atas1

Pelajar SMKN 1 Patungan Filmkan Perjuangan Orang-Orang Tionghoa

Kamis, 23 Mei 2019 | 08:27:52 WIB, Dilihat 816 Kali - Oleh Prasetiyo

SHARE


Pelajar SMKN 1 Patungan Filmkan Perjuangan Orang-Orang Tionghoa Pelajar SMKN 1 Purbalingga saat syuting film “Orang-orang Tionghoa”, mewawancarai tokoh Tionghoa, Hao, di Gereja Katolik Santo Agustinus, Purbalingga.(Istimewa)

Baca Juga : Staf Desa Minta Gaji Setara UMK


KORANBERNAS.ID--Setelah absen selama tiga tahun pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP), ekstrakulikuler sinematografi SMK Negeri 1 Purbalingga “Smega Movie”, berencana mengirimkan karya filmnya ke program kompetisi pelajar FFP 2019 se-Banyumas Raya.

Film ini dibiayai dengan iuran sesama anggota ekskul film itu, dan mendapat pinjaman kamera serta pendampingan dari Cinema Lovers Community (CLC), sebuah komunitas film pendek di Purbalingga.

Tahun ini, para pelajar itu sedang menggarap sebuah film dokumenter tentang perjuangan orang-orang Tionghoa di Purbalingga dalam melewati kekuasaan Orde Baru.

Sutradara film yang diberi judul “Orang-Orang Tionghoa”, Icha Feby Nur Futikha di Purbalingga, Kamis (23/5/2019) mengatakan, setelah melakukan riset, ia dan teman-teman mengangkat tiga subyek dalam film.

“Subyek orang Tionghoa yang dari dulu tetap beragama Konghucu, yang beragama Katolik, dan yang beragama Islam,” jelas siswi kelas X jurusan Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP).

Pada film yang saat ini masih dalam tahap editing, dibahas bagaimana sejarah warga Tionghoa di Indonesia wajib berganti nama Indonesia di masa Presiden Soeharto bila ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ini juga berlaku bagi ketiga subyek dalam film itu karena adanya Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966 tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia ang memakai nama Cina.

Perjuangan panjang, menurut periset Rena Aryana Putri, dialami oleh subyek yang sampai saat ini menganut agama Konghucu yaitu Ambing Setiawan. “Pada tahun 1975, Om Ambing pernah rela KTP-nya ditulis Kristen di kolom agama. Ya itu karena saat Orde Baru, hanya lima agama yang diakui negara,” ungkap siswi kelas XI jurusan Pemasaran.

Selain soal agama Konghucu yang tidak diakui negara, di masa Orde Baru, kebudayaan Tionghoa juga turut diberangus. Orang tidak bebas menyaksikan kesenian Liong, Barongsai, dan Wayang Potehi seperti sekarang ini.

“Baru setelah Reformasi yang dimulai era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, agama Konghucu dan budaya Tionghoa mulai menghirup udara bebas hingga Presiden Joko Widodo sekarang,” jelas Rena.

Menurut Icha, membuat film dokumenter itu mengasyikan. “Awalnya terasa membosankan, namun semakin banyak informasi yang kami dapat, ternyata ada tantangan disitu. Kami mendapat pengetahuan yang sama sekali tidak kami dapatkan di bangku sekolah,” tegasnya.(SM)



Rabu, 22 Mei 2019, 08:27:52 WIB Oleh : Sari Wijaya 1214 View
Staf Desa Minta Gaji Setara UMK
Rabu, 22 Mei 2019, 08:27:52 WIB Oleh : Nila Jalasutra 461 View
Pengeloaan Dana Desa Harus Transparan
Rabu, 22 Mei 2019, 08:27:52 WIB Oleh : Sari Wijaya 480 View
Kuartal Pertama, RFB Capai Aset Rp 16 Miliar

Tuliskan Komentar