atas1

Para Pensiunan 2049, Horor Teater Gandrik

Selasa, 09 Apr 2019 | 23:01:41 WIB, Dilihat 964 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Para Pensiunan 2049, Horor Teater Gandrik Doorstoot dan Kerkop bertengkar mengenai pemakaman yang layak terhadap dirinya dalam pementasan Para Pensiunan 2049 oleh Teater Gandrik di Concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Senin (8/4/2019). (muhammad zukhronne ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Politik Uang Itu Racun Demokrasi


KORANBERNAS.ID -- Ribut-ribut tak biasa di pemakaman. Doorstoot seorang pensiunan tokoh besar, 32 tahun berkuasa kini meninggal dunia. Tak biasa, jenazah tokoh yang bisa melakukan apa saja pada saat hidupnya justru tidak bisa dimakamkan karena tidak punya SKKB (Surat Keterangan Kematian Baik-baik).

Konon tahun 2049 adalah era yang jauh melampaui masa kini dalam perspektif Gandrik. 2049 semua hal harus sangat administratif dan prosedural. Setiap orang yang akan dimakamkan dengan layak haruslah memiliki SKKB. Sementara untuk memiliki SKKB setidaknya setiap orang yang meninggal harus tak pernah tersandung kasus rasuah, sebuah kejahatan yang mencederai seluruh rakyat.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Lalu disebutkan undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi (Pelakor) yang secara konstitusional mengharuskan siapa pun yang mati wajib memiliki SKKB. Undang-undang tersebut memang dibuat agar para koruptor jera, karena hanya orang yang tidak pernah melakukan korupsi yang berhak mendapatkan SKKB. Bila tak punya SKKB, maka mayatnya tidak boleh dikubur, karena dianggap tidak bersih dari korupsi.

Diperankan oleh Butet Kertaredjasa, Doorstoot menggunakan pakaian arwah serba putih dengan rias pucat. Terbaring di keranda kematian dikelilingi sanak keluarga dengan tangisan. Kesedihan terus dibangun dengan perdebatan antara keluarga Doorstoot dan Kerkop si pengelola makam.

Susilo Nugroho di balik tokoh Kerkop ini sangat mampu membangun guyon khas yang yang cerdas bahkan dengan pisuhan spontan terucap dalam dialognya.

Naskah Para Pensiunan 2049 ini merupakan hasil saduran dari karya almarhum Heru Kesawa Murti tahun 1986 yang berjudul Pensiunan. Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya naskah ini ditulis kembali oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho dan berganti menjadi Para Pensiunan 2049.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Butet mengakui, naskah awal Para Pensiunan 2049 sesungguhnya tidak seperti yang disaksikan dalam pertunjukan. Naskah ini telah 'diobok obok Gandrik'. Tidak saja untuk alasan pemanggungan, namun juga untuk alasan ketidakwarasan lndonesia akhir-akhir ini.

“Kami memilih berkompromi daripada kesandhung dalan alus, dengan teknologi sederhana dan otak kotor, orang bisa mengedit seenaknya ujaran 'yang lain', lalu dengan ringan membaginya. anda yang waras tentu paham bahwa siapa pun bisa kena getah, tak terkecuali ibadah kebudayaan seperti pertunjukan Gandrik,” terangnya dalam tulisan kuratorial Para Pensiunan:2049.

Kesehatan Butet yang sedang dalam masa pemulihan membuat beberapa adegan harus berubah. Hal ini diakui Djaduk Ferianto selaku sutradara.

“Namun nyatanya perubahan yang tidak cukup signifikan ini justru membuat efek lebih menarik,” paparnya saat temu media di Warung Bu Ageng Tirtodipuran Yogyakarta, Jumat (5/4/2019).

“Adegan Doorstoot yang sebelumnya harus jalan-jalan di atas panggung digantikan dengan permainan efek. Jadi kesan arwah dari tokoh Doorstoot yang tiba-tiba muncul dan berpindah lampu justru membuat kesan gaib lebih terasa” tambah Djaduk.

Tawa penonton

Begitu pun dalam membangun horor Para Pensiunan 2049. Kerkop dengan detail memeragakan apa yang akan terjadi jika mayat-mayat yang tidak dimakamkan ini bisa bermanfaat buat rakyat. Tanpa memiliki SKKB, mayat Doorsoot akan diseseti dagingnya dan dijadikan abon. Abon yang bisa digunakan untuk pupuk tanaman ini diberi nama Abon Sripah. Ngeri membayangkannya, namun justru mengundang tawa penonton.

Doorstoot sepertinya mewakili para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Mereka bisa saja pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim dan lainnya.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Saat temu media beberapa waktu lalu Djaduk Ferianto, panggung Gandrik tak hanya sebatas tempat para pemain bergerak, namun seluruh ruangan concert hall termasuk penonton adalah bagian dari pementasan, dan Gandrik membuktikannya.

Kelompok penggali makam yang merupakan anak buah kerkop punya kekhasan tersendiri. Gaya bahasa keminggris yang campur aduk ditambah dengan akromin-akronim konyol tak henti-henti mengocok perut penonton.

Dialog kekinian menyentil penonton akan beberapa hal yang belum lama terjadi, bahkan lampau. Seperti di saat mereka para penggali kubur ini harus segera memproses Doorstoot hanya karena harus mencapai jumlah target demi sebuah poin.

Atau jika tidak segera memproses penggalian maka akun mereka akan terkena suspend membawa ingatan penonton pada jasa antar jemput yang cukup populer beberapa tahun belakangan ini.

Belum lagi tukang mendoakan yang ternyata sudah menjadi profesi tersendiri pada 2049. Paket-paket doa yang ditawarkan cukup beragam, semua tergantung harga yang dikehendaki oleh pemesan.

Tak hanya itu, bahkan paket doa ini sudah include dengan berapa jumlah bidadari yang akan mendampingi arwah yang meninggal nantinya di surga.

Akhir cerita yang tragis nan dramatis dibangun oleh Gandrik. Kerkop yang semestinya masih hidup justru tiba-tiba menerima SKKB yang seharusnya diberikan kepada orang yang telah meninggal. Berbagai upaya pembelaan Kerkop tak berdaya melawan keputusan itu. Adegan siluet berlatar warna merah mengantarkan paksa Kerkop kepuncak makam, pantas sebagai klimaks yang penuh makna.

(muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Tata panggung tampak sederhana, namun akting tiap seniman tak bisa diragukan lagi. Tiap detail peran selaras dengan ilustrasi musik karya Djaduk Ferianto dalam membangun suasana.

Tata cahaya dan artistik panggung klop beradu dengan instrumen yang kaya tapi tidak lebay, memunculkan paduan yang sangat nyaman dilihat dan didengar.

Pertunjukan Para Pensiunan 2049 Teater Gandrik berlangsung 8 dan 9 April 2019 pukul 20:00 di Concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Dan akan tambah pada 10 April 2019 jika animo penonton masih terus bertambah.

“Hal ini mengingat penjualan tiket online yang laris manis di luar dugaan kami,” papar Kusen Ali selaku pelaksana produksi Teater Gandrik. (sol)



Selasa, 09 Apr 2019, 23:01:41 WIB Oleh : Sari Wijaya 390 View
Politik Uang Itu Racun Demokrasi
Selasa, 09 Apr 2019, 23:01:41 WIB Oleh : Nanang WH 2693 View
Pemilik Pohon Jenitri yang Dicuri Mengaku Rugi Rp 100 Juta
Selasa, 09 Apr 2019, 23:01:41 WIB Oleh : Nila Jalasutra 306 View
Sleman Potensial untuk Pengembangan Usaha Kreatif

Tuliskan Komentar