degdegan-melepas-nenek-meluncurFLYING FOX GEDANGSARI — Seorang pengunjung sedang menunjuk titik finish flying fox yang nampak kecil dari titik luncur. Permainan pemacu adrenalin ini cukup digemari wisatawan. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).


putut-wiryawan

Deg-degan Melepas Nenek Meluncur..


SHARE

HATI Arif Rustantyo deg-degan. Rasa khawatir benar-benar mengguncangnya. Berulang kali ia mencoba meyakinkan seorang nenek yang nekad hendak “terbang” dengan flying fox untuk mengurungkan niatnya. Perempuan sepuh itu berusia 76 tahun. Ia mengenakan celana panjang hitam dan blus. Bukan hanya Arif, tapi juga dua teman Arif yang siang itu bertugas memandu wisatawan di Green Village. Mungkin melihat kekhawatiran di wajah Arif dan teman-temannya, sang nenek malah mengumbar senyum sambil berujar, “Nggak papa Mas. Tenang saja.... Saya berani kok.”

Hari Minggu yang cerah itu, sang nenek bersama keluarga besarnya memang sedang berwisata ke Gunungkidul. Salah satu tempat tujuan wisata adalah Green Village di Pedukuhan Guyangan Lor, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul.


Baca Lainnya :

Arif Rustantyo kepada Koran Bernas pekan lalu di area Green Village mengisahkan, karena sang nenek memang memenuhi persyaratan untuk “terbang”, yang antara lain tidak punya riwayat sakit jantung dan takut ketinggian, dengan agak berat hati ia mengizinkan sang nenek naik ke tempat persiapan meluncur. Harness untuk menopang tubuh nenek dan helm disiapkan. Juga carabiner, tali karamantel dan sling. Dalam tiga menit, berbagai perlengkapan standar keselamatan olahraga yang menguji nyali ini selesai dipasang.

Begitu pun, Arif dan teman-teman masih ragu untuk melepas-luncurkan si nenek yang sudah tergantung di tali baja.


Baca Lainnya :

“Ayooo...,” ujar nenek agak berteriak sambil menoleh ke Arif. Dan, dorongan ringan Arif yang berbadan kekar membawa nenek meluncur dalam gantungan, diiringi tepuk tangan keluarga besar si nenek yang menunggu di bawah panggung peluncur. Padahal, dada Arif makin berdegub kencang. Sementara si nenek melambaikan tangan. Dalam beberapa detik, kecepatan luncur si nenek sekitar 60 km/jam. Jarak luncur sepanjang 625 meter itu hanya ditempuh sekitar satu menit.

Alhamdulillah. Saya lega ketika melihat nenek sampai di ujung landasan. Melalui komunikasi HT, teman saya bilang kalau nenek selamat sampai garis finish,” tutur Arif.

Setelah sang nenek diantar kembali dengan mobil ke tempat start untuk berkumpul kembali dengan keluarga besarnya, keceriaan pecah. Si Nenek dengan riang mengisahkan pengalamannya. Malah si nenek berujar, “Kurang dawa... Kurang menantang!!” Semua kaget dan tertawa. Arif hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Saya sempat nanya, apa si nenek mantan atlet. Rupanya bukan. Hanya ibu rumah tangga saja. Ini rekor yang dicatat flying fox di sini. Rekor usia tertinggi yang berani naik flying fox 76 tahun. Sampai sekarang belum terpecahkan. Sudah lebih setengah tahun,” kisah Arif.

TERPANJANG SE ASGARA — Flying Fox Gedangsari, dengan bentangan kabel baja sepanjang 625 meter, diklaim sebagai yang terpanjang se Asia Tenggara. Arif Rustantyo, Kepala BUMDes Maju Makmur Sejahtera berdiri di titik luncur. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).

Terpanjang

Tempat wisata Green Village terletak di atas perbukitan, pada ketinggian 515 meter di atas permukaan laut. Dari tempat ini, setiap pengunjung akan disuguhi pemandangan menawan. Sejauh mata memandang ke arah utara, bila sore hari nampak kerlipan lampu Kota Klaten. Pada pagi hari, bila cuaca cerah  nampak pula empat gunung api berjajar; Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro. Luas area wisata ini sekitar 1,5 hektar, menempati tanah kasultanan Yogyakarta (Sultanat Grond/Bld).

Dari atas bukit itu angin terasa kencang menerpa. Selain pemandangan alam, yang akan nampak lebih menawan pada musim hujan karena hamparan lahan akan nampak hijau sejauh mata memandang, di lingkungan tempat wisata disediakan 16 gubug untuk menikmati pemandangan alam.  Dari atas, nampak pula Rawa Jombor yang berjarak sekitar 6 km dari Green Village. Hanya memang, belum ada pohon besar yang rindang. Pohon buah yang ditanam baru berumur empat tahunan. Belum cukup rindang untuk berteduh.

Untuk anak-anak balita disediakan kereta api mini di dekat bangunan utama. Lalu, di ujung bukit dibangun flying fox. Permainan yang memacu adrenalin ini dibangun atas biaya Pemda DIY, melalui Dinas Pariwisata. Menurut Arif, flying fox ini terpanjang se Asia Tenggara. Bentangan kawat baja sepanjang 625 meter. Klaim terpanjang se Asia Tenggara itu merujuk kepada pernyataan salah satu pejabat dari Kementerian Pariwisata yang datang ke Green Village tahun lalu. Alat permainan pemacu adrenalin ini diresmikan penggunaannya pada 22 April 2017.

Belajar dari Pindul

Menurut Arif, dapat dikatakan tempat wisata ini direncanakan secara mendadak. Tidak terpikir sebelumnya untuk membuat tempat wisata baru di ketinggian ini. Pedukuhan Guyangan Lor dan sekitarnya, memang tergolong banyak dihuni masyarakat miskin atau hampir miskin.

Sekretaris Desa Mertelu Heri Cahyana kepada Koran Bernas mengatakan, wilayah Desa Mertelu terdiri dari 10 pedukuhan (dusun), termasuk Pedukuhan Guyangan Lor. Masyarakat Mertelu sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pertanian. Namun, kondisi lahan tanpa irigasi teknis menyebabkan padi ditanam hanya pada saat musim hujan. Setelah panen, diganti palawija. Dan ketika musim kering tiba, warga tidak dapat mengolah tanah. “Biasanya, rakyat lalu bekerja serabutan di luar desa,” kata Heri.

Berawal tahun 2014, cerita Arif, ketika pemerintah menjalankan program MP3KI (Masterplan Program Perencanaan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia). Salah satu dari rencana yang ada, membangun embung (telaga buatan) yang diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian. Namun, rencana membuat embung batal. “Saya juga tidak tahu, kenapa batal,” kata Arif.

Rencana kemudian bergeser ke membuat wisma tani. Di seputar bangunan juga ditanam berbagai tanaman buah. Ada srikaya, mangga dan kelengkeng. “Tapi, karena kurang perawatan, banyak pohon yang mati,” tambah Arif.

Seiring dengan trend membangun tempat tujuan wisata baru, masyarakat kemudian membangun tempat tujuan wisata dan dinamai Green Village. Atas keputusan Lurah Desa Mertelu, Green Village dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Maju Makmur Sejahtera”. Arif Rustantyo kemudian ditunjuk sebagai Kepala BUMDes.

Sekalipun puncak Green Village berada di Desa Mertelu, tetapi untuk menuju ke tempat wisata ini melalui desa tetangga. Karenanya, tempat wisata ini dikelola tiga desa, yakni Desa Tegalrejo, Desa Watugajah dan Desa Mertelu. Semuanya di Kecamatan Gedangsari.

“Kami belajar dari kasus Gua Pindul, yang menjadi ribut karena desa-desa yang banyak dilewati wisatawan tidak mendapat bagian apa-apa. Di sini, sejak awal kita rembug bersama. Hasilnya juga dibagi tiga,” jelas Arif.

Menurut Sekdes Mertelu Heri Cahyana, tahun 2017 tempat wisata Green Village sudah mampu memberikan kontribusi PADes (Pendapatan Asli Desa) sebesar Rp 33 juta. “Masih sedikit. Tapi, kami optimis akan terus naik,” kata Heri sambil menambahkan bahwa Pemerintah Desa menyertakan modal untuk membangun Green Village sebesar Rp 10 juta.

Selain mengelola Green Village, BUMDes “Maju Makmur Sejahtera” juga mengelola Banana Queen. Desa Mertelu memang salah satu produsen pisang. Masyarakat Pedukuhan Guyangan Lor, Desa Mertelu kemudian mengolahnya menjadi camilan pisang. Camilan yang diberi nama Banana Queen ini seperti sale tetapi mendekati kripik pisang. (putut wiryawan)

 

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 26 Oktober 2018.


TAGS:

SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini