Jumat, 01 Jul 2022,


ngawi-kota-kecil-yang-menyimpan-peradaban-besarKunjungan DPRD DIY ke  rumah kediaman Ketua BPUPKI dr KRT Radjiman Wedyodiningrat di Walikukun Ngawi. (istimewa)


Siaran Pers
Ngawi Kota Kecil yang Menyimpan Peradaban Besar

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Wilayah Kabupaten Ngawi Jawa Timur (Jatim) yang berbatasan dengan Jawa Tengah menyimpan banyak potensi yang layak untuk diangkat. Dari catatan sejarah, kota kecil yang berpusat tidak jauh dari titik pertemuan (tempuran) dua bengawan besar yaitu Bengawan Solo dan Madiun itu, eksistensinya tidak lepas dari dua peradaban besar yaitu Majapahit dan Mataram.


Hingga sekarang sisa-sisa peninggalan peradaban tersebut sebagian tetap terawat, sebagian lagi mungkin masih tersembunyi di dalam tanah atau bahkan tidak terlihat secara kasat mata kecuali dengan mata batin. “Orang awam tidak bisa lihat. Yang bisa melihat bupati,” ujar Ony Anwar Harsono, Bupati Ngawi, Jumat (14/1/2022).


Sambil bercanda saat menerima kunjungan Forum Wartawan Unit DPRD DIY bersama Komisi A DPRD DIY serta Sekretariat DPRD DIY di kantor bupati setempat, Ony menjelaskan situs yang dia maksudkan adalah Alas Ketonggo di Srigati Babadan Kecamatan Paron, sekitar 15 kilometer dari pusat kota.

Kawasan hutan itu konon merupakan peninggalan Brawijaya V, hingga kini ramai pengunjung terutama saat bulan Muharram. “Setiap Sura hutan itu kayak pasar malam. Se-Indonesia bisa kumpul jadi satu. Dari Malaysia dan Brunei ada yang rutin datang,” ucap Ony, alumnus UII Yogyakarta itu.


Bukan rahasia lagi hampir semua wilayah kecamatan di Kabupaten Ngawi rata-rata memiliki peninggalan bersejarah. Pada beberapa desa di Kecamatan Paron, dahulu, tidak sedikit warga secara tidak sengaja saat menggali tanah untuk membuat kolam ikan, menemukan benda-benda peninggalan masa lalu. Entah itu berupa potongan mata tombak, pecahan keramik China, gerabah berukuran besar, perhiasan berupa manik-manik atau emas maupun satu-dua bekas makam kuno yang tidak membujur arah utara-selatan.

Kabupaten seluas 128 ribu km persegi berpenduduk 920 ribu jiwa dan 70 persennya petani itu tercatat memiliki situs dan benda cagar budaya cukup banyak sekitar 263. Satu yang paling fenomenal dan berkelas dunia adalah  Situs Trinil.

Menurut Ony Anwar Harsono, Pemkab Ngawi berkomitmen untuk melestarikan situs-situs tersebut. Ini penting untuk memberikan pengalaman kepada anak cucu kelak, sehingga sejarah bangsa tidak hilang. Dengan kata lain, ada monumen yang bisa diceritakan pada generasi penerus.

Realita

Sejarah memang kadang-kadang melompati realita. Meski secara geografis Ngawi lebih dekat dengan Keraton Surakarta namun faktanya secara psikologis lebih dekat dengan Keraton Yogyakarta.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko maupun Ketua DPRD Ngawi Heru Kusnindar mengakui Ngawi dan Mataram memiliki kedekatan karena adanya Piagam Sri Sultan Hamengku Buwono tahun 1828. Ngawi ditetapkan sebagai daerah palungguh Bupati Wedana Manca Negara Wetan.

“Banyaknya situs bersejarah sekaligus menjawab bahwa Ngawi terlahir dari berkah Mataram dan Prasasti Canggu Majapahit. Ngawi berada di antara kerajaan-kerajaan besar. Barangkali ada potensi budaya dan teknologi yang bisa digali,” sambung Dwi Rianto Jatmiko.

Saat ini pemerintah pusat juga sedang merestorasi Benteng Van Den Bosch atau Benteng Pendhem untuk dikembalikan ke bentuk asalnya. Benteng yang dibangun Belanda di dekat tempuran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun itu diperbaiki dengan dukungan dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebesar Rp 170 miliar.

Mereka berharap usai pertemuan dengan DPRD DIY membahas peran pemerintah daerah dalam rangka pembangunan situ-situs bersejarah kali ini, Pemkab Ngawi bisa membangun kerja sama secara lebih detail dengan DIY.

“Mudah-mudahan sinergi bisa terus terjalin antara DIY dengan Ngawi. Saya yakin pengusaha pariwisata di Yogyakarta sangat banyak, bisa seiring sejalan dan wisata Ngawi bisa berkembang,” kata bupati.

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto didampingi wakilnya Suwardi dan sekretaris Retno Sudiyanti juga berharap ke depan terjalin kerja sama antara DIY dan Ngawi dengan dukungan DPRD sebagai upaya bersama untuk mengembangkan destinasi wisata sejarah di kedua daerah.

Kerja sama bisa meliputi riset pariwisata dan budaya mengingat di Yogyakarta banyak terdapat perguruan tinggi sedangkan Ngawi banyak memiliki situs bersejarah. “Kita tunggu jajaran Pemkab Ngawi untuk tindak ke Yogyakarta,” kata Eko.

Satu rangkaian dengan kunjungan kali ini, rombongan DPRD mengunjungi rumah kediaman dr KRT Radjiman Wedyodiningrat, Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Rumah tersebut saat ini dijadikan museum. (*)


TAGS: Ngawi  Jatim 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini