Selasa, 15 Jun 2021,


kisah-ali-akbar-pengatur-lalu-lintas-bertopeng-galonAli Akbar mengatur lalu lintas memakai galon bekas untuk melindungi kepalanya. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar
Kisah Ali Akbar Pengatur Lalu Lintas Bertopeng Galon

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Siapa pun yang pernah berkunjung ke Yogyakarta segera mengakrabi keramah-tamahan penduduknya. Ikon sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya membuat Yogyakarta selalu nyaman bagi siapa pun yang hidup di kota tersebut.


Uniknya, di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta, ada fenomena menarik tentang pengatur lalu lintas yang menggunakan botol galon air mineral sebagai topeng melindungi dirinya dari terik matahari.


Ali Akbar, lelaki renta berusia 52 tahun ini, hampir setiap hari dapat ditemui di Jalan Taman Siswa Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta.

“Ini sengaja seni. Ini waktu pas mulai pandemi, ada (sosialisasi) suruh pakai masker. Ketika itu dua hari saya pakai masker, kalau satu dipakai, satu saya cuci. Nah, terkadang hanya dua, habis dipakai semuanya,” ujarnya.


Dengan terbatasnya masker yang dimiliki, lantas melecutkan sebuah ide di benak Ali Akbar. Tak jauh dari Jalan Taman Siswa, ada seorang pedagang angkringan yang telah lama menjadi sahabat Ali Akbar. Pria asli Tangerang Banten itu memberanikan diri meminta galon tak terpakai untuk dijadikan helm alias pelindung kepala.


“Saya punya ide cari galon aja. Nggak panas, malah nyaman. Nyamannya apa? Karena asap, orang bersin, batuk kan tidak menular,” kata pria asal Tangerang ketika ditanya tentang perasaannya ketika menggunakan galon.


Bak Pahlawan Bertopeng Galon, Ali Akbar dengan ikhlas mengatur lalu lintas demi mendapatkan sekadar uang receh. Bekerja mulai pukul 07:00 atau 08:00 pagi, sang pahlawan bertopeng galon itu mengatur arus lalu lintas hingga matahari mulai tergelincir ke ufuk barat.

“Mengatur lalu lintas seperti ini (dengan bertopeng galon, red) maksudnya seni. Seninya menghibur orang untuk menghilangkan stres orang-orang,” ucap Ali ketika diwawancarai koranbernas.id.

Hidup di Taman Siswa

Meski tidak terlahir di Yogyakarta, Ali Akbar telah menetap sangat lama di Kota Pelajar ini. Dirinya bahkan membina rumah tangga dengan wanita asal Jawa Timur dimulai dari Yogyakarta. Di usia yang menuju senja, dirinya masih harus bergelut dengan nasib demi mencari sesuap nasi.

Mengatur arus kendaraan di Jalan Taman Siswa yang terbilang padat dilakoninya sejak pagi hingga sore hari.  Tak banyak yang diperoleh setelah seharian membantu kendaraan terhindar dari kemacetan.

Ya, terkadang kalau ramai bisa dapat Rp 70.000 sampai Rp 100.000, apalagi kalau ada yang bersedekah. Tapi biasanya hanya Rp 50.000,” ujarnya lugas.

Dengan topeng yang berasal dari galon bekas air mineral, Ali Akbar lihai mengatur lalu lintas di pertigaan Jalan Taman Siswa. Apabila lelah, dirinya hanya merebahkan diri pada sebuah kursi bambu yang berada di samping Gedung Koperasi Taman Siswa.

Demikian halnya kalam malam tiba mengganti senja, Ali Akbar melarutkan dirinya terlelap di kursi tersebut. “Saya tidur di (serambi) koperasi ini, hitung-hitung sambil jaga. Ini tempat istirahat kalau malam sampai pagi,” terangnya.

Ali Akbar istirahat melepas topeng galonnya.  (rosihan anwar/koranbernas.id)

Cita-cita dan harapan

Tak mudah memang hidup di jalan pada usia yang tak lagi muda. Ketika koranbernas.id mencoba galon yang dijadikan topeng dalam keseharian Ali Akbar, ternyata diameter galon yang sempit tak dapat dimasuki orang berbadan besar.

Menariknya, dengan penghasilan yang tak menentu setiap harinya, dirinya tetap tabah dalam menjalani hidup. Ali Akbar pun mengaku tidak meninggalkan kewajiban berpuasa, terkecuali dalam kondisi yang kurang sehat.

Insya Allah masih tetap berpuasa. Tapi, tadi malam saya nggak sahur, jadi hari ini mau puasa nggak bisa,” ungkapnya lirih.

Rezeki yang dikumpulkannya setiap hari disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya yang masih bersekolah. Namun, Ali Akbar pun mengungkapkan dirinya mulai lelah menanggung beban hidup yang dipikulnya.

“Saya sudah capek terus terang saja, pingin hidup di rumah bersama keluarga. Jadi, saya ingin buka usaha keluarga di rumah bersama anak-anak,” harapnya kala berbicara kepada koranbernas.id akhir April silam.

Dirinya berharap, pemerintah mau memperhatikan nasib kaum miskin perkotaan seperti dirinya. Meski demikian, Ali Akbar mengaku tak akan berpangku tangan dan hanya sebatas menunggu uluran bantuan demi menyambung hidupnya.

Kita pun layak melantukan ode (syair pujian) bagi Ali Akbar, Sang Pahlawan Bertopeng Galon atas kemandirian dan keikhlasan yang dilakoninya. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini