meliasari-sejak-lahir-tergolek-lumpuh-di-ranjangnya-yang-reotMeliasari (12) yang tinggal di Padukuhan Singkil, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, sejak lahir hingga kini tidak bisa beraktivitas apa pun. (sutaryono/koranbernas.id)


St Aryono

Meliasari, Sejak Lahir Tergolek Lumpuh di Ranjangnya yang Reot

SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL – Tubuhnya yang terbungkus selimut, nampak kurus. Kedua matanya terpejam. Hanya sesekali terbuka ketika mendengar suara di dekatnya. Namun tidak ada sepatah kata pun terucap.


Baca Lainnya :

 

Inilah, Meliasari. Anak ini sebenarnya sudah berumur 12 tahun, yang tinggal di Padukuhan Singkil, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, Gunungkidul. Namun sejak lahir hingga kini, gadis ini tidak bisa beraktivitas apa pun. Bukan hanya tidak bisa bicara, tetapi menggerakkan anggota tubuhnya juga tidak mampu. Tubuhnya lumpuh layuh.


Baca Lainnya :

 

Setiap hari, anak ini hanya tergolek lemah di atas tempat tidur reyot yang terbungkus kelambu lusuh. Karena kedua kaki dan tangannya lemas, maka semua kebutuhan harus dibantu orang lain. Satu-satunya yang merawat hanyalah neneknya, Sutini. Terkadang dibantu Yatmo Suwito, kakeknya.

 

“Menggerakkan tubuhnya saja tidak bisa, apalagi bicara. Kalau lapar, haus atau akan buang air, hanya menangis,” kata Sutini, mulai mengisahkan derita cucunya yang malang ini, Kamis (6/8/2020).

 

Menurutnya, sejak anak ini baru berumur beberapa hari, sudah ditinggal kedua orang tuanya. Dua belas tahun lalu, kedua orang tuanya, pasangan Sutarno dan Yeni Kusnawati, hanya berpamitan akan kerja ke luar kota. Tak ada pesan untuk anak ini. Hanya saja, kepada kedua orang tuanya agar merawat baik-baik.

 

Anaknya, Sutarno, menikah dengan Yeni yang disebutnya warga Bantul. Keduanya saat itu tinggal di Bantul, dan datang ke rumah membawa anaknya yang saat itu masih bayi. "Sejak umur 35 hari, anak ini dibawa ke sini oleh anak saya, Sutarno dan istrinya Yeni. Namun sudah 12 tahun ini tidak pernah menengok. Bahkan di mana keberadaannya, tidak ada yang tahu,” tambahnya.

 

Saat ini Meliasari hanya bisa terbujur di tempat tidur sederhana dengan sedikit penerangan di rumah sederhana berdinding gedek. Tak ada cendela di kamar Melia. Cahaya didapatkan dari genting kaca yang terpasang. Minimnya cahaya menyebabkan nyamuk cukup banyak di kamar itu.

 

Karena berbagai keterbatasan, anak ini diakui belum pernah mendapat perawatan khusus di rumah sakit ataupun Puskesmas. “Hanya terkadang saya bawa periksa ke dokter kalau badannya terasa panas. Setelah diberi obat, langsung pulang,” tuturnya.

 

Pada usia yang sudah renta, pasangan kakek nenek ini, sebenarnya cukup berat untuk merawat cucunya. Namun diakui Sutini, semuanya dilakukan dengan ikhlas, sehingga beban ini seakan menjadi ringan. Dengan hasil sedikit dari taninya, pasangan keluarga ini bisa mencukupi berbagai kebutuhan cucunya, meskipun sederhana.

 

Sementarata itu, Ngatiyem, anak kedua Sutini, mengaku setiap hari datang ke rumah ibunya untuk membantu. Melia merupakan anak dari Sutarno yang merupakan adiknya yang nomor tiga.

 

"Dulu ketika pamit, adik saya hanya bilang anaknya ditinggal di sini. Kalau sudah kerja, nanti dikirimi uang. Tetapi hingga saat ini tidak pernah menengok. Entah di mana sekarang,” ucap Ngatiyem pasrah.

 

Untuk meringankan beban penderitaan keluarga ini, beberapa bantuan datang, setelah kisah Meliasari diunggah di beberapa akun media sosial. Berbagai kelompok organisasi sosial datang ke rumah, termasuk utusan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, yang juga memberikan bantuan. (eru)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini