atas

Desa Kalipucang Rawan Bencana, Ada Bukit Berpotensi Longsor

Minggu, 18 Nov 2018 | 20:30:04 WIB, Dilihat 660 Kali - Oleh Sari Wijaya

SHARE


Desa Kalipucang Rawan Bencana, Ada Bukit Berpotensi Longsor Simulasi penanganan bencana gempa bumi di Lapangan Kalipucang Desa Bangunjiwo Kasihan  Bantul, Minggu (18/11/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

Baca Juga : Penilaian Pakar, Pendidikan Kita Salah Arah


KORANBERNAS.ID -- Desa Bangunjiwo Kecamatan Kasihan merupakan salah satu wilayah yang topografinya rawan bencana. Terdapat bukit dan dataran sehingga ada ancaman potensi terjadinya banjir, longsor dan kekeringan, termasuk gempa bumi.

“Hari ini kegiatan simulasi dilakukan di sini. Tahun 2006 saat gempa melanda, wilayah Kalipucang yang masih satu kawasan dengan Kasongan paling parah kerusakannya. Mengingat kepadatan penghuninya juga tinggi,” kata Dwi Daryanto, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, saat simulasi penanggulangan bencana gempa bumi dan peresmian Desa Tangguh Bencana (Destana) Bangunjiwo di Lapangan Kalipucang, Minggu (18/11/2018).

Masyarakat memang harus waspada dan senantiasa melakukan antisipasi guna meminimalisasi jatuhnya korban. Termasuk salah satunya dengan simulasi yang diikuti masyarakat BPBD, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), TNI, Polri, relawan dan pemerintah desa.

Simulasi diawali bunyi sirine yang menjadi penanda terjadinya gempa besar. Warga kemudian berlarian melalui jalur evakuasi dan berkumpul di lapangan.

Pihak  terkait segera melakukan komunikasi menggunakan handy talky (HT).  Tidak lama  berselang setelah koordinasi, tenda pengungsi berdiri, tim medis merawat korban yang sakit dan bagian logistik segera mendirikan dapur umum untuk suplai kebutuhan makanan dan minum  bagi pengungsi. Ambulans dan obat-obatan segera didrop ke lokasi.

Bupati Bantul Drs H Suharsono menandatangani prasasti peresmian Desa Tangguh Bencana (Destana) Bangunjiwo, Minggu (18/11/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

“Kami berharap dengan simulasi, masyarakat menjadi tanggap bencana sehingga tercipta  desa yang tangguh bencana. Ini adalah desa ke-22 di Kabupaten Bantul,” kata Dwi.

Pekan depan diresmikan juga di Srihardono Kecamatan Pundong sehingga Bantul memiliki 23 desa tangguh bencana dari 75 desa.

Targetnya dua atau tiga tahun lagi semua desa berstatus tangguh bencana, kemudian terwujud kabupaten tangguh bencana.

“Harapanya dengan desa tangguh  bencana maka semua masyarakat paham apa yang dilakukan tanpa menunggu bantuan dari luar. Juga meminimalisasi  jatuhnya korban,” katanya.

Untuk menuju Destana, menurut Dwi, ada beberapa komponen yang disiapkan. Di antaranya memiliki peta rawan bencana, terbentuk FPRB maupun dukungan anggaran yang ada dalam RPJMDes dan APBDesa.

Bupati Bantul Drs H Suharsono berharap dengan adanya simulasi maka mampu meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi bencana yang tidak pernah diharapkan terjadi.

“Kita semua tidak pernah berharap terjadinya  bencana. Namun antisipasi tetap kita lakukan,” katanya. (sol)



Minggu, 18 Nov 2018, 20:30:04 WIB Oleh : Prasetiyo 3914 View
Penilaian Pakar, Pendidikan Kita Salah Arah
Minggu, 18 Nov 2018, 20:30:04 WIB Oleh : Sholihul Hadi 699 View
Kedatangan Caesar Hito Bikin Peserta Audisi Bertengkar
Minggu, 18 Nov 2018, 20:30:04 WIB Oleh : Sari Wijaya 1088 View
Minuman Ini Hanya ada di Laguna Depok

Tuliskan Komentar