atas1

Ironis, Gudangnya Dokter Gigi tapi Karies Tinggi

Kamis, 18 Okt 2018 | 00:04:19 WIB, Dilihat 1631 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Ironis, Gudangnya Dokter Gigi tapi Karies Tinggi drg. Ahmad dan drg. Ratu Mirah Afifah berbincang dengan salah satu pasien saat mengunjungi praktek pelayanan periksa gigi dan mulut. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID - Riset Kesehatan Dasar 2013 (Rikesda 2013) yang dirilis Departemen Kesehatan menyebutkan, Yogyakarta merupakan kota yang paling buruk terkena masalah gigi berlubang (karies). Padahal kota ini memiliki jumlah dokter gigi yang banyak.

"Ini kan ironis, jogja gudangnya dokter gigi, pabriknya dokter gigi, tapi paling buruk dari indeks rata-rata kerusakan, gigi berlubang, gigi yang hilang dan tambalan masih paling tinggi dibanding daerah lain." papar Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp. Perio (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM disela Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Prof. Soedomo UGM, Rabu (17/10/2018).

Menurut Syaify, persoalan terbesar di bidang kedokteran gigi adalah gigi berlubang (karies). Karenanya BKGN 2018 memberikan edukasi mengenai pentingnya mewaspadai gula tersembunyi yang menjadi salah satu pemicu masalah karies atau gigi berlubang.

Edukasi itu dipercaya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Yogyakarta. Sebab selain ragam penganan khas Yogyakarta yang memang dikenal dengan cita rasanya yang manis, ternyata banyak pula kuliner lokal yang meskipun tidak bercitarasa manis namun memiliki kandungan gula tersembunyi dan bisa menyebabkan karies.

Misalnya beberapa menu makanan khas masyarakat Yogyakarta seperti Mangut, Tengkleng, Sate Klatak, hingga Sambel Krecek.

Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent MDSc mengungkapkan tahun ini merupakan tahun ke-9 pelaksanaan BKGN di Yogyakarta. Di setiap pelaksanaannya mereka selalu mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat.

"Artinya masyarakat Yogyakarta memang memiliki kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut mereka. Tahun ini kami memiliki target untuk memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan gigi ke 1.000 orang masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya."

Sejak pertamakali diadakan tahun 2010, melalui pelaksanaan BKGN Pepsodent, PDGI dan AFDOKGI memiliki komitmen berkelanjutan untuk mengedukasi, memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, sekaligus membiasakan masyarakat Indonesia merawat kesehatan gigi dengan menyikat gigi pada pagi dan malam hari, serta memeriksakan diri ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali.

"Setiap tahunnya, kami selalu mengangkat berbagai tema menarik dan terkini. Tahun ini, tema risiko gula tersembunyi terhadap kesehatan gigi dan mulut menjadi pilihan karena ternyata masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa makanan atau minuman yang tidak manis sekalipun dapat mengandung gula penyebab gigi berlubang," tandasnya.

Mirah menyebutkan, World Health Organization (WHO) menganjurkan bahwa asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman tidak melebihi 50 gram per hari untuk dewasa dan 30 gram per hari untuk anak. Sayangnya, data Survey Konsumsi Makanan Individu (SKMI) Indonesia tahun 2014 menyatakan sebanyak 29,7% masyarakat Indonesia mengonsumsi gula harian melebihi batas rekomendasi tersebut. Konsumsi gula berlebih ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan kehadiran gula tersembunyi.

Selama ini kita tidak menyadari bahwa konsumsi gula sehari-hari ternyata layaknya sebuah 'gunung es'. Makanan dan minuman yang bercitarasa manis sebenarnya hanya sebagian kecil dari gula yang kita konsumsi, di luar itu, faktanya begitu banyak jenis makanan dan minuman tidak manis namun mengandung gula tersembunyi yang menimbulkan berbagai risiko kesehatan, termasuk gigi berlubang," jelasnya.(yve)



Tuliskan Komentar