revolusi generasi ke-4 yang ditandai perubahan sangat mendasar di hampir semua aspek kehidupan manusia.

"Di tengah ancaman disintegrasi bangsa dan era revolusi industri saat ini, guru harus mampu mengarahkan siswanya memiliki kemampuan kolaboratif atau kerja sama,"  ujar Dr Drs H Eko Kuntarto MPd M Comp Eng, Dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi.

Berbicara pada Seminar Pendidikan dalam rangka HUT ke-73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional tahun 2018 di Pendopo Dipokusumo, Minggu (18/11/2018), pakar pendidikan itu menilai pendidikan saat ini sudah salah arah.

“Kini pendidikan kita telah salah arah. Para siswa memang bisa sama-sama bekerja, tetapi mereka tidak bisa bekerja sama. Inilah tantangan para guru  saat ini,” ungkapnya.

Seminar ini diikuti 300 peserta, terdiri kepala sekolah dan pengawas dari jenjang TK/BA, SD/MI,SMP/MTs dan SMA/MA/SMK se Purbalingga.

Selain Eko Kuntarto, yang juga putra asli Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet Purbalingga, tampil pula sebagai narasumber Wakil Sekretaris Umum PGRI Jateng yang juga Asisten Direktur ProgramPasca Sarjana Universitas PGRI Semarang (Upgris) Dr Ngasbun Egar S Pd M Pd.

Sehari sebelumnya, juga digelar seminar di Pendopo Dipokusumo yang diikuti kurang lebih 600 guru dari jenjang TK/BA, SD/MI,SMP/MTs dan SMA/MA/SMK se-Purbalingga, dengan nara sumber Prof Muhammad Nizam dari UNS.

Eko Kuntaro menegaskan, kolaborasi harus dibangun oleh para guru dalam kehidupan nyata, baik di sekolah maupun masyarakat.

Guru hendaknya menjadi pendorong contoh bagi terciptanya kebinnekaan, harmonisasi dan toleransi.

"Para pendahulu dan pendiri negeri ini telah merumuskan konsep kolaborasi dalam satu istilah pendek yang mengena, yaitu nasionalisme. Rasa nasionalisme ini harus kita gelorakan," tandas Eko Kuntarto.

Saat ini, ada enam kelemahan bangsa Indonesia yang harus dibuang. Yakni kurang suka membaca,  kurang suka menulis, lemah di bidang sains, percaya hoaks, mudah diadu domba dan kurang suka tantangan atau nrima.

"Jika kita ingin maju, maka  enam kelemahan  itu harus dibuang jauh. Dan yang terpenting, kita harus bisa menghasilkan generasi yang santun atau berkarakter," tegas Eko Kuntarto.

Beberapa waktu lalu pihaknya membuat angket kepada 200 orang manajer tingkat nasional tentang siapa yang dipilih pada saat rekrutmen pegawai. Apakah yang dipilih pegawai yang pintar tetapi tidak santun, atau yang santun tetapi tidak pintar.

"Ternyata 88 persen memilih yang santun, tetapi tidak pintar. Hal ini menunjukkan faktor kepandaian bukanlah harga mati di dunia kerja  zaman sekarang," ujarnya.

Para manajer itu, sambung Eko Kuntarto, beralasan untuk menjadikan seorang pegawai pintar, butuh waktu cukup satu bulan melalui pelatihan intensif yang dibiayai perusahaan.

Namun, untuk membuat seseorang  menjadi santun perlu waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

"Itu karena, santun adalah karakter yang tidak bisa diperoleh secara instan. Dan guru zaman now, harus menyadari bahwa kepandaian dan keterampilan saja tidak cukup bagi generasi abad 21 atau era revolusi industri 4.0, karena fungsinya  telah digantikan oleh komputer, internet dan robot," ujar Eko Kuntarto. (sol)



Minggu, 18 Nov 2018, 20:11:28 WIB Oleh : Sholihul Hadi 710 View
Kedatangan Caesar Hito Bikin Peserta Audisi Bertengkar
Minggu, 18 Nov 2018, 20:11:28 WIB Oleh : Sari Wijaya 1094 View
Minuman Ini Hanya ada di Laguna Depok
Sabtu, 17 Nov 2018, 20:11:28 WIB Oleh : Sholihul Hadi 448 View
Peran Satlinmas Strategis sebagai Juru Musyawarah

Tuliskan Komentar