Selasa, 15 Jun 2021,


dusun-mlangi-penjaga-pelita-dinasti-mataram-islamAktivitas ngaji di Dusun Mlangi Desa Nogotirto Kecamatan Gamping Sleman.  Lebih dari seratus tahun Mlangi menjadi pusat syiar Islam di Yogyakarta dan Nusantara. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar
Dusun Mlangi Penjaga Pelita Dinasti Mataram Islam

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Ramadan bukanlah bulan yang biasa bagi masyarakat Dusun Mlangi. Di bulan yang penuh berkah tersebut, masyarakat Dusun Mlangi lebih giat dan tekun beribadah serta memperdalam ilmu agama.


Mendaras kitab-kitab Klasik dalam pustaka keilmuan hadits, fikih ataupun sirah menjadi hal yang lumrah ditemui. Hal itu berawal dari keberadaan Mlangi dan juga Masjid Jami’ Nur Iman yang merupakan Masjid Pathok Negara Kerajaan Mataram Islam Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Secara harfiah, Masjid Pathok Negara merupakan masjid-masjid yang dibangun Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penanda batas wilayah Negaragung atau zona penyangga wilayah kesultanan Mataram Islam tersebut. Jumlahnya ada empat buat dan tersebar pada empat penjuru mata angin.

KH Hasan Abdullah, salah seorang ulama karismatik di kampung tersebut menuturkan, Mlangi didirikan oleh adik pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hamengkubuwono I, yaitu Kiai Nur Iman. Bangsawan bernama asli RM Sandewo itu mengembangkan kampung yang terletak di Kalurahan Nogotirto Kapanewon Gamping Sleman itu sebagai pusat syiar agama Islam di Tanah Jawa sejak abad ke-18.


“Jadi Mlangi itu kan keturunan dari Mbah Kiai Nur Iman. Mbah Kyai Nur Iman itu keluarga kerajaan yang lebih cenderung menekuni agama daripada merembug kekuasaan. Dan tampaknya, sikap itu menurun ke anak cucu beliau,” ungkapnya kepada koranbernas.id.


Hasan Abdullah, tokoh masyarakat dan pengajar di Pondok Pesantren As-Salafiyyah itu menyebutkan pada era tahun 1970-an, masih banyak warga Mlangi yang tidak menempuh pendidikan formal. Namun, pendidikan agama di pesantren menjadi pelita kehidupan masyarakat Mlangi.


“Sekitar tahun 70-an, di Mlangi itu hampir tidak anak yang sekolah. Jarang sekali anak-anak muda yang lulus SMA. Tapi, semua laki-laki dan perempuan itu mondok di berbagai pesantren,” ungkap Hasan Abdullah.

Khazanah keilmuan

Berkembang luasnya pesantren di Mlangi Yogyakarta dan bahkan sejumlah daerah di Nusantara juga tak terlepas dari kiprah para santri jebolan Mlangi.

“Mereka rata-rata belajar di pondok pesantren, termasuk di luar Mlangi seperti di Magelang, di Lasem, Bojonegoro, Termas dan sebagainya, mereka pulang akhirnya menjadi kader-kader ulama atau kiai,” terang dia.

Perkembangan Mlangi dalam kurun waktu lebih dari seratus tahun juga bermula dari alumni berbagai pondok pesantren di Nusantara yang kembali ke Mlangi. Dengan keragaman khazanah keilmuan Islam yang mereka miliki, perlahan-lahan mulai menjamur keberadaan pondok pesantren di dusun yang masuk Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman itu.

“Ketika pulang mereka membawa ragam disiplin ilmu yang sesuai dengan pondok mereka masing-masing. Dan ini ketemu dengan kepentingan masyarakat yang sesuai dengan tantangan zaman membutuhkan keragaman ilmu. Semakin hari semakin membutuhkan keragaman, yang kemudian membuat masyarakat banyak belajar kepada Kiai A atau Kiai B sehingga akhirnya lahirlah pondok pesantren,” tuturnya.

Dengan beragamnya khazanah keilmuan yang ada, Hasan mengungkapkan, seorang santri bisa mempelajari banyak ilmu yang berbeda dan memperdalamnya hanya di Mlangi, tanpa perlu berkeliling di pondok pesantren-pondok pesantren terkemuka yang ada di Tanah Air.

“Bahkan untuk santri bisa belajar secara lengkap di Mlangi ini untuk menjadi ulama yang paripurna. Asalkan santri itu sabar dan kiai-nya mau telaten membina santri tersebut. Kemungkinan untuk menjadi ulama yang paripurna sangat besar karena beragamnya ilmu-ilmu yang dimiliki pondok-pondok pesantren di sini,” sebutnya.

Cahaya Islam semakin hidup

Ulama kelahiran Jawa Timur yang telah 40 tahun menetap di Mlangi itu menyebutkan, nilai dan ajaran agama semakin dihidupkan di bulan Ramadan. Hasan Abdullah menyebutkan aktivitas keagamaan diibaratkan berlangsung sehari semalam.

“Ramadan itu di Mlangi sangat khas, meskipun Mlangi itu dusun yang hidup 24 jam, tapi di bulan Ramadan nuansanya lebih semarak. Orang itikaf misalnya di masjid itu biasa, tapi di bulan Ramadan banyak orang-orang dalam kelompok kecil yang melakukan itikaf di masjid. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang dikoordinasi oleh masjid itu sendiri seperti Tarawih, tadarus Al Quran, pengajian orang tua, anak-anak, itu dipenuhi oleh kegiatan ibadah yang didirikan masyarakat,” paparnya.

Hajjah Lina Marchumah, istri dari KH Nur Hamid, selaku pengasuh Pondok Pesantren As-Salafiyyah 1 Mlangi menyebutkan, tradisi Mlangi saat ini banyak dihidupkan oleh ribuan santri yang menimba ilmu di berbagai pondok pesantren yang ada di situ.

Aktivitas santri pun beragam, dari yang sepenuhnya menuntut ilmu agama, atau sembari bekerja dan belajar ilmu agama, maupun hanya memperdalam kajian tertentu saja dari ilmu agama.

“Yang menarik  di bulan Ramadan itu, ngaji kitab kuning. Kalau di madrosi ini mulai ngaji habis Tarawih sampai pukul 22:00. Nanti dilanjutkan salat sunnah dan kemudian Subuh, setelah itu dilanjutkan mengaji kitab lagi,” sebutnya ketika diwawancarai akhir April silam.

Salah satu sudut Pondok Pesantren Mlangi Sleman. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Perjuangan Kiai Nur Iman

Lina Marchumah menuturkan, banyaknya santri dari berbagai daerah di Nusantara yang mondok di Mlangi bahkan berbanding jauh dengan jumlah warga asli kampung Mlangi yang menimba ilmu agama. “Penduduk sini malah cuma sedikit, kebanyakan malah dari luar daerah. Dari luar Jawa itu banyak sekali,” kata dia.

Aprian Nur Hafidz, pengajar di Pondok Pesantren As-Salafiyyah 2 menuturkan, kajian di bulan Ramadan juga diperkaya jika dibandingkan di bulan-bulan biasa. Santri pun diwajibkan untuk mengkhatamkan Al Quran pada bulan puasa.

“Dari segi jam ngajinya itu ditambah juga. Pagi mengaji. Sore pun mengaji. Malam juga. Yang dikaji berbeda dari kitab-kitab yang biasanya. Dari tadarus Al Quran juga berbeda. Sehabis salat Tarawih itu dibagi berkelompok-kelompok sehingga satu malam bisa khatam Al Quran,” terang Aprian.

Antusiasme tinggi untuk terus meningkatkan syiar Islam yang tampak di Mlangi saat ini tak lain adalah buah perjuangan Kiai Nur Iman sendiri yang mendirikan kampung tersebut.

Setidaknya hingga saat ini ada 15 pondok pesantren pada wilayah yang hanya terdiri dari tiga RW dan 13 RT tersebut. Meski terbilang kecil, cahaya Islam tak pernah sedetik pun redup di kampung tersebut. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini