atas

Dianggap Mengganggu, Warga Adukan Pendemo Kantor Gojek

Jumat, 12 Apr 2019 | 14:40:43 WIB, Dilihat 395 Kali - Oleh Surya Mega

SHARE


Dianggap Mengganggu, Warga Adukan Pendemo Kantor Gojek Ilustrasi

Baca Juga : Bambang dan Nasir Resmikan Universitas Perwira Purbalingga


KORANBERNAS.ID—Belum membuahkan hasil, para pengemudi ojek online yang melakukan aksi demo mogok makan di kantor Gojek, justru harus berurusan dengan warga sekitar. Masyarakat yang merasa terganggu dengan aktivitas aksi, mengadukan mereka ke kepolisian.

Dalam penjelasannya ke media, warga Giwangan, Umbulharjo mengaku sangat terganggu dengan aksi ini. Gangguan terutama dialami warga yang saban hari berjualan di sekitar lokasi.

“Ya mengganggu sekali. Karena jumlah mereka banyak dan parkir semaunya sendiri. Di pinggir jalan dan bahkan tidak sedikit yang parkir di halaman warga tanpa izin,” kata Ketua RW 11 Ghufron, Jumat (12/4/2019).

Sebagaimana santer diberitakan, Front Independen Driver Online Indonesia (FI) melakukan aksi mogok makan di Kantor Gojek di Umbulharjo. Aksi demo dilakukan terutama oleh pengemudi online roda 4.

Warga Mendungan, Giwangan, Umbulharjo, memutuskan untuk secara resmi melaporkan aksi ini yang bagi mereka sudah meresahkan. Dituangkan dalam surat resmi ditandatangani Ketua RT 31, Ketua RT 33, ketua RW 11, dan ditandantangi kelurahan Giwangan.

”Kami terpaksa melayangkan surat laporan ke kepolisian. Kami tidak ingin akibat aksi ini, warga resah dan terganggu aktivitas rutin sehari-hari. Kami berharap petugas di Polsek Umbulharjo serius menindaklanjuti laporan ini,” katanya.

Surat yang ditujukan kepada Kapolsek Umbulharjo itu melaporkan bahwa kegiatan demonstrasi pengemudi online roda 4 di kantor Gojek cabang Yogyakarta kian meresahkan.

Terlebih para peserta aksi membawa kendaraan pribadi yang diparkir di jalan Imogiri Timur dan sampai masuk ke dalam perkampungan warga sekitar.

Aksi mitra transportasi online itu, kata Guhfron dinilai mengganggu kenyamanan termasuk aktivitas ekonomi warga yang berdagang di pinggir jalan. Selain itu, warga kerap mengalami hal serupa sehingga memutuskan melaporkan aksi tersebut.

“Surat sudah kami kirimkan Rabu (10/04/2019). Aksi mereka sudah mengganggu aktivitas warga sehari-hari, termasuk berdagang. Kami sebenarnya tida mempermasalahkan aksinya, tapi harusnya mereka memperhatikan kepentingan umum juga kan,” imbuhnya.

Alfianto Domy Aji, Head of Regional Corporate Affairs GOJEK mengatakan, pihaknya menghormati aspirasi dari seluruh mitra di Yogyakarta. Manajemen juga selalu membuka ruang diskusi dua arah antara mitra pengemudi dan manajemen melalui Kopdar. Dalam kesempatan tersebut, Mitra bebas menyampaikan aspirasi dan masukan mereka.

Bahkan saat aksi berlangsung, manajemen juga memberikan fasilitas berupa atap peneduh yang layak dan juga tenaga medis serta ambulans, sehingga peserta aksi lebih nyaman.

Terkait dengan aspirasi pendemo, Aji mengatakan, berdasarkan rapat di Kementerian Perhubungan Jakarta antara perwakilan driver, aplikator dan Kementerian Perhubungan pada tanggal 9 April 2019, maka mekanisme penyelesaian untuk permasalahan open suspend akan ditampung oleh Kementerian Perhubungan.

Hal ini bisa dilakukan oleh seluruh mitra/komunitas driver dengan memberikan daftar mitra untuk kemudian diserahkan kepada Kementerian Perhubungan.

Gojek juga akan akan melakukan evaluasi berdasarkan data yang ada dan dari nama yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan. Evaluasi akan dilakukan berdasarkan sistem dan kebijakan supensi yang baru.

Sebelumnya, mitra pengemudi transportasi online di Yogyakarta (Jogja) juga menolak ajakan aksi demonstrasi dalam rangka menyampaikan aspirasi ke pihak aplikator. Cara perundingan dianggap lebih tepat tanpa berpotensi mengganggu aktivitas kerja harian.

Handrianto dari Paguyuban Gojek Jogja (Pagoja) mengatakan pihaknya menolak aksi demo yang dilakukan oleh mitra kerja Gojek roda empat. Terlebih apabila demo tersebut tidak mengindahkan aturan-aturan yang ada.

”Misalnya, yang dikhawatirkan kalau sampai menutup kantor Gojek di Jogja, maka kita akan kesulitan kalau mengurus sesuatu keperluan dengan kantor,” ungkapnya.

Pagoja belajar dari bagaimana kejadian di Mageleng belum lama ini. Gara-gara aksi demo yang mengakibatkan kantor GOJEK di daerahnya tidak bisa beroperasi, para mitra kerja lain yang tidak ikut demo menemui kesulitan karena harus mengurus segala sesuatunya di Jogja.

”Nah begitu juga sekarang. Kalau sampai kejadian seperti di Magelang terus dipindah ke Semarang maka kita jadinya lebih jauh lagi kalau mengurus sesuatu keperluan,” Handrianto.

Pagoja kata Handri, mendesak supaya demo tidak merugikan driver lain. Ini sangat beralasan, karena menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari dari keluarga driver.

”Karena menyangkut pencarian sandang pangan untuk keluarga. Nah kita ingin demo yang dilakukan tidak menggangu sandang pangan yang lain,” tegasnya.

Pagoja justru lebih menyarankan kepada para mitra yang melakukan aksi agar menempuh mediasi.

Sebelumnya, pada Selasa (9/42019), para mitra yang tergabung dalam Front Independen Driver Online Indonesia (FI) mengumumkan aksi demo berupa mogok makan. Disebutkan bahwa mereka mitra se Jogja dan Jawa Tengah.

Mereka menuntut beberapa poin terdiri atas pemutihan atau pemutakhiran data akun mitra driver PT GOJEK Indonesia dan GRAB Indonesia. Mereka juga menuntut penghapuskan sistem peringkat dan alokasi order, pengembalian jumlah poin skema insentif untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk Gojek dan Grab, serta meninjau ulang perjanjian kemitraan untuk lebih berazaskan kesetaraan dan berkeadilan. (SM)



Jumat, 12 Apr 2019, 14:40:43 WIB Oleh : Prasetiyo 304 View
Bambang dan Nasir Resmikan Universitas Perwira Purbalingga
Jumat, 12 Apr 2019, 14:40:43 WIB Oleh : Surya Mega 282 View
Al-Muqeet Datangkan Karpet Impor Koleksi Terbaru
Kamis, 11 Apr 2019, 14:40:43 WIB Oleh : Redaktur 273 View
Motivasi Penyuluh dengan Upsus Pajale

Tuliskan Komentar