Kamis, 29 Jul 2021,


normalisasi-ibadah-berjamaah-kerinduan-yang-mengundang-ancamanSholat berjamaah di sebuah masjid di Yogyakarta. (istimewa)


Warjono
Normalisasi Ibadah Berjamaah, Kerinduan Yang Mengundang Ancaman

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Raut muka Yatno (54), warga di sebuah kampung di Yogyakarta ini, sumringah. Masjid di kampungnya memutuskan mulai menggelar kembali karpet di masjid, dan melonggarkan warga yang ingin sholat fardhu berjamaah. Sebelum membuka tumpukan karpet, takmir bersama warga bergotong royong bahu membahu membersihkan areal masjid. Lantai dan tembok dinding, soko atau tiang, hingga pintu, jendela dan peralatan sound system, semua dibersihkan.


Lantai masjid bukan sekadar dipel, tapi juga disemprot dengan desinfektan. Begitu juga lantai di serambi, hingga halaman dan lingkungan kamar mandi serta tempat berwudhu. Sebelum digelar, karpet juga dicuci bersih.


“Rasanya seperti mau punya hajat besar. Seperti saat menyambut datangnya Ramadan. Semua dibersihkan. Kami sangat bersemangat. Kami rindu dengan suasana kehidupan masjid yang makmur. Terutama saat tiba jadwal sholat fardhu,” kata Yatno, dalam sebuah kesempatan bertemu dengan jurnalis koranbernas.id.

Warga, tidak terkecuali Yatno, mengaku begitu rindu dengan suasana masjid seperti sebelum pandemi datang. Masjid di kampungnya selalu semarak, selalu makmur dengan kegiatan kerohanian. Bahkan masjid ini juga makmur dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan umat. Terlebih lokasinya yang begitu strategis, sehingga masjid ini juga menjadi jujugan bagi siapapun untuk singgah sebentar menunaikan ibadah, sekaligus sejenak melepas penat di tengah hiruk pikuk kehidupan kota.


Namun suasana itu seketika berubah sejak setahun silam. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Yogyakarta, mengharuskan semua pihak membatasi diri. Warga, tak terkecuali jamaah masjid, harus rela menjalankan ibadahnya dengan pembatasan-pembatasan yang sesungguhnya membelenggu rasa. Sholat berjamaah harus dilakukan dengan menjarangkan shaf. Semua harus mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dicek suhu badan sebelum masuk masjid dan lain sebagainya.

“Tapi yang paling prihatin, ya sholat harus melonggarkan shaf itu. Semua harus mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga jarak bahkan saat sholat, guna mencegah penularan Covid-19. Kapasitas masjid ditentukan maksimal 50 persen,” terangnya.

Maka tak heran, begitu takmir memutuskan menormalisasi kegiatan beribadahan di masjid, warga sangat antusias. Yatno yang sejatinya juga paham dengan kondisi pandemi pun, merasa punya cukup modal untuk mewujudkan kehidupan masjid seperti dulu.
 

“Persiapan masjid cukup matang. Semua sudah paham dengan pandemi dan protokol kesehatan. Kami juga sudah melakukan ujicoba selama sebulan saat Ramadan lalu. Alhamdulillah semua aman, tidak ada yang terganggu kesehatan dan dinyatakan positif lantaran aktif di masjid. Jadi Insha Allah semoga semua juga aman, meski kami sekarang mulai berkegiatan normal 100 persen di masjid seperti dulu. Tentu protokol kesehatan tetap kami lakukan, yakni mengenakan masker, mencuci tangan, cek suhu badan dan lain sebagainya. Hanya shaf yang kami rapatkan dan normal seperti dulu,” dalih Yatno yang juga pengurus kampung di wilayahnya.

Di DIY, masjid yang menerapkan peribadahan normal bukan hanya di kampung Yatno. Menurut data pada Seksi Kemasjidan Bidang Urais dan Binsyar Kanwil Kemenag DIY, ada sejumlah masjid lain yang juga menerapkan kebijakan serupa. Menurut Yosef Muniri selaku kasi, ada sejumlah masjid yang dengan berbagai alasan memilih tetap melaksanakan ibadah seperti semula. Terutama dalam hal kuota atau jumlah jamaah yang boleh masuk masjid dan sholat berjamaah.

Ada di antara mereka yang tidak mempercayai adanya wabah, dan menuding kondisi ini sebagai bagian dari skenario untuk “mengganggu” ibadah umat Muslim. Ada juga yang menganggap bahwa kondisi saat ini sudah lebih aman sehingga tidak masalah mulai menormalisasi kegiatan masjid.

Dihubungi via telepon, Yosef Muniri, mengatakan sesungguhnya hingga saat ini kebijakan dari Kementerian Agama masih sama dengan kebijakan pemerintah melalui Satgas Covid-19. Melalui surat edaran tertanggal 4 Februari 2021, Kantor Kemenag DIY mendorong seluruh takmir masjid dan mushala di DIY agar patuh dengan kebijakan pemerintah terkait Covid-19, yakni mematuhi protokol kesehatan dengan membudayakan gerakan 5M. Mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, memakai masker serta membatasi mobilisasi dan interaksi warga.

Untuk mewujudkan prokes, maka proses peribadahan di masjid maksimal hanya boleh diikuti oleh 50 persen jamaah dari kapasitas penuh. Artinya, apabila sebuah masjid atau mushola maksimal bisa menampung 100 jamaah, maka selama masa pandemi hanya boleh menampung maksimal 50 jamaah.

“Itu pun tidak semua masjid dan mushola. Hanya boleh untuk masjid yang berada di wilayah yang dikategorikan zona hijau dan kuning Covid-19. Untuk masjid yang berlokasi di zona orange, apalagi merah, maka semua proses peribadahan kami imbau dilakukan di rumah masing-masing,” jelasnya.

Kemenag, kata Yosef, juga terus melakukan sosialisasi dan menyampaikan imbauan-imbauan agar masyarakat dan juga pengurus takmir masjid dan mushola ikut berperan aktif dalam mengatasi pandemi serta berupaya secepatnya mengakhiri pandemi. Dengan cara ini, umat Islam diharapkan mampu menjadi tauladan atau contoh yang baik menjalani kehidupan di tengah pandemi.

Yosef Muniri mengungkapkan, terhadap takmir masjid dan mushola yang tidak menjalankan protokol kesehatan dan arahan dari Satgas Covid-19, pihaknya memang tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi. Kemenag hanya mampu terus menyampaikan imbauan dan berkoordinasi dengan satgas untuk pemantauan lebih jauh.

“Kalau sejauh ini, informasi yang masuk ke kami dan kemudian kita teruskan ke Satgas serta pihak terkait lainnya, ada delapan lokasi. Kami juga mengerti dan memahami, sutuasi seperti ini sangat tidak nyaman. Sangat tidak mendukung untuk kenyamanan kita beribadah. Apalagi ini sudah berlangsung lebih dari setahun, dan kasusnya masih fluktuatif. Tapi agama pun mengajarkan ke kita untuk mengutamakan keselamatan jiwa. Keputusan dari pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan pun sudah diamini oleh saudara-saudara kita ormas-ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah. Jadi mestinya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak patuh, demi keselamatan jiwa dan segera hilangnya wabah dari negeri ini,” pungkas Yosef Muniri. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini