Senin, 06 Des 2021,


capaian-vaksinasi-melampui-target-dosis-ketiga-lebih-dari-100-persenIlustrasi. (istimewa)


Warjono
Capaian Vaksinasi Melampui Target, Dosis Ketiga Lebih dari 100 Persen

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN-- Pemkab Sleman berhasil mendorong percepatan capaian program vaksinasi Covid-19. Hingga saat ini pemberian vaksinasi dosis pertama mencapai 83,9 persen dan dosis dua 62 persen. Adapun vaksin dosis ketiga atau booster bagi tenaga kesehatan sudah lebih dari 100 persen.


Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakir (P2P) Dinas Kesehatan Sleman, Novita Krisnaeni mengatakan, capaian ini tercatat mampu melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yakni sebanyak 80 persen warga sudah divaksin (dosis pertama) pada akhir Oktober. Salah satu dampak positifnya, adalah penurunan level PPKM di DIY khususnya Sleman menjadi level 2.


“Ini prestasi yang perlu disyukuri kita semua. Terima kasih juga atas partisipasi masyarakat dan kesadaran mereka yang tinggi untuk ikut vaksin,” kata Novita, Rabu (20/10/2021).

Dia mengatakan, percepatan vaksinasi yang diraih, tak luput dari tingginya kesadaran masyarakat dan perubahan strategi vaksinasi Covid-19 yang dilakukan. Sebagaimana diketahui, belakangan pemerintah daerah bersinergi dengan berbagai pihak, untuk memperluas jangkauan vaksinasi. Di antaranya dengan menggandeng TNI/Polri dan aparatur di tingkat kelurahan maupun kapanewon.


“Strategi ini memperluas jangkauan vaksinasi ke masyarakat. Juga mempermudah warga yang ingin mengikuti vaksin karena mereka bisa datang ke lokasi-lokasi terdekat,” katanya.

Penurunan level PPKM di Sleman ini diatur di dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No 53 tahun 2021. Novi menjelaskan setidaknya terdapat tiga indikator yang mendorong keberhasilan penurunan level PPKM. Selain kapasitas transmisi dan respons, penurunan level PPKM juga ditentukan oleh capaian vaksinasi.

Novi menyebut, baik transmisi maupun respon terhadap Covid-19 di Sleman menunjukkan tren positif.

Kasus Covid-19 di Sleman terus menurun sehingga berdampak pada bed occupancy rate (BOR) atau keterisian pasien di rumah sakit saat ini rendah.

Untuk BOR, kata Novi, hanya terdapat 114 pasien dirawat di rumah sakit dan satu orang dirawat di isoter sedangkan pasien isoman tercatat sebanyak 125 orang. Adapun angka kesembuhan di Sleman sudah sama dengan nasional yakni 95 persen namun angka kematian masih relatif tinggi yaitu 4,4 persen.

Salah satu upaya yang dilakukan Dinkes untuk menekan kasus penularan dengan tetap memaksimalkan ketentuan 3T (testing, tracing dan treatment).

“Kami terus berupaya menurunkan jumlah pasien yang dirawat dan angka kematian bisa turun bahkan diharapkan mencapai nol kasus. November kami targetkan dosis pertama bisa mencapai 100 persen. Kami juga bertekad menutunkan level 1 PPKM dengan menggencarkan kegiatan vaksinasi dari semula fokus ke pola massal saat ini dengan cara menyisir warga yang belum divaksin,” katanya.

Meskipun level PPKM di Sleman turun ini, Novi berharap, hal itu tidak membuat masyarakat lengah dan abai. Dia meminta agar masyarakat tetap menerapkan 3 M (memakai masker, mencuri tangan dan menjaga jarak) dan mengikuti kegiatan vaksinasi.

Bupati Sleman Kustini Purnomo mengatakan strategi vaksinasi yang dilakukan oleh Pemkab akan memaksimalkan kegiatan vaksinasi di wilayah pinggiran kota. Selama ini, katanya, banyak warga yang belum divaksin di daerah pinggiran karena kegiatan vaksinasi banyak dilakukan di sentra vaksinasi di tengah kota.

“Ini salah satu cara yang kami lakukan agar semua warga bisa divakasinasi. Nanti masing-masing Puskesmas akan menyasar warga yang belum mendapatkan vaksin,” katanya.

Transisi ke endemi

Memasuki masa transisi Covid-19 dari pandemi menjadi endemi, pemerintah menguatkan upaya perlindungan kesehatan masyarakat dari hulu ke hilir. Percepatan vaksinasi, tetap menjaga disiplin protokol kesehatan (Prokes), penguatan testing, tracing, treatment (3T), serta pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat secara luas, terus digencarkan.

Dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Selasa (19/10/2021), Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Agus Suprapto menjelaskan, terdapat tiga tahapan pandemi Covid-19 menuju endemi.

Pada tahap persiapan, upaya preventif dikatakannya harus dikuatkan. Misalnya perilaku prokes yang sudah melekat atau tertanam (embed), vaksinasi lebih dari 70 persen serta penggencaran 3T oleh petugas-petugas yang kompeten.

Kemudian tahap transisi, di mana jumlah kasus terkendali dan angka kematian dapat ditekan. “Pada tahap ini, kehidupan kita masuk grey area (area abu-abu, tidak pasti), semua demi menjaga prokes dan hidup berdampingan dengan Covid-19,” ujar Agus.

Ketiga adalah tahap endemi. Di tahap ini, semua sudah harus terkontrol dan harapannya, semua jadi lebih baik. Endemi, menurutnya, tidak hanya untuk Indonesia, namun juga dunia internasional. Ia mengatakan, dengan persiapan dan transisi yang baik, maka dapat bersama-sama dan serentak menuju ke tahap tersebut.

Agus optimistis, bila angka kasus semakin turun, tidak terjadi gelombang ketiga pada akhir tahun, serta situasi tetap terkendali seperti saat ini, maka tahun depan ekonomi dapat pulih dan tumbuh di atas 5 persen. “Saat ini, kita harus terus bangun suasana optimis,” tegasnya.

Memasuki November Desember, terdapat kemungkinan menurunnya imunitas warga yang mendapatkan vaksinasi pada awal tahun. Karena itu, kegiatan masyarakat selama Nataru (Natal dan Tahun Baru) harus disertai disiplin Prokes dan kehati-hatian.

“Virus ini menguji endurance (ketahanan) kita semua untuk tetap disiplin Prokes, serta bersama- sama mendorong upaya 3T,” ujar Agus.

Tidak dapat dipungkiri, masyarakat memang harus selalu diingatkan bahwa meski telah melandai, tapi pandemi belum selesai. Pembukaan kembali aktivitas masyarakat, bukan berarti ada pelonggaran pada Prokes. Hal ini ditekankan oleh Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander Ginting.

Dia menegaskan, cakupan vaksinasi harus terus dikejar sebelum libur akhir tahun, agar jangan sampai ada kelompok rentan yang tertinggal upaya vaksinasi. Selain itu, penertiban mobilitas baik dalam negeri maupun yang dari luar negeri, penguatan peran pemerintah daerah hingga desa dan kelurahan, serta penggunaan aplikasi digital untuk filtrasi harus dilakukan secara terintegrasi guna mempertahankan pencapaian yang telah didapatkan,

“Ini jadi tugas bersama. Masyarakat bukan semata-mata sebagai obyek melainkan subyek yang harus berjuang bersama. Jadi ini adalah perjuangan semesta melawan bencana biologis berupa virus,” papar Alexander.

Menurutnya, sebagai upaya mengendalikan pandemi menjadi endemi, terdapat dua gerakan yang dapat dilakukan. Gerakan defensif berupa ikhtiar menurunkan laju penularan, serta gerakan ofensif yakni meningkatkan kapasitas respon melalui penguatan 3T. Untuk itu, gerakan maskerisasi agar masyarakat terus memakai masker dengan benar, harus tetap digaungkan dan tidak boleh berhenti. (*)


TAGS: Dinkes  Sleman 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini