atas

Masalah Sampah Selesai di Rumah

Rabu, 27 Mar 2019 | 23:33:47 WIB, Dilihat 468 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Masalah Sampah Selesai di Rumah Eko Suprihatin. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Pejabat UNESCO Puji Keunikan Geopark Karangbolong


KORANBERNAS.ID -- Sampah menjadi trending topik beberapa hari belakangan ini setelah Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Banyakan Kecamatan Piyungan Bantul ditutup sementara.

Di tempat itulah setiap hari ratusan ton sampah terutama dari Kota Yogyakarta, Sleman dan sebagian Bantul dibuang ke sana.

Warga Yogyakarta kalang kabut. Sampah di pasar-pasar melimpah tak bisa diambil. Di Pasar Sentul, Giwangan, Pujokusuman, orang terpaksa menutup hidung karena bau busuk yang menyengat.

Di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) barat Purawisata bahkan sampah sudah berceceran di badan jalan. Timbunan sampah yang telah mengeluarkan lendir itu bau busuknya menyebar ke mana-mana.

Petugas pengumpul sampah di permukiman juga tak bisa bekerja. "Gerobak sampah saya ditahan di TPS Giwangan. Sampahnya tidak bisa diturunkan," kata Kegi, petugas pengambil sampah RW 08 Kelurahan Sorosutan, Rabu (27/3/2019), ketika berkeliling menjelaskan kepada warga.

Hal itu penting disampaikan karena permasalahan di TPST Piyungan menurut Kegi mengutip penjelasan dari petugas, memerlukan waktu sekitar 10 sampai 15 hari. Kurun waktu itu pasti membuat sampah di permukiman meluber.

Selesai di rumah

Sementara itu petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kota Yogyakarta yang antara lain bertugas di Kelurahan Sorosutan, Eko Suprihatin, di depan pertemuan Kelompok Wanita Tani (KWT) Eidelwiys Rabu (27/3/2019) menjelaskan cara mengelola sampah selesai di rumah.

Diawali dengan memilah sampah organik dan unorganik. Sampah organik bisa dengan mudah diproses menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman. Paling tidak untuk kebutuhan sendiri dan apabila jumlahnya banyak bisa dijual menghasilkan rupiah.

Sampah organik berupa daun-daunan dan aneka sampah dapur ini ditaruh dalam ember. "Seyogianya bagian atasnya diberi lubang untuk sirkulasi udara," kata Eko.

Untuk mempercepat kerja bakteri pengurai dibutuhkan "makanan" yang manis-manis. Kulit pisang, kulit nanas dan buah-buahan menjadi makanan mikro-organisme ini.

Tetapi harus dipotong-potong. Demikian pula bahan lain seperti gagang bayam dan aneka sayuran maupun daun pisang harus dicincang.

Daun pembungkus tempe juga bisa mempercepat kerja bakteri pengurai karena pada daun tersisa usar yang berfungsi untuk proses fermentasi kedelai menjadi tempe.

Sayangnya saat ini hampir semua tempe tidak lagi dibungkus daun tetapi plastik. Bekatul juga bagus untuk mempercepat prosesnya. Atau bisa juga menggunakan ragi tape.

"Satu butir ragi tape diberi satu sendok gula pasir. Diberi air, masukkan dalam botol bekas air mineral dan diamkan semalam. Paginya disiramkan di atas tumpukan sampah organik yang sedang dalam proses," kata Eko menambahkan.

Untuk meratakan proses fermentasi secara berkala perlu diaduk. Proses awal sampai sampah menjadi pupuk organik memerlukan waktu antara 10 sampai 15 hari tergantung seberapa banyak memberi "makan" mikro organisme selama proses.

Tanda sampah sudah menjadi pupuk saat digenggam terasa lembut. "Tidak berbau seperti proses pembuatan dengan keranjang Takakura yang banyak disosialisasikan  beberapa tahun lalu. Baunya seperti kita membuka bungkus tempe," kata Eko Suprihatin menjelaskan.

Dengan memanfaatkan sampah organik menjadi bahan pembuatan pupuk, untuk skala rumah tangga sampah organik bisa teratasi.

Sedang  sampah non-organik sejak awal bisa dipilah-pilah. Dalam jumlah banyak bisa dijual sesuai peruntukannya utamanya proses daur ulang.

Dengan demikian sebagian dari masalah sampah sudah bisa diselesaikan di rumah. Menurut Eko, asalkan ada kemauan serta kesungguhan maupun ketelatenan sejak memilah sampah. (sol)



Rabu, 27 Mar 2019, 23:33:47 WIB Oleh : Nanang WH 313 View
Pejabat UNESCO Puji Keunikan Geopark Karangbolong
Rabu, 27 Mar 2019, 23:33:47 WIB Oleh : Nila Jalasutra 275 View
PKK Wajib Tangani Permasalahan Stunting
Rabu, 27 Mar 2019, 23:33:47 WIB Oleh : Sari Wijaya 263 View
GKR Hemas Menyapa Pekerja Pabrik

Tuliskan Komentar