Kamis, 29 Jul 2021,


mbah-atmo-perempuan-renta-pelestari-mainan-tradisionalMbah Atmo mempraktikkan keahliannya membuat mainan-mainan tradisional. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Mbah Atmo Perempuan Renta Pelestari Mainan Tradisional

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Mbah Atmo namanya. Perempuan renta ini dengan cekatan mencelupkan ujung bambu dan menguaskannya ke pola-pola wayang kertas yang telah disiapkannya. Garis dan isian cepat sekali dituangkan ke bidang-bidang kosong. Tanpa sketsa semua dikerjakan perempuan berusia 85 tahun ini dengan cekatan di luar kepala.


Bukan kuas. Bukan pula alat lukis yang umum digunakan seniman-seniman. Mbah Atmo hanya menggunakan bilah bambu seukuran pensil. Ujungnya telah dipukul benda keras akhirnya menyerupai kuas kasar di luar standar kebanyakan orang.


Pewarna makanan dilarutkannya dengan air di dalam gelas-gelas plastik bergantian Dia celup dan gambarkan pada wayang-wayang dolanan. Tokoh Arjuna paling sering dibuatnya.

Tangan Mbah Atmo bergetar saat rombongan pejabat Museum Sonobudoyo dan pengunjung mengitarinya.


Grogi" kata Umi Khasanah, perempuan yang mendampingi Mbah Atmo.

Simbah nggak nyaman karena harus duduk di kursi.”

Umi berbisik kepada Kepala Museum.

Setyawan Sahli, Kepala Museum Sonobudoyo itu pun tersenyum.

Ngeten riyin nggih Mbah, besok kita manut gimana nyamannya Simbah."

Iwan memberikan pengertian kepada Mbah Atmo.

Mbah Atmo adalah salah seorang perempuan Desa Pandes Panggungharjo Kapanewon Sewon yang masih tekun membuat mainan-mainan tradisional berbahan kertas dan bambu. Rupa-rupa payung mini warna-warni, bunga, sangkar burung hingga wayang kertas tercipta dari tangannya.

“Tidak ada lagi penerus Mbah Atmo, hanya lima orang termasuk Mbah Atmo yang masih kami dampingi,” kata Umi.

Meski di Desa Pandes cukup banyak warga mampu membuat mainan-mainan tradisional, tapi tidak ada yang memilih ini menjadi sebuah pekerjaan yang ditekuni. Mereka memilih pekerjaan lain yang lebih menghasilkan.

“Tapi selain ke sawah, simbah masih terus menekuni ini (membuat mainan),” tambahnya.

Keahlian turun temurun ini tidak ada lagi penerusnya. Mbah Atmo sudah mulai membuat mainan sejak kecil. Kini anak-anak muda tidak mau lagi membuat mainan seperti ini.

“Maka komunitas kami giat memberikan edukasi mainan tradisional ini kepada siswa-siswa sekolah yang datang berkunjung,” lanjutnya.

Hanya ada lima orang perempuan seusia Mbah Atmo yang masih menekuni pembuatan mainan tradisional. Dua di antaranya kadang-kadang masih dijumpai menjajakan langsung dagangannya di jalanan Jogja.

“Mereka sering berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Tapi Mbah Atmo tidak lagi, karena usia yang lanjut, anak-anaknya melarang Mbah Atmo berjalan menuju pasar yang jauh jaraknya,” kata Umi.

Para perempuan ini biasa menjajakan mainan-mainan ini dengan berjalan kaki menuju Pasar Beringharjo, Kotagede hingga Pasar Godean yang jaraknya 15 kilometer dari desa tempat mereka tinggal.

Mbah Atmo hadir mendemokan kebolehannya membuat mainan-mainan di Museum Sonobudoyo bukan tanpa alasan. Mbah Atmo hadir bersama dengan pameran Kembara Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita!

Tema pameran ini berdasarkan ide museum untuk membangun suasana museum ramah anak dan museum bersahabat bagi semua kalangan.

Pada pameran yang berlangsung 2-30 Juni 2021 ini Sonobudoyo mengajak para pengunjung berpetualang menyelami kembali dunia anak-anak yang menyenangkan, penuh warna, namun juga sarat akan nilai dan budi pekerti.

Meski bercerita tantang dunia anak-anak, pameran ini tetap menaruh persoalan budaya sebagai bagian dari identitas.

Beberapa hal berkaitan dengan tradisi dan konteks sosial budaya turut menjadi pengisi di sudut-sudut ruang pamer, seperti upacara tradisi anak-anak dalam konsep daur hidup.

Permainan tradisional, seperti dakon, kitiran, klonthongan ataupun othok-othok dapat disaksikan di dalam ruang pamer.

Kepala Museum Sonobudoyo menyampaikan permainan tradisional ini dihadirkan sebagai bagian dari kearifan lokal yang berpotensi mengedukasi para pengunjung. Meski kenyataannya, permainan tradisional yang penuh nilai-nilai kearifan lokal ini pun tergerus zaman.

Kembara Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita! berawal dari sebuah gagasan untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung melalui alur pameran yang tidak biasa,” ujarnya.

Pengunjung pameran harus melalui labirin untuk dapat menikmati koleksi-koleksi yang ditampilkan ataupun ketika ingin berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain. Dari sinilah para pengunjung akan mengenang dan merasakan kembali kegembiraan-kegembiraan seperti yang pernah mereka rasakan di masa kecil.

“Kami berharap, melaui pameran ini tidak hanya orang dewasa yang memiliki ketertarikan dengan museum, tapi juga anak-anak. Pameran ini juga menjadi wahana pendidikan bagi anak-anak sekarang tentang nilai, norma, dan kerukunan yang dipetik dari budi pekerti masa lalu,” kata Iwan. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini