atas1

Menengok Punden Peninggalan Majapahit di Desa Banyuurip

Jumat, 09 Agu 2019 | 23:21:57 WIB, Dilihat 3407 Kali
Penulis : W Asmani
Redaktur

SHARE


Menengok Punden Peninggalan Majapahit di Desa Banyuurip Masjid peninggalan zaman Majapahit. Anak tangga dibuat tinggi seperti bangunan candi. (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Jelang Idul Adha Gas 3 Kg Dipantau secara Acak


KORANBERNAS.ID -- Kunjungan Bupati Purworejo Agus Bastian ke Desa Banyuurip Kecamatan Banyuurip akhir Juli 2019 memunculkan wacana desa tersebut akan dijadikan desa wisata religi.

Ini sangat masuk akal mengingat di desa itu terdapat Punden Perigi peninggalan zaman Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1325.

Punden Perigi merupakan tempat bertapa Pangeran Jayakusuma. Punden yang kini menjadi situs cagar budaya itu sering didatangi orang-orang yang ingin bertapa atau punya tujuan tertentu.

Tak jauh dari punden tinggal juru kunci. Sumarto namanya. Tamu yang memiliki hajat tertentu biasa menemuinya untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di sebelah utara punden Perigi terdapat Pasar Senin. Inilah salah satu pasar tertua. Sesuai namanya  pasar yang diwariskan turun temurun itu hanya buka hari Senin saja.

Juru kunci punden Perigi berdiri di depan joglo tempat bertapa Pangeran Joyokusuma. (w asmani/koranbernas.id)

Di depan pasar ada bangunan masjid dengan anak tangga tinggi. Konon masjid yang bernama Nurul Huda tersebut dibangun oleh keturunan Nyi Galuhwati yang memeluk agama Islam.

Untuk menghargai agama Hindu, bangunan masjid dibuat tinggi disertai anak tangga agar menyerupai bangunan candi.

Ornamen masjid bernuansa Hindu. Batu yoni turut menghiasi bangunan masjid.

Kepala Desa Banyuurip, Teguh Sutanto, kepada koranbernas.id, Selasa (6/8/2019), mengatakan pihaknya menyambut baik wacana yang digulirkan Bupati Purworejo Agus Bastian.

Tak hanya bangunan punden Perigi, sumur beji dan sumur Pinatak, pasar Senin serta masjid, di lokasi ini juga terdapat gua di pinggir sungai.

Bangunan pasar Senin yang beroperasi tiap hari Senin. (w asmani/koranbernas.id)

Pihak desa semakin kuat keinginannya berupaya mewujudkan Banyuurip sebagai desa wisata religi.

"Kami sedang menyiapkan konsep untuk membangun sarana dan prasarana sesuai dengan RJPDes," terang Teguh.

Pihaknya juga siap mengelola wisata alam karena di desa tersebut ada aliran sungai yang bisa dijadikan outbound. Pemandangannya sangat menarik. Di pinggir sungai ada goa dan prasasti batu yoni.

"Kami bisa membuat normalisasi sungai, bisa menanami buah di pinggiran sungai," bebernya.

Untuk memperkuat image “Banyuurip” rencananya dibangun air mancur.

“Sumber daya manusia (SDM) kami persiapakan dari kader Karang Taruna. Setiap ada pelatihan kami selalu mengikuti,” tambahnya.

Wacana desa wisata religi itu ditargetkan terealisasi lima tahun ke depan.

Menurut Teguh, dimungkinkan penggalian dana untuk pemberdayaan desa, tidak hanya untuk pembuatan jalan tetapi juga kebudayaan.

Papan nama punden Perigi sebagai situs cagar budaya. (w asmani/koranbernas.id)

"Saya akan menggenjot pembuatan sarana dan prasarana," tuturnya. Salah satunya yang sedang dikerjakan saat ini jalan menuju gua.

Juru kunci punden Perigi, Sumarto, disinggung mengenai wacana Banyuurip sebagai desa wisata religi menyatakan dirinya belum diajak bicara kepala desa.

"Saya belum tahu mengenai rencana tersebut," kata juru kunci yang bertugas sejak 1998 itu.

Menurut Sumarto sebaiknya tidak perlu Banyuurip dijadikan desa wisata religi.

"Karena di sini punden kesepuhan, saya takut yang di atas  tidak berkenan," ujarnya.

Menurut Sumarto, punden Perigi tidak suka keramaian. "Kalau yang di atas tidak berkenan, akan menegur saya," ujarnya.

Cerita mengenai punden tersebut bermula pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit dipimpin  Hayam Wuruk dengan patih Gadjah Mada.

Alkisah, sang raja menyuruh keluarga besarnya berkumpul. Seorang putranya bernama Pangeran Jayakusuma tidak mengindahkan.

Karena tidak menghadiri pertemuan, Hayam Wuruk menyuruh Gadjah Mada mencarinya. Ternyata sang pangeran sedang mencari belalang untuk pakan burung puyuh atau gemak peliharaannya.

Hayam Wuruk murka. Pangeran Jayakusuma yang lahir dari selir itu akhirnya meninggalkan istana ditemani burung gemak dan adiknya, Nyi Galuhwati.

Wakil juru kunci sumur Pinatak memberikan air ke warga yang membutuhkan. (w asmani/koranbernas.id)

Mereka berjalan ke arah barat melewati hutan belantara. Saat letih istirahat. Nyi Galuhwati kehausan. Dia merengek minta air.

Di tempat tersebut Pangeran Jayakusuma menancapkan kerisnya ke tanah. Saat keris dicabut seketika keluar air.

Karena air tersebut mampu memberi kehidupan banyak orang, maka diberi nama Banyuurip. Sedangkan sumur diberi nama Beji. Sejak peristiwa itu daerah ini diberi nama Banyuurip.

Saat itu, Pangeran Jayakusuma berpesan kepada adiknya Nyi Galuhwati agar membuat sumur sebagai pasangan dari sumur Beji yang telah dibuatnya.

Maka di sebelah utara punden Perigi dibuat sumur Pinatak, sebagai pasangan dari sumur Beji yang berada di selatan punden Perigi.

Jarak antara punden Perigi dengan sumur Beji sama persis jarak punden Perigi dengan sumur Pinatak. (sol)



Jumat, 09 Agu 2019, 23:21:57 WIB Oleh : Nila Jalasutra 398 View
Jelang Idul Adha Gas 3 Kg Dipantau secara Acak
Jumat, 09 Agu 2019, 23:21:57 WIB Oleh : Masal Gurusinga 832 View
Susahnya Atasi Persoalan Sampah di Pasar Klaten
Jumat, 09 Agu 2019, 23:21:57 WIB Oleh : Sari Wijaya 492 View
Tanpa Inovasi Koperasi Habis Ditelan Zaman

Tuliskan Komentar