Minggu, 17 Okt 2021,


keripik-pisang-menyelamatkan-keluarganyaSarwono dengan bola-bola tenisnya saat melatih di lapangan. (istimewa)


Arie Giyarto
Keripik Pisang Menyelamatkan Keluarganya

SHARE

KORANBERNAS.ID , DEPOK -- Pandemi membuat banyak orang menderita secara ekonomi. Jutaan orang kehilangan pekerjaan sebagai sumber penghidupan. Dampaknya tak hanya dirasakan orang-orang bergaji tetap, tetapi juga mereka yang bekerja di sektor non-formal.


Salah seorang di antaranya Sarwono. Lelaki 44 tahun asal Desa Tamansari Boyolali Jawa Tengah yang sudah lama merantau ke Depok Jawa Barat  (Jabar) ini bekerja sebagai pelatih tenis lapangan. Akibat pandemi, kegiatan latihan tenis di kompleks Pesona Khayangan Juanda terhenti.


“Baru sekitar tiga bulan mulai ada yang berani berkegiatan di lapangan,” kata Ny Ayu, usai latihan Jumat (15/9-2021) pagi kepada koranbernas.id sembari menyelonjorkan kakinya di lantai lapangan. Beberapa kali dia meneguk air putih bekalnya dari rumah.

Pagi itu bersama Ny Wira, wanita yang sama-sama mengenakan kerudung ini semangat berlatih mengembalikan bola yang dipukul Wono, begitu Sarwono biasa dipanggil. Pukulannya sengaja membuat dua ibu itu tidak kesulitan memukul balik.


Pijat sepi order

Selain pelatih tenis, lelaki berkulit kehitaman itu juga punya profesi tambahan sebagai tukang pijat. Baik pijat refleksi maupun sekadar menghilangkan rasa capek. “Lumayan, dulu banyak order. Tetapi setelah pandemi ini hampir tak ada lagi,” kata Wono.

Seingat dia baru ada dua kali panggilan pijat,  mungkin orang khawatir tak ada jarak antara antara memijat dan yang dipijat, sebagai bagian dari protokol kesehatan.

Bersyukur dia belum pernah terkena Covid. Wono tak memasang tarif karena semua orang  sudah dikenalnya. “Rata-rata memberi Rp 150.000. Ada juga yang Rp 200.000,” kata Wono.

Keahlian pijat diperoleh dari temannya setelah belajar beberapa bulan. Sedangkan kemampuan bermain tenis dimulai menjadi ball boy di Pulo Mas.

Dari kebiasaan lari ke sana-kemari mengejar bola mati untuk disiapkan pada pemain, secara perlahan dia mengambil waktu belajar tenis. Empat tahun latihan sambil menjadi ball boy akhirnya tahun 2001 dia mahir.

Pertama menjadi pelatih, Wono bekerja kepada orang lain. Sekali melatih dia menerima upah Rp 10.000. Seiring berjalannya waktu dan keterampilan main tenisnya, pada 2005 dia mandiri. Pendapatan Wono bertambah. Saat ini sekali melatih selama dua jam, Wono menerima jasa Rp 200.000. Dia punya jadwal melatih Jumat pagi dan Sabtu sore.

Sejak sebelum pandemi, penghasilan sebagai pelatih tenis dan jasa pijat bisa menutup kebutuhan keluarga dengan tiga anak. “Ya dicukup-cukupkanlah. Tapi belum bisa menabung," katanya.

Apalagi sekarang  SPP anak sulungnya di SMK Swasta jurusan akuntansi Rp 300.000 per bulan, kadang-kadang terlambat membayar.

Demikian juga sewa rumah petak sempit di Beji Kemiri Muko Rp 800.000 per bulan. Untung sekolah maupun pemilik rumah mau mengerti keadaan Wono, meski kadang dia merasa tidak enak.

Anak keduanya masih kelas 3 SD negeri yang tidak bayar SPP. Anak ketiga baru 3,5 bulan. Bila ditotal, pengeluaran cukup berat dibanding penghasilan Wono yang makin menyusut. Tetapi nikmat rezeki Allah selalu disyukuri agar menjadi barokah.

Keripik pisang

Untuk menutup pengeluaran sehari-hari, Wono punya ide membuat keripik atau ceriping pisang. Kebetulan sang istri. Solihati, istrinya yang berasal dari Kendal piawai membuat ceriping pisang kemremes lagi empuk.

Awalnya Wono menjualnya secara terbatas masih dalam kemasan plastikan. Ternyata banyak yang tertarik karena rasanya kemremes empuk. Akhirnya Wono menjualnya per toples Rp 130.000.

Setidaknya, penghasilannya dari berjualan keripik pisang mampu menyelamatkan ekonomi keluarga. “Kalau tidak pakai toples khawatir remuk karena sangat renyah,” kata Wono setengah berpromosi. Varian rasanya manis, asin dan natural. Terbuat dari pisang kapok kuning.

Wono mencari pada pemilik pohon langsung sehingga pisang benar-benar tua. Kendalanya, bahan baku tak selalu ada. Tapi Wono tak mau mengganti dengan pisang jenis lain. Kalau pisang belum hampir matang pohon, dia memilih menunggu. Terserah pemesan mau atau tidak, tapi dia tidak mau menurunkan kualitas.

Ceriping pisang itu jadi sangat renyah. Ada rahasia pengolahannya. Keterampilannya menurun dari ibunya yang setiap lebaran selalu membuat ceriping pisang sangat renyah.

Memang butuh banyak tenaga mulai dari mencari bahan bakunya sampai proses pengolahannya. Tetapi biarlah Wono dan istri rela berkorban demi memenuhi kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya.

Wono dan istrinya punya obsesi, anak sulungnya selepas SMK langsung bekerja. Hasilnya untuk biayai kuliahnya sendiri. Harapannya, masa depan anak-anaknya lebih mapan daripada sang ayah yang lulusan SD. (*)


TAGS: keripik  pisang 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini