atas1

Idealnya Basarnas Miliki 10 Ribu Personel

Senin, 15 Okt 2018 | 14:02:49 WIB, Dilihat 843 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Idealnya Basarnas Miliki 10 Ribu Personel Mayjen TNI Nugroho Budi W menyampaikan keterangan pers di sela-sela seminar internasional, Senin (15/10/2018), di Sekolah Pascasarjana UGM. (yvesta putu sastrosoenjdojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Bimasakti UGM Siap Tanding ke Jepang


KORANBERNAS.ID – Berkaca dari pengalaman terjadinya bencana alam di Indonesia yang datang seperti beruntun, Badan SAR Nasional (Basarnas) idealnya memiliki personel yang cukup.

Apalagi wilayah Indonesia sangat luas. Jika terjadi bencana, personel Basarnas dituntut mampu bergerak cepat menuju lokasi guna melaksanakan tugas menolong para korban.

“Basarnas sampai saat ini memiliki jumlah personel 3.400 orang. Masih jauh panggang dari api. Idealnya 7 ribu sampai 10 ribu personel,” ungkap Mayjen TNI Nugroho Budi W, Deputi Operasi dan Kesiapsiagan Basarnas.

Kepada wartawan di sela-sela International Seminar on Coordination in Emergency Response Management, Senin (15/10/2018) di Sekolah Pascasarjana UGM, dia menyampaikan kekurangan personel bukanlah penghalang untuk melaksanakan tugas sekaligus menujukkan kehadiran pemerintah di lokasi bencana.

Beruntung, lanjut dia, kekurangan personel tersebut sedikit demi sedikit mampu diatasi dengan adanya tambahan personel baru melalui rekrutmen CPNS meski jumlahnya relatif masih sedikit.

Kekurangan itu juga diatasi dengan cara pengembangan potensi agar personel Basarnas berstandar internasional. “Di pusat kita punya BSG (Basarnas Spesial Group). BSG ini tangan kanan pemerintah supaya kita bisa all out dan menunjukkan kehadiran pemerintah saat terjadi bencana,” kata Mayjen TNI Nugroho Budi W, seraya mencontohkan personel Basarnas langsung berada di lokasi bencana Palu Sulteng dalam waktu cepat.

Menurut dia, kerja sama antara Basarnas dengan Sekolah Pascasarjana UGM yang sudah terjalin selama ini merupakan bagian dari upaya pengembangan potensi. Jika sudah berstandar internasional ibaratnya tidak seperti katak dalam tempurung.

“Kita perlu meningkatkan SDM agar lebih terampil dan profesional di bidang-masing. Selain dengan UGM kita juga kerja sama dengan kementerian. Peralatan rescue kita sudah memadai meski sebagian dari luar. Kita perlu penguatan supaya tidak gagap jika ada bencana,” ujarnya didampingi Karo Perencanaan Basarnas, Haris.

Dia menambahkan, kerja sama dengan UGM harus ditingkatkan. Saat terjadi bencana, jika peralatan dan pengetahuan Basarnas tidak memadai maka akan sulit melaksanakan tugas di lapangan.

Hal ini mengingat pada tahap tanggap darurat Basarnas memiliki peran penting sebagai responder utama untuk menolong korban pada reruntuhan bangunan, ruang tertutup (terjebak dalam goa), atau terjebak di struktur bangunan yang membutuhkan tenaga khusus dan peralatan khusus untuk menyelesaikan misi.

Artinya, peningkatan kapasitas Basarnas maupun masyarakat umum terkait emergency response management diharapkan dapat menjadi salah satu nilai tambah yang sangat berguna di tengah kondisi Indonesia yang rawan terhadap bencana.

Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Prof Dr Siti Malkhamah MSc Ph D menyampaikan kerja sama dengan Basarnas penting untuk meningkatkan kapasitas SDM dan pengelolaan bencana supaya penanganannya lebih cepat dan baik.

Terdapat banyak aspek yang perlu ditangani secara khusus oleh personel yang memiliki keahlian, salah satunya pengelolaan bantuan dari luar negeri maupun koordinasi lintas sektor.

Mewakili Pemerintah DIY, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana, menyampaikan apresiasi pelatihan respons cepat yang dilakukan oleh Basarnas.

Menurut dia, peningkatan SDM merupakan kata kunci karena yang dibutuhkan adalah SDM mumpuni mengingat setiap setiap kali terjadi gempa tingkat penanganannya pun berbeda. Selain itu, juga diperlukan sinergi dengan pemda yang memiliki otoritas.

Pada seminar yang berlangsung sehari ini diundang sejumlah narasumber di antaranya Prof Ir Teuku Faisal Fathani ST MT Ph D IPM (Ketua Program Studi Magister Manajeman Bencana Sekolah Pascasarjana UGM).

Kemudian, Oliver Lacehall (UN-OCHA), Yosuke Okita dari Keio University Jepang serta Didi Hamzar S Sos MM, Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan. (sol)



Sabtu, 13 Okt 2018, 14:02:49 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 809 View
Bimasakti UGM Siap Tanding ke Jepang
Tuliskan Komentar