atas

Merugi, Pasar Desa Dikelola Desa

Jumat, 12 Apr 2019 | 21:41:29 WIB, Dilihat 219 Kali - Oleh Masal Gurusinga

SHARE


Merugi, Pasar Desa Dikelola Desa Pasar Cokro Kembang di Desa Daleman, Kecamatan Tulung. Pasar-pasar desa akan dikelola desa. (masal gurusinga/koranbernas.id)

Baca Juga : Persiapan Pemilu Sudah Final


KORANBERNAS.ID -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten berharap seluruh pasar milik desa akan diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah desa pada tahun ini. Itu dilakukan sebagai implementasi amanah Undang-Undang Pemerintah Desa.

Selain itu, karena pasar desa di Kabupaten Klaten cukup banyak jumlahnya sehingga membuat jajaran Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disdagkop UKM) merasa kerepotan mengelola pasar yang ada.

"Di Klaten ada pasar desa dan pasar pemda. Jumlahnya cukup banyak dan seluruhnya di kelola pemda. Di daerah lain di wilayah Solo Raya hanya Klaten saja yang masih mengelola pasar desa. Sementara daerah lain pasar desanya sudah dikelola desa," kata Kepala Disdagkop UKM Klaten, Bambang Sigit Sinugroho, Jumat (12/4/2019).

Mantan Kepala Bappeda itu mempertanyakan mengapa Penkab Klaten tidak dari dulu menyerahkan pengelolaan pasar desa ke pemerintah desa. Padahal Undang-Undang Pemerintah Desa sudah lama diundangkan.

Dia mengakui ada konsekuensi bagi pemkab jika pasar desa itu diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah desa. Konsekuensi itu yakni berkurangnya pendapatan dari retribusi pasar. Meski akan terjadi penurunan pendapatan namun tidak menjadi masalah karena bisa ditutup dari pasar lain.

Selain itu kata dia, Pemkab Klaten menderita rugi saat mengelola pasar desa. Sebab mengelola pasar butuh anggaran yang tidak sedikit.

"Setelah nanti pasar desa diserahkan kepada pemerintah desa ya monggo yang mengelola siapa. Apakah BUMDes atau pemerintah desa. Kalau besok sudah diserahkan ke desa maka yang membina adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Permasdes). Makanya dalam waktu dekat ini kami akan berkoordinasi dengan Dinas Permasdes," ujar Bambang Sigit.

Di tempat terpisah Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disdagkop dan UKM Didik Sudiarto mengatakan sebelum pasar desa diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah desa harus dicermati apakah pemerintah desa itu nanti benar-benar mampu mengelola atau bagaimana. Sebab mengelola pasar bukanlah pekerjaan mudah.

"Sebenarnya beberapa tahun lalu sudah ada desa yang mengajukan permohonan untuk mengelola pasar. Tapi tidak terealisasi. Kalau pemkab monggo saja karena sebenarnya kalau dihitung-hitung ya rugi mengelola pasar desa," terang Didik.

Dia mencontohkan Pasar Cokro Kembang di Desa Daleman Kecamatan Tulung. Pasar itu dibangun diatas tanah kas desa pada tahun 2011 oleh Kementerian Perdagangan dan menjadi pasar percontohan nasional. Namun dalam perjalanannya kondisi pasar hanya ramai pada saat pasaran Legi dan Pon saja. Sementara hari lainnya sepi dan nyaris tidak ada pedagang yang berjualan.

Kondisi itu tentu mengundang keprihatinan banyak pihak. Sebab pasar sebesar itu butuh biaya operasional yang tidak sedikit untuk membayar karyawan, keamanan, listrik, air bersih dan lain sebagainya. Sementara pendapatan dari retribusi tidak bisa menutup biaya operasional pasar.

Saat ini jumlah pasar desa di Kabupaten Klaten ada 40 unit. Dari jumlah itu 35 pasar masih beroperasi, 4 pasar lainnya sudah mati dan 1 lainnya milik perorangan karena berlokasi di pekarangan warga. Sedangkan pasar milik pemkab ada 50 unit namun ada yang sudah mati seperti di Desa Tulung Kecamatan Tulung dan Pasar Logede yang kini ditanami pohon sengon.

Didik memandang perlu mengundang seluruh pemerintah desa dalam waktu dekat yang wilayahnya memiliki pasar desa. Itu dilakukan untuk sosialisasi dan mengetahui kesiapan pemerintah desa dalam mengelola pasar desa setelah penyerahan dari pemkab. (yve)



Jumat, 12 Apr 2019, 21:41:29 WIB Oleh : Sari Wijaya 364 View
Persiapan Pemilu Sudah Final
Jumat, 12 Apr 2019, 21:41:29 WIB Oleh : Nila Jalasutra 220 View
Berkat Kartini, Anak-Anak Ini Dapat Bantuan
Jumat, 12 Apr 2019, 21:41:29 WIB Oleh : Nila Jalasutra 175 View
Sekolah Ini Siap Hadapi Bencana

Tuliskan Komentar