Selasa, 21 Sep 2021,


pak-rt-menjadi-otg-kisah-nyata-warga-bantul-terpapar-covidCover buku Pak RT Menjadi OTG. (istimewa)


Sariyati Wijaya
Pak RT Menjadi OTG, Kisah Nyata Warga Bantul Terpapar Covid

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Seorang warga Celep Kalurahan Srigading Kapanewon Sanden Bantul, Drs Sutanto, menerbitkan buku berisi pengalamannya saat terpapar virus Corona.


Sutanto pada Maret 2021 menjalani isolasi di shelter Niten. Semua pengalamannya mulai dari tes dan dinyatakan positif hingga sembuh dituangkan di dalam buku berjudul Pak RT Menjadi OTG.


Buku dengan nomor ISBN 978-623-275-868-1 ini merupakan kisah nyata dari Sutanto yang ditulis agar masyarakat mengetahui sekaligus untuk edukasi cara bersikap ketika ada orang yang positif.

“Banyak orang enggan mengungkapkan kisahnya saat terpapar Covid-19, namun saya justru merasa terpanggil berbagi kisah saat dinyatakan positif terpapar virus yang menyebar ke berbagai belahan dunia,” kata Sutanto kepada koranbernas.id, Jumat (25/6/2021).


Dia hanya ingin menunjukkan kepada masyarakat, tidak  semestinya orang terpapar Covid dijauhi apalagi dikucilkan. Mereka perlu diperlakukan wajar dan manusiawi. Sesungguhnya virus ini bukan aib. Tidak harus ditakuti berlebihan namun tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Buku ini berkisah saat awal dirinya diperiksa, dinyatakan positif dan akhirnya masuk shelter. Lewat buku ini pula guru MTsN 3 Bantul tersebut  ingin berbagi pengalaman bersosialisasi dengan sesama penderita disertai gambaran berbagai keadaan yang dialami mereka.

Ada yang tidak bisa membau, tidak merasakan pahit, manis maupun asin, ada yang kakinya pegal-pegal, batuk pilek, namun ada pula orang tanpa gejala (OTG) yang sama sekali tidak merasakan sakit selama dinyatakan positif.

Hj Emi Masruroh Halim SPd selaku Ketua TP PKK Kabupaten Bantul secara terpisah menyambut baik terbitnya buku Pak RT Menjadi OTG itu.

“Membaca buku karya  Pak Sutanto mengingatkan saya dalam kisah yang sama. Terpapar virus ini tidak pernah diinginkan siapa pun. Protokol kesehatan senantiasa selalu dilakukan. Walaupun begitu, ketika Allah SWT menghendaki diri kita terpapar maka tidak dapat menghindar sedikit pun. Begitu pula jika tidak dikehendaki terpapar, sekalipun kontak erat dengan pasien Covid-19 maka tetap sehat seperti dialami istri  Pak  Sutanto,” urai Emi.

Istri dari Bupati Bantul Abdul Halim Muslih itu menambahkan Pemerintah Kabupaten Bantul  telah berupaya dengan berbagai cara agar  penyebaran virus tersebut tidak merajalela. Keberhasilan itu tergantung seberapa taat warganya memenuhi protokol kesehatan.

Selain upaya antisipatif, warga terpapar senantiasa diperlakukan dengan baik agar kembali sehat. Di antaranya dengan menyediakan  beberapa shelter dan satu RS Lapangan khusus Covid serta beberapa RS rujukan.

“Ketika saya nyambangi beberapa shelter dan RSLKC, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul sempat bertemu dengan Drs Sutanto dalam keadaan sehat secara fisik di shelter Niten. Teman saya berangkat haji pada tahun 2018 itu rupanya menjadi pasien dengan status OTG,” ucapnya.

Beruntung seluruh elemen masyarakat, keluarga dan petugas di sekitar tempat tinggalnya penuh toleransi sehingga Sutanto dan keluarganya merasa nyaman.

Tidak sedikit orang yang terpapar justru dikucilkan tetangga. Inilah yang membuat suasana hati penderita menciut sehingga bisa memperlama penyembuhannya.

“Kepada para pembaca, semoga kisah Drs Sutanto ini menginspirasi untuk selalu menjaga protokol kesehatan, mendukung orang-orang di sekitar agar tercipta suasana menyenangkan sehingga menjadi salah satu faktor pendukung percepatan sembuhnya penderita Covid. Sapalah para penderita walau sederhana melalui sosial media, tetapi jangan mengintimidasi. Doakan agar lekas sembuh tanpa menggurui, karena psikis penderita Covid rata-rata cukup sensitif,” tandas Emi. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini