Minggu, 11 Apr 2021,


mengapa-tidak-pindah-dari-daerah-banjirKompleks Perumahan de Paris, Bogor, sekitar 1500 unit KPR bekerja sama dengan PT Bank BTN (Tbk) Persero, yang dibangun pertengahan tahun 2020 habis terjual. (istimewa).


Arie Giyarto
Mengapa tidak Pindah dari Daerah Banjir?
Membangun Mimpi di Rumah KPR (Bagian I)
SHARE

BENCANA alam melanda banyak daerah di Indonesia belakangan ini. Banjir di mana-mana, tanah longsor, jalan ambles, tanah bergerak. Bukan hanya membawa korban harta benda tidak sedikit. Karena di berbagai wilayah, banjir merobohkan jembatan besar maupun kecil, jalan terputus, rumah penduduk dan fasilitas unum lainnya rusak. Tidak hanya itu, tetapi juga membawa korban nyawa. Jika diakumulasikan, jumlahnya banyak dan tidak bisa dinilai dengan harta.


Di beberapa daerah, banjir merupakan banjir tahunan. Selalu muncul setiap musim hujan tiba. Besar kecil banjir maupun korban atau kerugian tergantung besar kecilnya banjir melanda. Dari berbagai peristiwa yang ditayangkan stasiun-stasiun televisi nasional, menggugah rasa simpati, empati dan keprihatinan mendalam. Menariknya, di beberapa tempat di Jakarta, Bekasi dan Bandung misalnya, ada yang merupakan banjir tahunan. Nampaknya warga yang terdampak banjir "menikmati" saja musibah itu. Dievakuasi oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tim SAR atau relawan lainnya, mereka nampak biasa saja. Dengan perahu karet diangkut ke tempat pengungsian, atau ada yang memilih mengungsi di rumah saudara, kalau punya.


Hidup di pengungsian, bagaimanapun pasti tidak nyaman. Selain tidur secara massal, juga fasilitas pendukung seperti MCK amat sangat terbatas. Privasi jadi nomor sekian. Masalah logistik memang ada suplai dari berbagai pihak. Namun air bersih biasanya sangat kurang. Air luapan dari berbagai sungai pasti kotor dan menimbulkan dampak kesehatan. Gatal-gatal biasanya melanda pengungsi.

Kalau banjir sudah surut, kerja berat harus dihadapi yakni membersihkan lumpur dari rumah. Apalagi kalau mereka yang tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Juga pasti dihadapkan pada bau tidak sedap yang baru hilang beberapa hari. Itu pun kalau cuaca terang, matahari bersinar. Meskipun dari berita, kebanyakan rumah mereka dua lantai. Selain untuk menyelamatkan barang-barang, juga untuk tempat menyelamatkan diri sementara kondisi banjir masih memungkinkan untuk itu. Tapi kalau banjir datang tiba-tiba, malam hari lagi, saat warga tidur lelap, besar lagi, apa yang bisa dilakukan?


Di mata orang awam, muncul pertanyaan. Mengapa mereka tidak pindah saja dari tempat itu? Jawabnya pasti tak semudah orang bertanya. Ke mana akan pindah? Rumah lain mereka tidak punya. Masalah tempat tinggal di kota-kota besar bukan masalah sederhana. Boleh dibilang mereka merupakan "orang-orang kepepet".





Sebelum digunakan untuk perumahan KPR, lahan harus dipadatkan agar aman untuk bangunan rumah. (istimewa).

Persoalannya jadi lebih pelik. Pindah ke rumah susun (rusun) jika pemerintah setempat menyediakan? Tinggal di rumah susun perlu adaptasi bagi keluarga yang terbiasa tinggal di rumah landai. Jatah kamar yang sangat terbatas menjadi problem, apalagi bagi keluarga dengan tiga anak atau lebih yang sudah menginjak dewasa. Itu pun tidak semua pemerintah daerah menyiapkan rusun untuk merelokasi warga yang terdampak banjir. Juga tidak gratis sama sekali. Selain harus mempersiapkan mental hidup bersosialisasi di rusun.

Rumah KPR

Bukan jalan buntu sebenarnya apabila warga mau berpikir mengambil rumah Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Banyak bank yang menyediakan fasilitas KPR. Namun PT Bank Tabungan Negara (BTN) Persero Tbk merupakan bank pertama yang memberikan KPR. Pengalaman yang begitu panjang menjadikan BTN mampu memberikan rasa aman bagi nasabahnya.

Tinggal di perumahan KPR, secara teori dan teknis aman dari banjir. Karena site plan-nya tergarap dengan matang. Untuk memberikan rekomendasi bagi calon pengembang, melibatkan berbagai instansi untuk membahasnya. Yakni Dinas Tatakota, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Dinas Permukiman dan Pertamanan. Juga Dinas Perhubungan, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura. Serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Begitu banyak instansi yang terlibat untuk membahas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), demi menjaga agar perumahan yang akan dibangun itu secara teknis betul-betul memenuhi syarat. Baru sesudah semua setuju, maju ke bupati atau walikota untuk mendapatkan izin. Dengan harapan semuanya memenuhi syarat sebagai permukiman aman. Itu memang teori. Kenyataan di lapangan juga masih tergantung jujur tidaknya pengembang menggarap proyek. Tapi setidaknya ada pengawasan dan pengembang tidak ingin dipenalti. Harapannya ke depan tetap akan bisa menggarap proyek lagi.

Permukiman KPR juga dilengkapi fasilitas umum seperti ruang terbuka untuk taman, juga tempat ibadah bahkan ada yang menyediakan sekolah. Ada ketentuannya, fasilitas umum apa yang harus disediakan pengembang, biasanya sesuai dengan jumlah hunian. Juga penghijauan lingkungan. Uniknya ada pengembang perumahan KPR memilih aneka tanaman buah-buahan. Tidak sekadar hijau lingkungannya, tetapi buahnya bisa dimanfaatkan penghuni.

Selain keamanan dan kenyamanan kompleks, rumah KPR relatif terjangkau kantong warga berpenghasilan menengah ke bawah. Jangka waktu kredit bisa dipilih sesuai kemampuan. Ada yang jangkanya 20 tahun, 15 tahun, 10 tahun, 5 tahun. Bahkan BTN Tbk memberikan jangka waktu sampai 30 tahun dan paling pendek 3 tahun. Calon konsumen tinggal menakar kemampuan membayar angsurannya. Meski begitu, tak hanya sepihak. Bank teknis harus terpenuhi. Di antaranya kelayakan dan kemampuan membayar angsuran setiap bulannya. Karenanya persyaratan memiliki pekerjaan dengan gaji tetap menjadi syarat utama. Semua melewati proses verifikasi dan validasi oleh bank penyedia dana KPR. Jangan sampai terjadi kredit macet pada kemudian hari.

Bagaimanapun mengambil rumah KPR tak akan rugi. Ari, yang pernah mengambil rumah KPR lewat pengembang Griya Yasa Solo. Dia mengambil tumah KPR dengan angsuran perbulan Rp 300.000,- lebih sedikit untuk jangka 20 tahun. Setelah lunas, dan tahun 2000 an dia pindah tugas ke Jakarta, rumah itu dijual laku Rp 142 juta dengan kondisi setengah rusak akibat tak terurus. Padahal dia sudah cukup lama menempati rumah tersebut, juga menerima uang kontrak hampir setahun setelah dia pindah Jakarta. Secara matematis, dia mendapat untung karena angsuran ditambah provisi serta beberapa pengeluaran lainnya kalau ditotal kurang dari Rp 80 juta. Kurs tupiahnya belum ikut diperhitungkan. Pasti ini sekadar contoh saja. **

(Bersambung).



SHARE

'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini