atas1

Menikmati Eksotisme Puncak Becici

Jumat, 28 Des 2018 | 10:07:58 WIB, Dilihat 708 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Menikmati Eksotisme Puncak Becici Pengunjung Puncak Becici. Meski salah seorang menggunakan alat bantu jalan berupa kruk tak menyurutkan semangat sampai ke sana. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Daya Tarik Dieng Tak Pernah Pudar


KORANBERNAS.ID – Puncak Becici belakangan ini menjadi tujuan wisata yang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, pada hari libur, mencari tempat parkir mobil atau bus wisata pun sulit sebagaimana ketika KoranBernas berkunjung ke sana, Minggu (02/12) lalu.

Apa yang menarik di bukit Becici itu? Sejuk dan bersihnya udara di bawah ribuan pohon pinus yang menjulang tinggi itu rupanya yang banyak diburu wisatawan. Warga yang tinggal di perkotaan yang setiap hari terpapar polusi udara akibat zat buang mobil dan motor yang tak terhitung jumlahnya, sesekali butuh “menguras” paru-parunya.

Geowisata Puncak Becici terletak di Dusun Gunung Cilik, Desa Gunung Munthuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul bagian timur. Namun banyak orang mengira itu bagian dari wilayah Kabupaten Gunungkidul yang juga tengah sibuk membangun sektor wisata. Karena untuk mencapainya, kendaraan harus merayap melintasi perbukitan Patuk Gunungkidul.

Meski daerahnya berlereng dan jalanan naik menuju puncak, ternyata objek wisata ini juga menarik wisatawan yang terpaksa menggunakan alat bantu jalan berupa kruk. Datang dalam sebuah rombongan, pria berkruk tadi beberapa kali mendongakkan kepala sambil menarik nafas mengambil udara segar.

Banyak rombongan dari luar kota. Dari kawasan Solo Baru ada 100 orang datang ke sana menggunakan dua bus. Tergabung dalam Paguyuban Prasojo Guyub Rukun Saklawase dibawah pimpinan Sugeng Prasojo, warga Kelurahan Gedangan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo itu datang lengkap dengan logistik.

Nasi oseng-oseng plus lauk gorengan dibagikan dalam pincuk. Dinikmati dalam kebersamaan, kata Madi dan Hari, dua peserta rombongan itu, makan menjadi lebih nikmat. Meski masuk Kabupaten Sukoharjo namun lebih dikenal dengan Solo Baru karena permukiman itu ada di seberang RS Dr Oen, Solo Baru. Ini merupakan program tahunan bagi paguyuban tersebut. "Kami sudah kemana-mana dan tahun ini pilihan jatuh ke Puncak Becici," kata Madi.

Madi mengaku tertarik datang ke Bukit Becici dari internet dan cerita banyak orang. "Bagus. Udara bersih, asri. Juga kawasannya terjaga kebersihannya," kata dia.

Soal kebersihan, memang menjadi komitmen pengelola. Menurut Basri (67), salah seorang petugas kebersihan yang hari itu bertugas di sekitar Pendapa yang dipakai BKKBN DIY dalam rangka syukuran keberhasilan Survai Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) nomor satu se-Indonesia, ada sepuluh tenaga kebersihan yang terus berkeliling sepanjang hari memunguti sampah di areal tanggung jawabnya masing-masing. Kebersihan kamar kecil dan mushala pun juga terjaga.

Sore itu datang juga rombongan dari Kecamatan Pringapus Semarang. Ibu-ibu kelompok senam lansia itu datang siang hari karena berkunjung ke Tebing Breksi terlebih dahulu. "Bagus, nyaman dan bersih. Segarnya udara ini lho," kata Ny Rini, salah seorang di antaranya. Berseragam baru, rombongan berjumlah 50 orang ini memilih Puncak Becici karena objek-objek wisata lain sudah sering dikunjungi.

Rombongan wisatawan dari Kelurahan, Gedangan Kecamatan Grogol, Sukoharjo. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dikelola Masyarakat

Puncak Becici hingga kini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Keberadaannya mampu mengangkat perekonomian warga. Warung-warung minuman, makanan, cenderamata dan lain-lain memberikan tambahan pendapatan. Pemasaran hasil pertanian mendapatkan nilai tambah. Pete yang sedang musim bergantungan di warung-warung menuju objek wisata.

Bahkan ada warga yang menjadikan rumahnya sebagai home stay. Menyediakan penginapan bagi wisatawan yang ingin menikmati indahnya malam di perbukitan sekaligus menyongsong munculnya matahari pagi berwarna kemerahan.

Mencapai Puncak Becici, wisatawan akan menyaksikan pemandangan menakjubkan. Hamparan Kota Yogyakarta, Imogiri dan sebagian wilayah Bantul, Sleman, dan Gunungkidul. Bahkan ke arah Candi Borobudur di Magelang, Candi Prambanan di Sleman. Menyaksikan Bandara Adisutjipto dan lain-lain.

Di dekat Puncak Becici banyak objek wisata lain. Seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Pangger, Watu Mabur, Watu Lawang, Sangga Langit dan beberapa lagi sehingga bisa menjadi sebuah paket wisata. Di kawasan Puncak Becici pohon pinusnya juga masih disadap getahnya sehingga bisa menjadi atraksi bagi yang belum pernah melihatnya.

Suasana terasa lebih eksotis ketika sinar mentari timbul tenggelam pada awal musim hujan ini. Setelah mentari condong ke barat, muncul kinjeng khas pegunungan. Ngoweng ngoweng ngoweng, suaranya bergema, memantul dinding bukit dan menebar ke seluruh kawasan perbukitan Puncak Becici. Seakan mengundang siapa pun, suatu saat datang kesana untuk menikmati segarnya udara sambil memandang ribuan pohon pinus tinggi menjulang. (sol)

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 19 Desember 2018.



Jumat, 28 Des 2018, 10:07:58 WIB Oleh : Sholihul Hadi 750 View
Daya Tarik Dieng Tak Pernah Pudar
Kamis, 27 Des 2018, 10:07:58 WIB Oleh : Sholihul Hadi 677 View
ACT Kirim Logistik untuk Pengungsi Tsunami Selat Sunda
Kamis, 27 Des 2018, 10:07:58 WIB Oleh : Endri Yarsana 581 View
Saat Siswi Wawancarai Anggota DPD RI

Tuliskan Komentar