Selasa, 27 Okt 2020,


kenaikan-cukai-hambat-pemulihan-ekonomi-di-masa-pandemiilustrasi cukai rokok (dok. koranbernas.id)


Sarwono, MA

Kenaikan Cukai Hambat Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah diharapkan dapat menunda kebijakan Industri hasil tembakau (IHT) atau kenaikan cukai tembakau pada 2020 ini. Sebab bila kebijakan tersebut digulirkan maka dikhawatirkan dapat menghambat pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 ini.

"Kami berharap jangan kemudian pemerintah mengambil kebijakan yang justru menghambat pemulihan ekonomi karena regulasi seperti kenaikan cukai tembakau justru membatasi bangkitnya perekonomian di masa pandemi ini," ungkap Ketua PD Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM SPSI) DIY, Waljid Budi Lestarianto dalam diskusi bertajuk ‘Menilik Regulasi Industry Hasil Tembakau di Era Kenormalan Baru’, Selasa (15/9/2020).


Baca Lainnya :

Menurut Waljid, pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya pengurangan pekerja. Bahkan sebanyak 544 pabrik rokok di Indonesia pun tutup.

Karena itu mestinya pemerintah tidak membuat regulasi yang justru membatasi bangkitnya perekonomian Indonesia. Padahal sebelumnya pemerintah sudah menggulirkan stimulan tambahan upah bagi pekerja yang bergaji Rp 5 juta per bulan.


Baca Lainnya :

"Kedua kebijakan ini sangat tidak nyambung," ujarnya.

Sementara Ketua FSP RTMM SPSI Sudarto mengungkapkan sebelum pandemi Covid-19, kondisi IHT sebenarnya sudah berat. Sebab terjadi kenaikan cukai pada produk rokok setiap tahun dan menyebabkan banyak pabrik rokok yang tutup karena barangnya tidak terjual dampaknya adalah pemutusan pekerja.

Belum lagi revisi PP 109/2012 yang meminta gambar peringatan bahaya merokok diperluas pada bungkus rokok. Kebijakan tersebut dianggap semakin mematikan IHT.

 Akibatnya selama kurun 2012-2018 tercatat 544 pabrik rokok tutup karena kenaikan cukai. Jika satu pabrik memiliki 200 karyawan, maka enam tahun tahun ini terdapat 108 ribu pekerja yang kehilangan mata pencaharian.

"Ada juga masalah di internal FSP RTMM SPSI. Dalam sepuluh tahun terakhir ada sebanyak 68 ribu anggota yang keluar karena tidak lagi bekerja di industry rokok," ungkapnya.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budiono menambahkan, persoalan IHT juga berdampak pada petani tembakau dan cengkeh. Turunnya daya pembeli masyarakat menyebabkan produksi turun sehingga produk panen tembakau dan cengkeh tidak terserap.

"Kenaikan cukai saja produk rokok turun 15 persen atau 55 miliar batang dari total produksi tahun sebelumya yaitu 350 miliar batang. Jika satu batang berisikan satu gram tembakau, kalkulasi kami terdapat produk tembakau dan cengkeh dari luas lahan 55 ribu hektar yang tidak terserap," imbuhnya.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini