atas1

Cerita Ramadan di Tanah Suci
Mendaki Bukit Rumah, Letih Hilang di Tanjakan Pertama

Senin, 13 Mei 2019 | 20:54:26 WIB, Dilihat 593 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Cerita Ramadan di Tanah Suci Bukit Rumah, meski tidak tinggi perlu energi untuk mendakinya. (istimewa)

Baca Juga : PDI Perjuangan Kuasai Kursi Ketua DPRD se-DIY


KORANBERNAS.ID -- Kebayang tidak, lagi puasa di bawah terik matahari dengan suhu sangat tinggi, kemudian mendaki bukit?

Bukit Rumah yang berada di samping Jabal Uhud Madinah memang tidak terlalu tinggi. Sekitar 30 meter saja tetapi dari area parkir sudah berjalan 250 meter dalam kondisi puasa.

Begitu Ustad Syaiful menawarkan naik bukit tersebut, beberapa jamaah mencobanya. Meski agak berat, H Ircham mencoba mendakinya.

"Ketika kaki menginjak tanjakan pertama, masya Allah, rasa lelah dan letih hilang. Badan rasanya bugar saja sampai tiba di bagian  paling atas," tutur drg Ircham Machfoedz, pembimbing jamaah umrah Anamona Tour and Travel.

Menyampaikan kabar dari Mekkah kepada koranbernas.id, Senin (13/5/2019, melalui sambungan telepon seluler, dia menyatakan benar-benar Allah SWT menunjukkan kuasaNya. Rasanya tidak mungkin. Tapi apa yang tidak mungkin bagi Allah SWT?

Bahkan sampai kembali ke masjid, rasa lelah itu sudah hilang dan tidak merasa sedang berpuasa. Subhanallah.

Di masa Rasulullah Muhammad SAW, Bukit Rumah dulu dipakai oleh para pemanah saat terjadi perang. Di atas bukit tidak ada apa-apanya. Hanya semacam tanah lapang.

Usai membatalkan puasa dan salat Maghrib berjamaah, jamaah kembali ke hotel untuk berbuka puasa dengan menu istimewa. Banyak sayuran, buah dan makanan yang dibutuhkan orang berpuasa.

Menu berbuka puasa, sayurnya luar biasa. (istimewa)

Penuh sesak

Di bulan Ramadan kali ini suasana Raudhah penuh sesak dipadati jamaah. Jamaah lebih satu jam berdiri dalam antrean yang tidak bergerak sama sekali.

Terdapat sejumlah jamaah tidak hanya dari Indonesia, keluar dari antrean karena kelelahan.

Ketika ada kesempatan maju, Ircham bersama jamaahnya berlari ke depan. Tetapi oleh Askar atau polisi setempat dihentikan. Bahkan diminta keluar karena waktu kunjung habis dan baru akan dibuka lagi setelah tarawih.

Salat tarawih di tanah suci, menurut Ircham, 20 rakaat dengan witir 2-2 disusul witir 3 dan dua kali salam. Ada perbedaan antara tarawih di Madinah dan Mekkah.

"Di Masjid Nabawi bacaan surat-suratnya sudah panjang-panjang. Di Masjidil Haram suratnya lebih panjang lagi," kata dia.

Zowar International Hotel Madinah, tempat jamaah umrah dari Indonesia mengingap. istimewa)

Berbaring abadi

Jamaah mengikutinya dengan ikhlas mengingat siapa pun yang datang sudah berniat ibadah memohon rida dan pahala Allah SWT.

Ircham menceritakan, hampir sehabis salat  berjamaah selalu ada salat jenazah. Artinya selalu ada yang dipanggil Allah SWT di tanah suci.

Jenazah-jenazah itu dimakamkan secara massal sehingga keluarga tidak bisa mengenalinya bila akan berziarah.

Banyak jamaah berharap bisa seperti itu. Disalatkan oleh jutaan orang dari seluruh penjuru dunia dan berbaring abadi di tanah suci. (sol)



Senin, 13 Mei 2019, 20:54:26 WIB Oleh : Sholihul Hadi 677 View
PDI Perjuangan Kuasai Kursi Ketua DPRD se-DIY
Minggu, 12 Mei 2019, 20:54:26 WIB Oleh : Nila Jalasutra 7976 View
Usianya 23 Tahun, Dokter Ini Lolos Jadi Anggota DPRD
Minggu, 12 Mei 2019, 20:54:26 WIB Oleh : Prasetiyo 907 View
Yayasan Dahuni Ajak Pelajar Ikuti Blusukan 2019

Tuliskan Komentar