kebumen-anggarkan-rp-1-m-untuk-menghindari-penutupan-jalan-oleh-pt-kaiLokasi kecelakaan di Desa Kebulusan Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Minggu (16/6/2019). Di sini akan dibangun Pos Jaga Lintasan. (Nanang WH/koranbernas.id)


nanang

Kebumen Anggarkan Rp 1 M untuk Menghindari Penutupan Jalan oleh PT KAI


SHARE

KORANBERNAS.ID--Dinas Perhubungan Kabupaten Kebumen merencanakan pembangunan 6 pos jaga lintasan (PJL) jalan sebidang kereta api (KA). Penambahan 6 PJL itu, salah satu diantaranya di Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, yang menjadi lokasi tertabraknya 2 warga pelintas jalan sebidang KA, Minggu (16/6/2019) siang.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kebumen RAI Ageng Sulistyo Handoko kepada koranbernas.id, Selasa (18/6/2019).


Baca Lainnya :

Hampir 2 tahun terakhir, Dinas Perhubungan Kebumen mengelola 11 PJL di 11 jalan sebidang KA. Sebanyak 11 PJL itu sebagai wujud pelayanan publik untuk keselamatan pelintas jalan sebidang KA.

“Rencana itu sudah disetujui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretapian, Kementerian Perhubungan,“ kata Ageng S Handoko.


Baca Lainnya :

Rencana 6 PJL dibangun tahun anggaran 2020, dengan anggaran dari APBD Kabupaten Kebumen. Pembangunan 6 PJL, untuk menghindari penutupan 6 jalan sebidang KA oleh Ditjen Perkeretaapian.

Karena itu, Pemkab Kebumen siap untuk membangun 6 PJL, untuk keselamatan pelintas jalan sebidang.

Pembangunan dan pengoperasian PJL di Kabupaten Kebumen, menurut Ageng S Handoko, melalui musyawarah dengan pemerintah desa yang ada jalan sebidang.

Opsi pertama yang dipilih, desa membiayai pembangunan dan operasional PJL. Namun semua desa menolak, dengan alasan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Disamping itu, pelintas tidak semuanya warga desa setempat, meskipun jalan sebidang ada di desa mereka.

Pos Jaga lintasan yang sudah beroperasi dan yang akan dibangun sarana dan prasarananya, secara tehnis belum memenuhi standar Dirjen Perkeretaapian. Namun memenuhi standar minimal menjaga keselamatan pelintas jalan sebidang.

Palang pintu hampir sama dengan palang pintu yang dikelola PT Kereta Api Indonesia, namun belum otomatis dengan memencet tombol. Pengoperasian masih dilakukan manual , oleh petugas PJL.

“Kalau standar PT KAI per pintu lintasan bisa menelan anggaran 1 miliar,“ kata Ageng S Handoko.

Pengadaan palang pintu manual PJL dengan anggaran Rp 1 miliar untuk pengadaan sampai 6 palang pintu. Untuk mengetahui akan ada KA lewat, petugas di PJL mengandalkan jadwal perjalanan KA dan pemberitahuan dari petugas PJL sebelumnya.

Komunikasi antar petugas PJL tidak menggunakan telepon, tapi dengan pesawat handytalky. Sebelum bertugas di PJL, mereka mendapat pelatihan dari PT KAI.

Ke-11 PJL yang dikelola Dinas Perhubungan mempekerjakan 63 tenaga harian lepas (THL). Dengan honor Rp 57.000 per orang per hari, dengan hari kerja maksimal 25 hari per bulan.

Pihak desa juga keberatan membiayai honor petugas yang mengoperasikan PJL ini. (SM)


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini