atas1

Jauh-jauh dari Suriname Pamer Pisang Goreng

Selasa, 19 Mar 2019 | 13:11:13 WIB, Dilihat 2895 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Jauh-jauh dari Suriname Pamer Pisang Goreng Stefanie Dewy Wagirah Sewotaroeno berfoto di antara properti booth pameran negaranya di ajang lCCF 2019 di Sportorium UMY, Senin (18/3/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Polwan Pimpin Polsek Kuwarasan


KORANBERNAS.ID – Fanie, dia biasa dipanggil, merupakan mahasiswi asal Suriname yang ikut berpartisipasi dalam International Cultural and Culinary Festival (lCCF) 2019. Perempuan berambut ikal ini bernama lengkap Stefanie Dewy Wagirah Sewotaroeno.

"Ya, susunan namaku sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia. Di Suriname kami memakai susunan kata bahasa Belanda," katanya kepada koranbernas.id saat pembukaan lCCF 2019 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (18/3/2019).

Walau sendirian mengikuti ICCF 2019, Fanie sangat bersemangat menyiapkan properti pendukung booth pamerannya.

Balon dan pita berwarna identik dengan bendera Suriname disusun menggantung pada langit-langit booth berukuran 2x3 meter persegi.

Gambar hewan dan tumbuhan khas dia tempelkan sebagai pelengkap. Dengan bantuan teman pria Afrika-nya, Fanie hanya punya sisa waktu dua jam termasuk menyiapkan masakan yang akan dipamerkan.

"Aku akan membuat pisang goreng."

"Pisang goreng ini pokoknya beda dengan pisang goreng Indonesia."

Fanie memang bukan mahasiswa yang khusus datang untuk acara ICCF 2019. Program belajar tentang kebudayaan Indonesia dia ikuti sejak setahun lalu di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

"Kami hanya berdua, tapi temanku yang satunya belajar di Bali," paparnya.

Fanie mengaku biaya perjalanan yang mencapai 3.000 Dolar membuat tidak banyak mahasiswa Suriname bisa datang belajar ke Indonesia. "Biaya perjalanan tidak ditanggung oleh negara," ujarnya.

Berbeda lagi dengan Tia, Mahasiswi asal University Utara Malaysia ini belum setahun belajar di UMY. Tia dan lima orang temannya ikut berpartisipasi dalam acara ICCF 2019.

"Acara ini bagus, bisa buat kami kenal dengan budaya Negara Jiran," paparnya.

Tia tidak terlalu memperhatikan penampilan booth pamerannya. Tapi sejak awal perwakilan Negara Malaysia ini sudah siap dengan hidangan Cake Batik.

Roti berbahan cokelat, susu kental manis dan margarin ini memperlihatkan pola-pola asimetris dalam tiap irisannya. "Itulah mengapa diberi nama Cake Batik," tambah Tia.

Perwakilan Mahasiswi Malaysia menyiapkan kuliner yang dipamerkan di lCCF 2019. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Direktur Eksekutif Kerja Sama dan Urusan Internasional UMY, Eko Priyo Purnomo,  menyampaikan ada beberapa catatan penyelenggaraan acara ini.

"Pertama, tahun lalu kita hanya mengundang 15 negara maka tahun ini kita berharap 20 negara, tetapi ternyata malah melampaui sampai 30 negara," paparnya.

Menurut dia, apabila tahun lalu area pameran hanya kecil di bawah bangunan masjid kampus UMY, sekarang diadakan di Sportorium karena antusiasme lebih meningkat.

Kedua, dari segi aktivitas tahun lalu hanya sehari berupa Culture dan Food Festival saja. “Tahun ini kita laksanakan tiga  hari karena dengan asumsi pesertanya lebih banyak,” tambahnya.

Muhammadiyah khususnya UMY tidak hanya bergerak di dalam dunia pendidikan.  “Maka yang kita tambahkan pada hari pertama adalah charity. Kita datang ke panti asuhan di Lowano. Lalu kita akan tour ke tempat-tempat wisata, karena misi kita Selain mempromosikan UMY dan Muhammadiyah juga ingin mempromosikan Indonesia dan Yogyakarta,” paparnya.

Siapa pun dari negara mana pun boleh ikut jadi peserta. “Asal bisa dipastikan makanan atau kuliner yang disuguhkan halal dan thayib," kata Eko.

Dia bersyukur selama ini tidak pernah ada kendala penyelenggaraan acara bertaraf Internasional ini. "Itu semua karena UMY punya jejaring dan hubungan yang baik terhadap negara-negara asing. Kami juga didukung oleh jaringan luar negeri dan mahasiswa-mahasiswa," paparnya.

Ini terbukti dengan adanya mahasiswa dari Taiwan dan China yang datang hanya karena ingin mengikuti acara ini. “Langsung balik lagi, bahkan mereka baru pertama kali datang ke UMY dan Indonesia," kata Eko. (sol)



Selasa, 19 Mar 2019, 13:11:13 WIB Oleh : Nanang WH 890 View
Polwan Pimpin Polsek Kuwarasan
Senin, 18 Mar 2019, 13:11:13 WIB Oleh : Sholihul Hadi 885 View
Ciri Khas Produk Pendidikan DIY Terancam Hilang
Senin, 18 Mar 2019, 13:11:13 WIB Oleh : Endri Yarsana 1013 View
Wajib Pajak Harus Patuh Bayar Kewajibannya

Tuliskan Komentar