atas1

Juki Kill The DJ Sebut Ari WVLV Unik

Minggu, 21 Jul 2019 | 20:20:29 WIB, Dilihat 685 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Juki Kill The DJ Sebut Ari WVLV Unik Penampilan Ari WVLV pada FKY 2019 di Museum Gunung Merapi Yogyakarta, Jumat (19/7/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Rute Tour de Ambarrukmo Cukup Menantang


KORANBERNAS.ID -- Sejauh 25 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, Museum Gunung Merapi layak disebut sebagai venue terjauh Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019.

Mendung yang menggelayuti kota Yogyakarta sejak siang membuat pengunjung yang berniat datang (apalagi panitia FKY) deg-degan. Bukan takut kena air, tapi takut terhambat di perjalanan karena bergelimang hujan.

Sejak memasuki area museum, panji-panji FKY 2019 sudah menyambut pengunjung. Lampu terlampau terang membuat potongan-potongan video suguhan visual Jogjakarta Video Mapping tidak terlalu jelas terlihat.

Ragam tema FKY 2019 dan beberapa visual menarik diproyeksikan pada bangunan Museum Gunung Merapi nan gagah.

Amphiteater yang tepat di Utara Museum Gunung Merapi (MGM) adalah venue acara di penghujung rangkaian FKY 2019. Bertajuk Lintasan: Wahana Musikal, Ari WVLV ingin mengajak penonton untuk bersama-sama menyaksikan dan merayakan interaksi antarseniman di Yogyakarta tanpa batasan genre.

Sepanjang pertujukannya seniman dengan nama lahir Ishari Sahida tersebut berkolaborasi dengan komposer noise music Andreas Siagian, aksi teaterikal Papermoon Puppet, deklamasi Handoyo Purwowijoyo, pentas wayang dari Wayang Bocor, juga Taman, Bunga dan Darah lighting show.

Tak hanya bisa bersantai di arena beanbag bersanding dengan api unggun-api unggun kecil. Suhu 19°C membuat banyak penonton merapat di stan makanan sambil menyantap gorengan dan minuman hangat.

Pengunjung juga dapat menjajal permainan interaktif bertajuk Tidy Up Vinnie’s Room garapan Indie Guerillas.

“Panggung ini bukan hanya tentang saya, tapi juga tentang Jogja, yang menginisiasi apapun tanpa pikir panjang, selagi itu tentang penciptaan, budaya, kreasi dan kesenian,” kata Ari Wvlv dalam pidato kebudayaannya di Amphiteater Museum Gunung Merapi Yogyakarta, Jumat (19/7/2019).

Dia berkisah mengenai eksplorasi musiknya yang dimulai ketika menggemari musik rock Sepultura, rap saat menonton Iwa K, teater dan film ketika SMA, hingga dikenalkan pada musik elektronik oleh almarhum ayahnya Sang Maestro Gamelan, Sapto Raharjo.

Kill The DJ serta Gepeng Kesana Kesini pun menambahkan pidato budayanya yang menceritakan kesan mereka berkawan dengan Ari Wvlv.

Menurut Juki Kill The DJ, Ari Wvlv merupakan institusi tersendiri yang unik dan khas serta patut untuk dirayakan bersama.

Sedangkan Gepeng sebagai penutup menyatakan Ari Wvlv merupakan seniman yang sering berkolaborasi dengan seniman lain dan lintas aliran hingga bila dijadikan sebuah buku akan sangat tebal.

Secara umum, mereka ingin menyatakan Ari Wvlv merupakan salah satu dari sekian cara menggambarkan inklusivitas Yogyakarta sebagai ruang berkesenian.

Gerimis rapat turun di tengah-tengah acara, namun para penonton masih setia mengitari amphitheater untuk menyaksikan berbagai hasil kolaborasi Ari Wvlv.

Kelap-kelip lampu panggung terproyeksi pada pohon-pohon pinus di belakang panggung. Musik dengan beat techno seperti sebuah aba-aba yang tanpa sadar membuat penonton bergoyang atau hanya mengangguk-angguk.

Terlebih saat Soundboutique tampil sambil mengajak penonton membebaskan tubuh mereka untuk bergoyang dalam balutan musik elektronik.

Udara yang terasa dingin menghangat dengan hentakan musik mereka yang berhasil menutup acara dengan riuh tepuk tangan gembira. (sol)



Sabtu, 20 Jul 2019, 20:20:29 WIB Oleh : Nila Jalasutra 990 View
Rute Tour de Ambarrukmo Cukup Menantang
Sabtu, 20 Jul 2019, 20:20:29 WIB Oleh : Nila Jalasutra 612 View
Budaya Jawa Membawa Kesejukan
Sabtu, 20 Jul 2019, 20:20:29 WIB Oleh : Sholihul Hadi 6225 View
Awan Hitam Selimuti Yogyakarta

Tuliskan Komentar