atas1

Jutaan Petani Dirugikan Akibat Meluasnya Gula Rafinasi
Peredaran Hingga ke Pasar-pasar Tradisional

Minggu, 28 Jul 2019 | 21:38:16 WIB, Dilihat 721 Kali
Penulis : Rosihan Anwar
Redaktur

SHARE


Jutaan Petani Dirugikan Akibat Meluasnya Gula Rafinasi Pengurus DPP APTRI memberi keterangan pers, Sabtu (27/7/2019) sore, kepada media usai melakukan sidak peredaran gula rafinasi. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Baca Juga : Mercon Meledak di Kerumunan, Puluhan Penonton Konser Musik Kecopetan


KORANBERNAS.ID -- Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPP APTRI) meminta agar pemerintah tegas melarang peredaran gula rafinasi ke masyarakat. Gula yang seharusnya diperuntukkan hanya untuk kepentingan industri itu kini semakin banyak peredarannya di masyarakat. Jutaan petani tebu lokal terancam kerugian besar akibat peredaran rafinasi.

“Jadi, kalau gula rafinasi ada di pasar ini jelas salah,” kata Sunardi Edy Sukamto salah satu pengurus DPP ATRI, Sabtu (2//7/2019) sore, kepada sejumlah media di Yogyakarta.

Edy mengatakan peredaran gula rafinasi sangat merugikan petani tebu. Padahal sudah ada regulasi yaitu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 1 Tahun 2019 pada 11 Januari 2019 yang mengatur tata niaga gula di Indonesia. Termasuk pelarangan penjualan gula rafinasi untuk kebutuhan konsumsi masyarakat. Gula kristal impor itu hanya ditujukan untuk industri makanan dan minuman.

“Kenapa kami turun ke lapangan sampai melakukan sidak ini? Ternyata terbukti di seputaran Jawa Tengah, dan mungkin di daerah lain, bahkan di seluruh Indonesia, gula rafinasi bisa saja ada di pasar,” tuturnya saat jumpa pers di Angkringan Gajah Sleman.

Sejumlah pengurus APTRI sempat memantau di beberapa pasar-pasar tradisional, dan ditemukan banyak gula rafinasi yang  beredar. Ironisnya, maraknya peredaran rafinasi meluas di tengah petani tebu lokal sedang melakukan panen raya tebu.

“Terbukti, dua hari terakhir kami menemukan gula kemasan  1 kg di Klaten. Hari ini (Sabtu), kami lanjutkan di Jogja, di Pasar Cebongan kita temukan rafinasi kemasan ½ kg dan 1 kg. Kemudian kami lanjutkan di Pasar Borobudur, dan luar biasa sekali, di sana dijual dalam partai besar,” ungkapnya.

Tak bisa jual panenan

Akibat tidak tegasnya pengawasan pemerintah, ujar Edy, petani tebu sangat dirugikan karena tak bisa menjual hasil panen tebu di saat musim giling ke pabrik-pabrik gula.

“Jadi inilah yang menyebabkan saat ini, kita sedang musim giling, panen raya tebu petani, hasil gulanya tidak bisa dijual karena di lapangan sudah dipenuhi gula-gula rafinasi,” terangnya.

Menurut perhitungan Bendahara Umum DPP APTRI itu, pengusaha gula rafinasi yang memasok gula mentah (raw sugar) dari luar negeri dan mengolah kembali di dalam negeri menjadi gula kristal, hanya membutuhkan biaya keseluruhan sebesar Rp 8.500 per kg. Sementara di pasaran, gula rafinasi hanya dijual Rp 10.000 perkilonya.

Hal itu yang menyebabkan, masyarakat Indonesia memilih gula dengan harga yang lebih murah. Bandingkan dengan harga gula pabrik yang berasal dari tebu rakyat, dijual paling minim Rp 11.000 per kg. harga itu mengacu pada Harga Patokan Petani (HPP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 9.700 per kg. Angka itu masih belum ditambah ongkos produksi dan distribusi.

“Inilah mereka yang menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan. Sementara yang dirugikan adalah jutaan manusia yang terlibat dalam pergulaan nasional,” tambah dia.

Sunardi Edy Sukamto juga menyesalkan keberadaan Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag Nomor 1 Tahun 2019 tidak memiliki taring hukum yang kuat. Sunardi pun mengecam pemerintah tidak tegas mengawasi tata niaga gula untuk melindungi petani tebu lokal.

“Pemerintah kami anggap tidak tegas terhadap UU yang diterbitkan, seperti hanya macan kertas. Karena sampai saat ini, pelanggaran yang telah ada, tidak keluar sanksi. Sanksi administrasi maupun pencabutan izin usaha mereka, seakan-akan hanya pembinaan. Ini sudah nggak benar,” tandasnya kepada koranbernas.id.

Dari pantauan APTRI, merembesnya gula kristal rafinasi ke pasar-pasar tradisional dan berjejaring akibat keran impor berlebihan yang diperbolehkan oleh Kementerian Perdagangan. Secara nasional kebutuhan gula masyarakat dan industry mencapai 4,7 – 5 juta ton per tahunnya. Namun anehnya, kapasitas pabrik pengolahan gula rafinasi di Tanah Air dibiarkan membesar hingga lebih dari lima juta ton gula per tahun. (ros)

 



Minggu, 28 Jul 2019, 21:38:16 WIB Oleh : Sari Wijaya 953 View
Mercon Meledak di Kerumunan, Puluhan Penonton Konser Musik Kecopetan
Minggu, 28 Jul 2019, 21:38:16 WIB Oleh : Sari Wijaya 660 View
Tidur di Paku Tajam, Limbad Ditindih Batako
Minggu, 28 Jul 2019, 21:38:16 WIB Oleh : Arie Giyarto 920 View
Sangat Panas, Suhu di Mekkah 45 Derajat Celcius

Tuliskan Komentar