Kamis, 21 Okt 2021,


mereka-petarung-hanya-butuh-ruang-dan-kesempatan-berusahaSujarwo (kanan) mendampingi Desio Hartonowati (kedua dari kanan) ketika berbincang santai dengan sejumlah wartawan. (putut wiryawan/koranbernas.id)


Putut Wiryawan
Mereka Petarung, hanya Butuh Ruang dan Kesempatan Berusaha..

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Dua lelaki muda, sambil menenteng dos bakpia, berhenti di depan gerbang Kepatihan sisi barat. Mereka rupanya sedang menunggu dua teman sejalan yang agak tertinggal di belakang. Empat orang muda itu kemudian menuju warung “Lesehan Borobudur” yang terletak di selatan pintu gerbang Kepatihan, timur jalan.


Warung lesehan itu memang nampak bersih. Alas tempat duduk yang terbuat dari vinyl hitam membalut spon tipis, terasa cukup empuk untuk diduduki. Ada empat deret meja panjang di trotoar yang menjadi lapak usaha. Silih berganti wisatawan datang dan pergi menikmati kuliner malam di tempat itu. Dua pengamen yang duduk di bangku kayu depan warung, berbekal gitar, menambah suasana Senin (11/10/2021) malam itu semakin hidup. Sekalipun tanpa penguat suara, lantunan lagu-lagu pop tempoe doeloe cukup keras terdengar di telinga mereka yang duduk lesehan sambil menikmati makan malam.


Malam itu, di tempat yang sama, berlangsung bincang santai bertajuk “Pulihkan Pariwisata Jogja”. Sejumlah wartawan diundang untuk ngobrol santai bersama Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro Sujarwo dan pemilik Lesehan Borobudur Desio Hartonowati yang juga Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro. Acara ini didukung lembaga konsultan marketing Cornellia & Co.

Kawasan Malioboro memang mulai menggeliat lagi. Roda ekonomi sekalipun masih tersendat, tetapi dapat berputar. Kawasan yang menjadi ikon Kota Wisata Yogyakarta ini, memang menjadi tumpuan banyak orang. Terutama para pedagang kaki lima.


Sejak pandemi Covid-19 menerjang bulan Maret 2020, para pahlawan keluarga itu tersungkur. Setidaknya, sudah dua kali mereka dihantam badai. Kapal kecil yang mereka nahkodai terombang-ambing tak tentu arah. Tabungan amblas, aset terjual demi untuk bertahan hidup bersama keluarga.

“Sejak pandemi datang, tahun lalu ada enam bulan mereka tak mendapat penghasilan. Dan tahun ini, sejak pemerintah menerapkan PPKM, Yogya termasuk daerah penularan yang parah. Dengan label PPKM Level 4, pedagang seperti kena jotos yang kedua. Ambruk,” tutur Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo.

Dua kali badai yang menghantam itu memang berbeda. Tahun lalu, terang Sujarwo, pemerintah memang tidak melarang pedagang berjualan. Namun, masyarakat ketakutan keluar rumah. Tak ada orang datang ke Malioboro. Akibatnya, pedagang juga gigit jari karena tidak ada pembeli.

Menjelang akhir tahun 2020, menurut Mas Jarwo, panggilan akrab Sujarwo, situasi memang berubah. Masyarakat sudah mulai berani keluar rumah. Wisatawan mulai berdatangan ke Yogyakarta. Pedagang kaki lima, termasuk kuliner mulai bisa bernafas. Namun, seiring aktivitas ekonomi itu, serangan virus corona di Yogyakarta menghebat. Banyak korban berjatuhan. Dan ketika pemerintah mengambil keputusan menerapkan PPKM, pedagang kawasan Malioboro terhempas.

“Mereka itu sebenarnya bermental petarung. Wirausahawan yang tahan banting. Karena itu, untuk bangkit lagi sekarang, banyak di antara mereka yang terpaksa berhubungan dengan bank plecit. Memang tidak ada pilihan. Mereka harus bertahan hidup dan melanjutkan usaha,” kata Mas Jarwo yang sejak lama mendampingi 14 paguyuban di kawasan Malioboro.

“Saya sekarang lebih banyak mendampingi paguyuban pedagang lesehan. Paguyuban-paguyuban yang lain, kelihatannya sudah bisa mandiri. Mereka relatif tidak lagi memerlukan pendampingan,” tambah Sujarwo.

Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro Desio Hartonowati mengatakan, penurunan level PPKM, dari 4 menjadi 3, menjadi harapan baru bagi para pedagang. “Kami berharap, pemerintah benar-benar menolong kami dengan memberi kelonggaran buat kami untuk berusaha,” pinta Desio.

Ia menambahkan, jumlah pedagang lesehan yang menjadi anggota paguyuban ada 40 orang. Di luar itu masih banyak pedagang lesehan lain yang tidak bergabung ke paguyuban. Kami semua, kata Desio, butuh hidup.

Desio mengisahkan, saat ini kawasan Malioboro hanya ramai pada akhir pekan. Pedagang lesehan cukup kelarisan pada akhir pekan. Tetapi, pada hari-hari biasa situasi belum menggembirakan. Masih sepi.

Desio menunjuk contoh, saat ini ketika jalan sepanjang kawasan Malioboro ditutup untuk kendaraan bermotor, wisatawan enggan datang menikmati lesehan Malioboro. “Mungkin karena parkirnya kejauhan, ya...,” kata Desio yang membuka usaha warung lesehan sejak tahun 1990-an.

Menurut Sujarwo, menghidupkan kembali kawasan Malioboro sangat penting. Ia memberi ilustrasi, para pedagang angkringan yang ada di kawasan Malioboro, sebenarnya mengandalkan rezeki dari pelayan toko, pedagang lapak yang memesan minum dan makanan ke mereka. Para konsumen itu, memesan minum pagi atau siang. Membayarnya sore atau malam setelah mereka memiliki uang hasil berjualan.

“Ada mata rantai kehidupan di kawasan Malioboro yang harus diselamatkan. Dan yang mereka butuhkan hanya ruang dan kesempatan berusaha. Dua hal itu, bagi mereka sangat berharga,” kata Mas Jarwo yang mengaku sudah beberapa kali berkirim surat ke Gubernur DIY dan Walikota Yogyakarta meminta kebijakan. (*)


TAGS: Malioboro  lesehan 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini