Kamis, 23 Sep 2021,


candra-birawa-merawat-kamboja-hingga-orang-gangguan-jiwaFPRB Candra Birawa Kalurahan Gilangharjo Pandak, Bantul melakukan pemakaman menggunakan prokes. (istimewa)


Sariyati Wijaya
Candra Birawa Merawat Kamboja hingga Orang Gangguan Jiwa

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) berdiri beberapa tahun lalu di Kabupaten Bantul. Tugasnya melakukan penanganan terkait kebencanaan di wilayah masing-masing.


Kini saat pandemi Covid-19, FPRB menjadi salah satu unsur penting pencegahan penyebaran virus, pengantaran bagi mereka yang terinfeksi ke rumah sakit, melakukan rukti jenazah hingga pemakaman  menggunakan protokol kesehatan.


Mereka juga melakukan tugas penyemprotan hingga edukasi dan sosialisasi pentingnya menerapkan 5 M yakni memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

FPRB juga  mengevakuasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) untuk dibawa ke rumah sakit jiwa, ketika di wilayahnya ada yang butuh dirawat.


Itu pula yang dilakukan FPRB Candra Birawa Kalurahan Gilangharjo Pandak Bantul. Tidak kenal lelah 24 jam mereka setia melayani warga Gilangharjo yang membutuhkan penanganan apapun.

Bahkan saat koranbernas.id berbincang dengan Ketua FPRB Hermawan dan Wakil Ketua satgas Covid-19, Zainul Zain SAg, tiba-tiba bordering telepon dari para petugas tersebut. Ada kabar warga meninggal mereka sandikan dengan nama kamboja dalam kondisi positif Covid sehingga harus  dimakamkan  dengan protokol kesehatan.

Dengan sigap anggota FPRB berbagi tugas. Ada yang melakukan koordinasi kaitan pemulangan jenazah dari rumah sakit, ada yang berkoordinasi dengan pihak keluarga dan ada yang menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD).

Cekatan, mereka melakukan tugasnya setelah memanjatkan doa agar diberi kesehatan dan kemudahan. “Kami tidak jarang melakukan pemakaman prokes sehari bisa beberapa kali. Misalnya hari ini, siang kita melakukan pemakaman dua kali dan malam ini kita bersiap melakukan proses pemakaman lagi,” kata Zainul yang juga pembina FPRB Candra Birawa, Sabtu (17/7/2021) malam.

Tidak hanya pagi hingga malam, bahkan tengah malam dan dini hari pun mereka masih bertugas. “Jam berapa pun kami selalu siap dan siap. HP tidak pernah mati, 24 jam,” kata Zain yang juga Ketua BPD Kalurahan Gilangharjo tersebut.

Tugasnya tidak hanya mengurus kebencanaan. “Apapun yang terjadi di warga, kami  dari FPRB yang ditelepon,” sambung Hermawan.

Anggota FPRB  inti terdiri 16 orang. Secara keseluruhan ada 42 orang yang berasal dari semua pedukuhan. Di antara anggota tersebut ada perempuan.

Candra Birawa, lanjut Wawan sapaan akrabnya, berdiri sejak awal 2021. FPRB sudah lama namun penamaan Candra Birawa sekitar tujuh bulan silam.

Nama Candra Birawa ini diambil dari tokoh pewayangan yakni sosok raksasa namun badannya kerdil. Candra Birawa adalah gabungan raksasa-raksasa yang menyerang Swargaloka. Raksasa-raksasa itu punah dikalahkan para dewata tetapi Betara Guru menghidupkan kembali menjadi satu badan diberi nama Candra Birawa.

Candra Birawa tidak boleh sembarangan berkeliaran di Mayapada. Dia harus bersatu dengan kekasih atau keturunan Betara Dharma karena di tangan orang yang salah Candra Birawa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kekacauan di Mayapada. Begitu pula sebaliknya.

“Kami mengambil falsafah di sana, bahwa kami ini memang orang kecil, ibaratnya digambarkan jelek, namun kami mrantasi gawe. Kami siap bertugas kapan pun dan di mana pun,”tandasnya. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini