Kamis, 21 Okt 2021,


orang-ini-sangat-dicari-di-seputaran-jalan-magelang-hingga-jomborGiyanto sedang menambal ban sepeda motor milik Ny Agus di Sleman. (warjono/koranbernas.id)


Warjono
Orang Ini Sangat Dicari di Seputaran Jalan Magelang hingga Jombor

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Giyanto (58) menjalankan sepeda motornya pelan. Sampai di seputaran Jalan PJKA Beran Sleman, dia berhenti. Motornya dia parkir di pinggir jalan. Ayah tiga anak ini kemudian mendatangi jurnalis media ini dan mengulurkan tangan bersalaman.


“Maaf, Mas, agak terlambat. Barusan selesai nambal ban di dekat Pasar Sleman,” katanya sembari mengangsurkan tubuh mencari tempat duduk di bawah rindangnya pepohonan.


Tidak lagi muda, namun Gianto terlihat tetap sehat dan penuh semangat. Wajah gelapnya terlihat cerah. Sepanjang obrolan santai dengan koranbernas.id,  Giyanto kerap tersenyum dan tertawa. Dia juga tak pernah mengeluh, kendati hampir dua tahun pandemi Covid-19 juga ia rasakan dampaknya.

Giyanto, dikenal luas sebagai tukang tambal ban keliling. Warga Srumbung Magelang ini saban hari berkeliling mengendarai sepeda motornya yang mulai usang, untuk melayani konsumen. Kalau sedang tidak ada warga yang membutuhkan, Giyanto sering mangkal di seputaran Pasar Sleman. Di sanalah, Giyanto merasa berkumpul dengan keluarga keduanya, sambil sesekali melayani permintaan pedagang atau pengunjung pasar membawakan atau memanggul barang dagangan.


Sudah sekitar lima tahun, Giyanto menjalani profesinya sebagai tukang tambal ban dan servis motor keliling. Dulu, ia adalah salah seorang dari sekian banyak pedagang mainan anak-anak, yang menjual dagangannya berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya di Sleman. Bermacam-macam jenis mainan ia jajakan, untuk menghidupi istri dan tiga orang anaknya.

“Entah berapa tahun ya mas saya jualan mainan anak-anak. Lumayan lama juga kok. Sampai suatu saat saya memutuskan untuk berhenti dan menjadi tukang tambal ban. Gara-garanya sepele. Suatu siang yang terik, saya melihat seorang ibu menuntun sepeda motornya di Jalan Magelang. Saya ada di seberang jalan. Kasihan juga, karena sejak Jalan Magelang dibuat pembatas jalan, tidak mudah bagi pengguna jalan menyeberang,” kata Giyanto yang secara kebetulan sedikit banyak mewarisi keterampilan tambal ban dan servis sepeda motor dari kakeknya yang memiliki bengkel.

Dari sanalah, Giyanto kemudian memutuskan membeli peralatan untuk jasa tambal ban dan servis sepeda motor. Sebagian lagi, dia bikin sendiri dengan bahan seadanya. Giyanto kemudian juga membuat kotak dan keranjang untuk mengangkut semua peralatan yang ia butuhkan untuk mendukung profesinya yang baru.

Selanjutnya, setiap hari, Giyanto berangkat dari rumahnya di Srumbung pukul 05:00 dan pulang ketika senja menjelang. Biasanya ia sampai rumah menjelang tiba waktu maghrib. Kalau belum ada yang order atau meminta jasanya, Giyanto lebih banyak melewatkan waktu di sekitar Pasar Sleman. Tidak ada hari libur baginya. Giyanto mengaku hanya libur ketika di kampungnya ada kegiatan entah kerja bakti, atau ada tetangga yang punya hajat atau ada orang yang meninggal dunia.

Ya namanya hidup di kampong, Mas. Tidak mungkin saya berangkat kerja kalau ada kegiatan kampung,” katanya ringan.

Giyanto mengaku tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Entah seberapa, bisa dipastikan dirinya pulang membawa rupiah. Sebagian digunakan untuk biaya hidup keseharian. Sisanya ditabung untuk kebutuhan yang sifatnya rutin seperti membiayai sekolah ketiga anaknya, atau yang sifatnya dadakan seperti kegiatan sosial.

“Selama ini cukup mas. Bukan sombong nggih, rata-rata perbulan saya bisa mendapatkan lebih dari UMP. Meski sekadar cukup untuk hidup, tapi saya senang setidaknya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak hingga setingkat SLTA. Senang juga karena saya tidak menjadi beban negara karena saya tidak digaji oleh negara,” lanjutnya.

Giyanto mengaku lima tahun menggeluti profesinya ini, pelanggan terus bertambah. Terlebih sejak ia berinisiatif membuat selebaran dan menempelkannya di sejumlah tempat di Sleman. Di selebaran inilah, ia mencantumkan jasa yang ia tawarkan berikut no WA 087838686399 yang siap dihubungi kapan saja. Namun buru-buru ia menjelaskan, apabila sudah malam ia terpaksa menolak karena sudah pasti di rumah. Giyanto biasanya menjanjikan esok harinya pagi-pagi benar permintaan dari customer ini ia kerjakan.

Beroperasi di daerah sekitar Jalan Magelang mulai dari Tempel hingga Jombor, Giyanto semakin menjadi tumpuan warga yang kebetulan sedang berhalangan di jalanan. Entah karena ban sepeda motor mereka bocor, atau kendaraan mogok tiba-tiba. Agar tidak mengecewakan konsumen, Giyanto juga selalu siap dengan berbagai kemungkinan. Misalnya saja ban yang bocor sudah tidak memungkinkan untuk ditambal, maka ia sudah menyiapkan juga ban baru berbagai ukuran dan merek. Biasanya merek ban yang ia bawa tetap yang bagus. Demikian juga untuk kasus sepeda motor mogok tiba-tiba, dia selalu membawa cadangan busi, dan bahkan sambungan rantai pun dia selalu punya persediaan.

Bahkan, apabila sudah diperbaiki dan ternyata kehabisan bensin, Giyanto dengan senang hati memberikan sedikit bahan bakar yang ia ambil dari tangki sepeda motor tuanya.

“Untuk bensin biasanya saya kasih gratis, Mas. Tapi ya sekiranya cukup sampai konsumen bisa membeli sendiri entah di SPBU atau di pedagang bensin eceran. Saya kan hafal di mana saja ada yang jualan bensin. Jadi memang tanki bensin motor saya selalu penuh setiap saya mulai berkeliling. Hehe. Untuk ban, karena kasusnya jarang yang tidak bisa ditambal, ibaratnya modal saya sebenarnya mandek di situ, Mas. Ada yang setahun juga belum laku. Tapi ya tidak masalah. ,” katanya tertawa.

Tarif Murah

Sebagai penjual jasa dengan sistem jemput bola, Giyanto sebenarnya bisa saja mematok tarif yang lebih mahal. Tapi kakek dari dua cucu ini, ternyata tidak melakukannya. Ia lebih memilih memasang tarif wajar dan bahkan sedikit lebih terjangkau, ketimbang penjual jasa sejenis yang menetap atau tidak berkeliling.

Jasa tambal ban misalnya, ia hanya memungut Rp 10 ribu rupiah setiap satu tambalan. Artinya, kalau yang bocor sampai 2 titik, maka ia meminta Rp 20 ribu.

“Tapi itu tarif di radius sekitar 1 hingga 2 kilometer dari sekitar Pasar Sleman. Kalau sampai Jombor, saya biasanya minta 20 ribu. Kalau di sekitar Mlati 15 ribu. Pada intinya, tarif tambal ban tetap 10 ribu. Sisanya itu sebagai pengganti ongkos bensin saya. Semua jenis ban termasuk ban tubles saya bisa mengerjakan. Untuk service ringan, juga hanya 15 ribu di luar spare part. Demikian juga untuk memperbaiki rantai yang putus,” kata Giyanto.

Tarif murah, bagi Giyanto bukan alasan untuk mengerjakan pesanan ala kadarnya. Dia sadar betul, kelangsungan usahanya ini sangat bergantung dari kualitas hasil kerjanya. Apalagi ia menerapkan sistem online atau panggilan. Kalau sampai konsumennya kapok, sangat mungkin mereka tidak akan meminta bantuannya lagi ke depannya.

“Saya membakarnya menggunakan spiritus, jadinya apinya biru dan sangat panas. Sejauh ini, koq gak ada yang komplain. Kalau manggil lagi malah sering,” ujarnya.

Hal ini diakui Ny Agus, warga Sleman. Ny Agus mengaku setidaknya sudah 4 hingga 5 kali ini meminta jasa Giyanto. Seringnya adalah karena ban motornya kempes.

“Saya biasa WA saja. Atau kalau tidak segera dijawab biasanya saya telepon. Sudah nanti tahu-tahu Pak Giyanto datang ke rumah. Bagi saya ini lebih praktis Mas, ketimbang saya menuntun atau mendorong sepeda motor keluar kampung mencari tukang tambal ban yang sekarang juga mulai langka. Berat lho Mas menuntun motor matic itu,” katanya memberi kesaksian.

Lima tahun menekuni profesi ini, bukan tanpa risiko. Giyanto mengaku pernah beberapa kali kecele, lantaran pemesan atau yang meminta bantuannya tiba-tiba membatalkan pesanannya. Kebanyakan mereka beralasan menunggu Giyanto kelamaan.

Tapi risiko ini tak membuatnya patah arang. Giyanto tetap saja tekun dengan pekerjaannya ini. Batal satu konsumen, baginya awal untuk datangnya konsumen yang lebih banyak.

“Anggap saja belum rezeki saya Mas. Saya kan ngak bisa menyalahkan konsumen, meskipun saat dibatalkan itu kadang saya sudah di perjalanan menuju lokasi konsumen,” ungkapnya datar. (*)


TAGS: jombor  sleman 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini