Minggu, 01 Agu 2021,


dusun-kiringan-pusat-jamu-gendong-mencoba-bangkitModel memperagakan cara memproduksi jamu di Desa Wisata Kiringan Canden Jetis Bantul. (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Dusun Kiringan Pusat Jamu Gendong Mencoba Bangkit

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Dusun Kiringan Kalurahan Canden Kapanewon Jetis Bantul dikenal sebagai sentra produksi jamu tradisional atau jamu gendong. Terdapat 130  orang, didominasi kaum ibu, setiap hari memproduksi jamu berbahan empon-empon dan rempah-rempah. Sebut saja  jamu beras kencur, kunir asem, temulawak, uyup-uyup, jamu pegel linu dan aneka jenis jamu lain.


Mereka menjual jamu tidak hanya di wilayah Bantul namun seluruh DIY. Jika dulu digendong dengan jangkauan terbatas, kini banyak warga menggunakan sepeda onthel  dan sepeda motor sehingga pemasaran semakin luas. Produksi jamu tidak bersamaan. Ada yang mateng dan siap jual pagi, ada yang siang serta sore.

  • Banyak Jamu Gendong di Kiringan

  • Eksitensi jamu gendong Kiringan menjadikan tempat ini sebagai jujugan wisatawan. Seiring waktu menjelma menjadi Desa Wisata Jamu. Sebagian pengunjung ingin menikmati olahan jamu alami nan segar. Sebagian lagi belajar membuat jamu, mulai dari memilih bahan, membersihkan, ndeplok, memeras, mengolah hingga menjadi jamu siap minum. Selebihnya melakukan penelitian tugas belajar. Kiringan juga tujuan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.

    Berbagai kegiatan dan hiruk pikuk penjual jamu bergelut dengan empon-empon, rempah-rempah maupun menyambut para tamu yang datang, nyaris terhenti sejak pandemi Covid-19 melanda negara ini awal tahun 2020. Sudah hampir satu  tahun tidak lagi ada tamu lokal maupun mancanegara.


    Barulah ketika sudah diizinkan berkegiatan dengan cara adaptasi kebiasaan baru, satu-dua rombongan tamu mulai  datang. Warga padukuhan ini pun mencoba bangkit. “Saya beberapa hari lalu menerima kunjungan  tamu, untuk belajar membuat jamu,” kata M Sutrisno, pengelola Sentra Desa Wisata Jamu Kiringan kepada koranbernas.id di sela-sela pemotretan model oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) DIY bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Bantul, Sabtu (19/6/2021).

    Saat menerima tamu, pengelola menerapkan protokol kesehatan. Semua wajib menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir serta menghindari kerumunan. Ini untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

    Pembuat jamu yang tergabung dalam koperasi  “Seruni Putih” saat ini bertahan dengan terus memproduksi jamu dan memasarkan  ke lokal wilayah Bantul serta tempat wisata tidak jauh dari Kiringan. Misalnya Bendung Tegal yang ramai dikunjungi pada akhir pekan.

    Berjualan ke lokasi yang jauh belum dilakukan mengingat masih ada pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat.  Upaya lain, mereka membuat jamu serbuk atau kemasan kemudian dipasarkan secara online.

    Guppianto Susilo MM selaku Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bantul mengatakan berbagai upaya terus  dilakukan agar Sentra Jamu Kiringan tetap eksis di tengah pandemi. Salah satunya berpromosi dan mengenalkan kepada publik, termasuk kegiatan pemotretan oleh PFI yang diikuti belasan fotografer profesional itu.

    Mereka mengambil gambar mulai pembuatan jamu maupun suasana alam Kiringan yang hijau, asri dan jauh dari kebisingan dengan pemandangan hamparan sawah yang luas. Diharapkan hasil karya PFI menjadi daya tarik berkunjung ke Kiringan ketika hasil foto mereka dipublikasikan.

    “Satu lagi, jamu juga terbukti meningkatkan imun, sehingga  sangat pas diminum dalam situasi seperti sekarang,” katanya.

    Masyarakat tidak perlu ragu-ragu datang dan membeli jamu olahan warga Kiringan, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan sembari menikmati alam desa yang alami.

    Kiringan mudah dijangkau. Rutenya, dari Perempatan Bakulan Jalan Parangtritis ke arah timur, perempatan pertama ke arah selatan dan ada papan petunjuk lokasi. (*)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini