Rabu, 20 Jan 2021,


pemerintah-menggandeng-dua-bumnMenteri BUMN RI Erick Thohir dan Soleh Udin Al Ayubi memberikan paparan mengenai persiapan infrastruktur data vaksinasi Covid-19. (istimewa)


--

Pemerintah Menggandeng Dua BUMN

Integrasi Digitalisasi Informasi Satu Data Vaksin Covid-19
SHARE

KORANBERNAS.ID, JAKARTA – Untuk mengintegrasikan sistem informasi satu data vaksinasi Covid-19, pemerintah menggandeng dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Telkom dan Bio Farma, sebagai penanggung jawab hingga pendistribusian vaksin sampai ke masyarakat. Langkah ini sebagai tindak lanjut kebijakan Kementerian Kesehatan yang menargetkan usia 18-59 tahun untuk program vaksinasi Covid-19 tahap pertama.


Berbicara dalam Webinar KPCPEN bertema Kesiapan Infrastruktur Data Vaksinasi Covid-19, Selasa (24/11/2020), Direktur Digital Healthcare PT Bio Farma (Persero), Soleh Ayubi, menyampaikan di dalam masing-masing program ini baik vaksin bantuan pemerintah atau mandiri, ada proses distribusi, ada proses pendaftaran serta vaksinasi, ada proses layanan vaksinasi dan tentu ada proses penggabungan data.

End to end process ini bukan sesuatu yang simpel dan mudah. Karena ini mungkin pertama kalinya kita punya hajatan sebesar ini, terutama di bidang health care,” ungkapnya.


Direktur Digital Bisnis PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, Fajrin Rasyid, menambahkan seluruh data saat ini sedang dalam tahap pencocokan dan pengintergrasian antar-kementerian dan lembaga terkait.

“Kita sedang mengintegrasikan data dari berbagai sumber, termasuk di dalamnya, kementerian atau lembaga, operator untuk validitas calon penerima vaksin,” ujarnya.

Mantan bos Bukalapak ini yakin dengan sistem yang sedang dibangun karena dipandang akan lebih mempermudah dan mempercepat proses vaksinasi. “Nanti ketika vaksin sudah ada, kita akan memonitor produksi, bagaimana pengirimannya, jumlahnya dan di-matching-kan dengan kebutuhan vaksin,” ungkapnya.

Dia mengatakan, melalui sistem vaksinasi ini akan langsung diperoleh data berdasarkan prioritas atau sasaran yang ditentukan Kementerian Kesehatan. Sistem ini kemudian akan digunakan untuk program vaksinasi bantuan pemerintah maupun jalur  mandiri. “Orang yang terdaftar di satu sistem, tidak terdaftar di sistem lain,” kata Fajrin.

Vaksin merupakan salah satu cara mengakhiri pandemi yang berkepanjangan. Meski begitu, masyarakat agar tetap semangat dan tetap produktif berkarya dan bekerja selama pandemi, siap divaksin saat vaksin siap. Vaksin adalah acara melindungi diri dan melindungi negeri. Ini semua adalah usaha untuk mewujudkan kesehatan pulih ekonomi bangkit.

Sebagai produsen dan distributor vaksin Covid-19, Bio Farma memastikan keamanan hingga ketersediaan vaksin yang akan dipantau secara digital. Sistem ini akan melabeli botol hingga tempat penyimpanan vaksin dengan barcode,  menjadi model pertama di Asia Tenggara.

“Ada informasi detail mengenai ID-nya, kapan akan expired, batch number-nya berapa, serial number-nya berapa dan seterusnya ada. Ini adalah mungkin yang pertama kali di Asia Tenggara,” kata Soleh Ayubi.

Sistem digitalisasi ini juga akan memantau hingga pendistribusian vaksin. “Masing cold room, chiller, truk dan motor ini akan dipasang sensor lokasi, sensor suhu dan untuk yang truk akan dipasang sensor perilaku. Kita akan tahu pasti, misalkan ada 83 truk, kita tahu masing-masing posisinya ada di mana, berdasarkan barcode tadi akan tahu di dalam truk isinya berapa, sedang di mana, menuju ke mana, kita akan tahu secara  real time,” paparnya.

Soleh menjelaskan, masyarakat yang akan melakukan vaksinasi massal Covid-19 secara mandiri akan dibagi menjadi tiga cara pendaftaran. Pertama melalui  aplikasi. Kedua,  melalui website dan ketiga  dengan proses manual langsung di lokasi tempat pemberian vaksin.

Mengingat jumlah vaksin Covid-19 yang terbatas, Soleh memastikan telah mengantisipasi kemungkinan adanya aksi nakal lembaga atau rumah sakit tertentu yang berniat menimbun vaksin.

“Ada proses untuk pre-order, nah ini juga penting sekali terutama untuk yang distribusi, sehingga kita akan tahu demand yang riil di lapangan itu berapa. Seperti yang saya sampaikan, vaksin ini sangat terbatas. Jadi tidak bisa misalkan satu klinik bilang saya request 100 juta dosis tanpa demand yang riil. Dengan feature seperti ini tentu bisa meminimalkan penimbunan,” tandasnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini