Minggu, 18 Apr 2021,


di-hari-istimewa-mereka-tak-disentuhSebagian penghuni rumah singgah eks psikotik Dosaraso duduk santai  di teras kamar mereka, Rabu (10/10/2018).  (nanang wh/koranbernas.id)


nanang
Di Hari Istimewa Mereka Tak Disentuh

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Hari Kesehatan Jiwa Dunia yang jatuh pada 10 Oktober 2018 sepertinya bukan hari istimewa bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Di hari yang semestinya istimewa itu, ternyata mereka tidak tersentuh.


Orang dengan gangguan jiwa yang menghuni rumah singgah eks psikotik Dosaraso di bekas komplek Rumah Sakit Umum dr Soedirman Kebumen, misalnya, tidak merasakan hari itu sebagai hari spesial.

  • Waspadai, Terorisme Menyasar Kaum Muda

  • Dinas Kesehatan Kebumen memilih menyelenggarakan seminar di sebuah hotel dengan mengundang beberapa pengelola kesehatan jiwa di puskesmas dan guru bimbingan konseling SMTA.

    Di  tempat berbeda, 11 orang penghuni rumah singgah menjalani kehidupan seperti hari-hari biasa.


    Rabu (10/10/2018) saat koranbernas.id meliput kehidupan ODGJ di rumah singgah yang dikelola Dinas Sosial Perlindungan Ibu Anak dan Keluarga Berencana Kebumen, tidak tampak kegiatan yang memberi perhatian lebih kepada mereka.


    “Kami hari ini duduk-duduk,“ kata Tasiyo (36), salah seorang dari 11 penghuni Dosaraso.


    Siang itu, mereka mengaku sudah makan siang yang diberikan petugas Dosaraso. Menunya sayur kangkung dan telur dadar. Mereka menikmati kehidupan di rumah singgah. Sebagian mengaku merasa betah, sebagian merasa tidak betah.

    Tasiyo, penghuni dengan kondisi kesehatan jiwanya paling baik, dibanding 10 orang penghuni lainnya, kesehariannya memelihara dan berdagang burung kicauan.

    Dia betah tinggal di Dosaraso. Warga Karanggayam Kebumen ini dipercaya membantu mengawasi  penghuni lain. Meskipun demikian ia mengaku masih minum obat seperti penghuni lain.

    Obat itu dari poli jiwa Puskesmas Pejagoan sedangkan pengawasan minum obat  dilakukan petugas Dosaraso.

    “Pusing jika tidak minum obat, pagi dan malam,“ ujar Sutrisman (22), warga Sempor Kebumen. Alumni sebuah SMP negeri di Sempor ini mengaku cukup betah tinggal di Dosaraso.

    Penghuni lain pernah sekolah, tetapi berhenti di tengah jalan. Ada yang pernah sekolah di Sekolah Menengah Farmasi, berhenti sekolah, karena mengalami  gangguan jiwa.

    Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial  Kecamatan (TKSK), Junaedi, kepada koranbernas.id di Dosaraso menjelaskan, pengobatan jalan penghuni Dosaraso  tidak ada masalah.

    Mereka peserta BPJS Kesehatan. Jika memerlukan pengobatan rawat jalan TKSK  mengantar mereka.  (sol)


    TAGS: antiterorisme 

    SHARE


    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini