komandan-apel-hingga-ajudan-semua-perempuanBupati Temanggung HM Alkhadziq menyampaikan amanat pada apel luar biasa memperingati hari Kartini. (endri yarsana/koranbernas.id)


endri

Komandan Apel hingga Ajudan Semua Perempuan

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Pemerintah Kabupaten Temanggung menggelar apel luar biasa memperingati hari lahir ke-140 Raden Ajeng Kartini di halaman Setda Kabupaten Temanggung, Senin  (22/4/2019).

Apel yang dipimpin Bupati HM Alkhadziq itu dihadiri pejabat FKPD dan unsur pimpinan serta karyawan/karyawati pemkab.


Baca Lainnya :

Karyawan mengenakan batik lengan panjang berpeci sedangkan karyawati mengenakan kebaya. Petugas apel mulai dari komandan, pembaca doa, pembawa acara maupun ajudan, semuanya perempuan.

Bupati HM Alkhadziq dalam amanatnya mengatakan lebih dari seabad sejak perjuangan Kartini, perempuan memperoleh haknya setara laki-laki.


Baca Lainnya :

Pemikiran dan sikap kritis Kartini menginspirasi bangsa ini untuk memberikan kesempatan pendidikan maupun berkarier di segala bidang.

Menurut bupati, perempuan harus maju, pandai, mendominasi, menginspirasi dan menjadi motor perubahan.

“Perempuan sebagai madrasah/guru yang pertama bagi anak-anaknya. Melalui keluarga, pendidikan pertama diberikan melalui tangan-tangan perempuan, diharapkan terwujud keluarga yang berkualitas,” ujarnya.

Apel luar biasa memperingati hari Kartini di halaman Kantor Setda Temanggung. (endri yarsana/koranbernas.id)

Pada kesempatan itu dibacakan riwayat singkat Raden Adjeng Kartini yang lahir di Jepara Jawa Tengah 21 April 1879.

Kartini menikah dengan bupati Rembang KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903 yang telah mempunyai tiga istri.

Dari pernikahannya dia dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904.

RA Kartini lahir dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yakni bupati Jepara dengan MA Ngasirah. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.

Karena orang tuanya termasuk orang penting dalam pemerintahan, Kartini sempat diberikan kebebasan sekolah di ELS (Europese Lagere School) walaupun hanya sampai umur 12 tahun.

Di sanalah Kartini belajar bahasa Belanda. Dengan keterampilannya berbahasa Belanda, Kartini menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda.

17 September 1904 Kartini mengembuskan nafas terakhirnya pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini