Jumat, 23 Okt 2020,


konyol-data-penduduk-dibiarkan-tanpa-perlindunganAnggota Komisi I DPR RI dapil DIY Dr H Sukamta. (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul

Konyol, Data Penduduk Dibiarkan tanpa Perlindungan


SHARE

KORANBERNAS.ID – Anggota Komisi I DPR RI daerah pemilihan DIY, Dr H Sukamta menyatakan prihatin data penduduk Indonesia hingga saat ini terkesan dibiarkan tanpa ada perlindungan. Lebih konyol lagi, data tersebut begitu mudahnya di-share ke mana-mana.

Keprihatinan ini dia sampaikan saat menjadi narasumber Diskusi Publik Merajut Nusantara tentang Tantangan Era Industri 4.0, kerja sama dengan BAKTI Kementerian Kominfo RI, Kamis (25/10/2018), Hotel Ros-in Yogyakarta.


Baca Lainnya :

“Data penduduk Indonesia tidak diproteksi malah dibuka. Kita punya UU ITE tapi belum punya undang-undang perlindungan data pribadi sehingga data kita sangat rentan, bahkan ada yang jual beli data,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut anggota Fraksi PKS DPR RI ini, mestinya negara berperan melindungi data-data penting itu. Realitas yang terjadi saat ini di dunia digital, pemerintah belum eksis. “Pemerintah entah sibuk apa. Sesuatu yang seharusnya diurus malah belum diurus oleh negara,” ungkapnya.


Baca Lainnya :

Dia mengakui, soal digital peran generasi muda memang saat menonjol bahkan dalam dunia bisnis anak-anak muda berhasil meraih omzet menyalip pengusaha yang sudah mapan.

Contoh kesuksesan paling fenomenal diraih oleh pembuat aplikasi Gojek yang mampu mematikan salah satu raksasa digital yang masuk Indonesia. “Anak-anak muda sekarang jalannya lebih cepat dari yang dipikirkan generasi tua,” kata dia.

Mantan anggota DPRD DIY ini lebih lanjut menyatakan secara umum pemanfaatan dunia digital belum optimal, masih cenderung hanya untuk bersosialisasi.

Melalui kegiatan itu diharapkan anak muda bisa memanfaatkan internet tidak seperti yang dikeluhkan orang tua. Pemuda apabila diberi peluang mereka bisa maju.

Prof Dr Drs Henry Subiakto SH MA. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Hukum dan Komunikasi, Prof Dr Drs Henry Subiakto SH MA, menambahkan teknologi memang sudah berubah yang secara otomatis mengubah cara hidup generasi sekarang.

“Bagi generasi digital smartphone dengan koneksi internet itu seperti oksigen,” ujarnya. Ibaratnya, mereka mereka kejet-kejet jika tidak memegang perangkat komunikasi itu.

Kebutuhan pokok di era sekarang pun tidak lagi hanya pangan, sandang dan papan tetapi bertambah satu lagi cas-casan (charger HP).

Sependapat dengan Sukamta, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga itu mengatakan generasi digital perlu disiapkan supaya tidak hanya menjadi penonton kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Diskusi Publik bertema Revolusi Industri 4.0, Kamis (25/10/2018), Hotel Ros-in Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Sebagai gambaran, Prof Henry mencontohkan anak-anak muda Indonesia yang berhasil menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya.

Sebut saja Nadiem Makarim berusia 27 tahun saat mendirikan Gojek, William Tanujaya berumur 28 tahun saat mendirikan  Tokopidea, Ahmad Zakit berusia 24 tahun tatkala mendirikan Bukalapak dan Ferry Unardi mendirikan Traveloka ketika berumur 26 tahun.

“Gojek, Traveloka, Tokopidea dan Bukalapak bisa dikembangkan menjadi kekuatan digital Indonesia, tinggal menambah vitur sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Jiwa nasionalisme Indonesia, lanjut dia, juga dipelopori oleh anak-anak muda.

Soetomo pada usia 20 tahun mendirikan Boedi Oetomo, Soegondo Djoyo Puspito ketika umur 24 tahun memimpin Kongres Pemuda 1928, Soekarno saat umur 24 tahun lulus ITB menyerang Belanda dengan tulisan dan Hatta pada usia 24 tahun menjadi Ketua Pelajar Indonesia di Belanda.

Dalam kesempatan itu, pakar digital dari UII, M Andri Setiawan ST MSc PhD, juga menyampaikan paparannya mengenai Revolusi Industri 4.0 beserta dampak-dampaknya. (sol)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini