menata-hidup-pascacoronaJohn de Santo (Foto:Koleksi Pribadi/Koran Bernas).


John-de-santos

Menata Hidup Pascacorona

SHARE

PENULIS senang menggoda bayi. Ada semacam tantangan tersendiri. Setiap kali ketemu bayi, penulis  sering mencuri kesempatan untuk menggoda. Puas rasanya, jika si bayi yang digoda itu berhasil tersenyum, apa lagi sampai terkekeh.

Tidak semua bayi, awalnya ingin digoda. Karena itu, kita harus kreatif. Mulai dari megedipkan mata, tersenyum, bermain cilup ba, memasang raut wajah jelek, ngomong sambil mengangguk, mendongak dan menggelengkan kepala sambil membelalakkan mata, adalah taktik yang bisa kita gunakan. Kadang dengan menggunakan balon, kertas, kain perca, dsb. 


Baca Lainnya :

Namun kita juga harus tahu, suatu ketika semua upaya itu akan sia-sia. Si bayi tidak tergoda lagi. Enough is enough. Dia pun mengalihkan perhatian, mengusap-usap matanya, lalu menangis. Kalau diberi ASI pun ditolaknya,  itulah pratanda, si bayi sudah ngantuk dan ingin tidur. Sang ibu menghafal isyarat ini.  Boleh bertaruh, tak lama kemudian si bayi sudah terlelap dalam buaiannya.  Otak si bayi membatasi segala input. Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari ilustrasi ini.

Tiga Penghambat


Baca Lainnya :

Orang dewasa yang hidup pada era Post Covid-19 umumnya tak mampu lagi mengendalikan pikiran. Ibarat rem kendaraan yang sudah blong demikian pula fungsi pikiran orang dewasa. Setidaknya ada tiga bidang yang memperlihatkan betapa lemahnya pikiran sebagai pengendali. 

Pertama, pikiran yang tercecar imajinasi masa lampau dan rencana masa depan. Pikiran orang terlambung oleh berbagai jadwal yang tepat. Besok sebelum jam 07.00 harus hadir di kantor; rapat divisi berlangsung jam 08:15; jam 10.30 jemput pimpinan di bandara; jam 13.00 makan siang bersama staf keuangan; Jam 14.00 ngantar mertua ke salon; jemput anak, dst. Rabu minggu depan mengikuti Seminar online. Jumat dua bulan depan, ada jadwal pertemuan bersama GM, dst.  

Orang seakan-akan tak bisa hidup tanpa jadwal. Ia yakin, bahwa jadwal merupakan jaminan bagi sukses masa depan. Akibatnya, sebagian waktu hidup tersita untuk berbagai recana masa depan yang tak ada habisnya. Tragisnya, ini terjadi karena kita percaya  bahwa masa depan itu lebih penting, karena kita akan hidup di sana. Hidup pun jadi rumit, penuh ketegangan karena kita terus dikejar oleh bayang-bayang kewajiban untuk selalu tampil prima dan menjadi sorotan. Hidup yang bergairah memang bagus, tetapi juga sekaligus membunuh. Apa yang sekadar sebagai panduan, justru berubah menjadi obsesi.

Kedua, impulsif mengumpul barang. Cobalah menghitung barang yang kita miliki saat ini. Katakan saja barang-barang yang paling elementer seperti piring, gelas, sendok dan garpu. Berapa yang kita miliki? Belum lagi pakaian seperti kemeja, celana panjang, celana pendek, sandal, sepatu, seragam dinas,  pakaian santai, dst. Berapa jumlah ingin dibatasi kalau kita mampu membelinya? Tidak ada kan? Padahal siapa sih yang peduli, jika kita makan tiga kali dengan menggunakan peralatan makan sama? Tak ada juga yang memperhatikan, jika kita hanya membeli pakaian sekali setahun atau dua tahun? Bung Hatta co-proklamator Indonesia, hanya memiliki dua pasang sepatu. Orang baru mengetahuinya setelah beliau meninggal dunia.

Kita cenderung mengumpulkan barang-barang bukan karena kebutuhan melainkan karena selera dan keinginan kita. Kebutuhan manusia terbatas, tetapi seleranya tak bertepi. Karena itu Nelson Mandela mengingatkan, ‘Planet bumi mampu memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tak sanggup memenuhi keinginan sekelompok orang serakah.’ Tanpa sadar, sebagian besar barang yang kita kumpul tak terpakai, sehingga pada akhirnya semua itu menjadi sampah yang mengotori planet bumi. 

Ketiga, konsumsi berita dan informasi. Sekarang ini media membanjiri kita dengan berbagai macam informasi dan berita. Berita dikemas sebagai komoditas yang berharga untuk sekadar menaikkan oplah dan rating. Tak banyak media yang jujur konstruktif dan beretika dalam menyampaikan berita. Hoaks menjadi toxic yang turut dikonsumsi masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Akibatnya, orang mengonsumsi berita dan informasi, tetapi belum tentu  tentu menambah pengetahuan dan keterampilan. Maka sebaiknya, kita membatasi diri hanya pada informasi dan berita yang penting bagi kita untuk mengembangkan potensi diri.  Selebihnya juga termasuk sampah.  

Manusia Merdeka

Frederic Nietzsche (1844-1900) membagi manusia ke dalam dua kelompok, yakni: kelompok manusia bebas dan kelompok manusia yang diperbudak. Menurutnya, jika dua pertiga waktu hidup tercurah kepada hal-hal yang bukan diri kita, maka maka kita termasuk kelompok orang yang diperbudak. Kita menjadi orang yang tak mampu mengendalikan diri sendiri, karena membiarkan diri dikendalikan oleh hal-hal di luar diri kita.  

Barangkali  selama ini, kita sudah diperbudak oleh rencana, barang-barang, dan berita atau informasi di luar diri kita. Hal-hal yang di luar diri itu kemudian kita internalisasikan sebagai menjadi sistem nilai yang kita anut. Dan selama ini mungkin kita telah hidup menurut sistem nilai palsu tersebut. Pikiran kita terlalu giat dan terlalu sibuk sehingga tak bisa lagi beristirahat, sekalipun badan terasa penat. Tanpa sadar, kita hidup dalam depresi selama bertahun-tahun.

Maka, saatnya kita mengambil jarak, untuk menilai kembali apa yang selama ini telah kita lakukan dalam rangka memerdekakan diri. Caranya dengan menyederhanakan atau meminimalkan hidup. Bila kita mampu memanfaatkan dengan baik, isolasi diri selama pandemi Covid-19 ini, bukan mustahil  hidup kita akan menjadi lebih baik 5 hingga 10 persen dari masa post corona.  Bukankah kita juga ingin terlelap seperti seorang bayi, setelah tubuh penat akibat perjuangan sehari-hari?  Selamat merenung mumpung ada waktu, stay home stay safe. **

John de Santo

Dosen Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta; Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka.


TAGS: covid19 corona 

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini