atas1

Cak Nun Blak-blakan Ungkap Situasi Setelah 17 April

Kamis, 25 Apr 2019 | 21:11:46 WIB, Dilihat 9836 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Cak Nun Blak-blakan Ungkap Situasi Setelah 17 April Cak Nun berbincang santai dengan awak media di kediamannya, Kamis (25/4/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Ini Uniknya Bakpia Kukus Tugu Jogja


KORANBERNAS.ID – Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun bicara blak-blakan mengenai kondisi masyarakat pasca Pemilu 17 April 2019. Situasi yang terkesan gaduh di Jakarta sebenarnya tidak terlihat pada masyarakat lapis bawah.

Berbicara dengan media, Kamis (25/4/2019), di kediamannya Jalan Wates Km 2,5 Gang Barokah 287 Kadipiro Ngestiharjo Kasihan Bantul, dia mengungkapkan selama berkeliling maiyahan bersama Kiai Kanjeng di lebih dari 15 kota sejak 17 April, dirinya tidak mendapati gejolak di masyarakat.

“Selama dua minggu nonstop saya diundang ke Semarang, Lumajang, Bangkalan, Solo, Cilacap, Kudus, Jepara, Temanggung, tidak ada konflik apapun apalagi secara fisik,” ujarnya.

Kalau pun sebatas kontroversi dan polarisasi pilihan memang ada tetapi hampir dipastikan di daerah yang dia datangi tidak terjadi konflik.

Ini karena secara sengaja maupun tidak sengaja panitia yang mengundang Kiai Kanjeng mengangkat tema yang sama mengenai pentingnya menjaga situasi wilayah yang aman.

“Apapun yang terjadi di Jakarta toh itu bukan  otoritas mereka (rakyat). Termasuk di Solo yang katanya rawan, setelah kita datang ke sana nggak rawan. Kita lihat ndak ada masalah. Semua kompak-kompak saja sebagai bangsa Indonesia,” kata dia.

Menurut Cak Nun, munculnya kekhawatiran terjadinya bentrok atau benturan horizontal akibat konflik politik sebetulnya hanya terjadi pada masyarakat kelas menengah ke atas.

“Yang ramai itu elite dan di medsos. Medsos itu ibarat anak kecil tidak berani berkelahi kemudian lempar batu dari kejauhan. Ya, kalaupun terjadi bentrok fisik nggak sampai sampyuh, ya kalau ada masalah ming mercon sithik-sithik,” ujarnya.

Menurut dia, aturan pemilu sebenarnya sudah lengkap dan tertata, termasuk sistem, undang-undang, aturan main maupun pembagian tugas lembaga KPU dan Bawaslu. Artinya, ibarat kesebelasan sepakbola, pasangan capres 01 dan pasangan capres 02 tinggal bermain saja.

“Di belakang ada wasit. Ada MK (Mahkamah Konstitusi). Sudah lengkap, jadi saya sudah tidak perlu melakukan apapun. Saya sebagai rakyat biasa tidak meletakkan diri sebagai pembela. Saya bukan ahli tata negara, bukan ahli hukum, juga bukan ahli politik, ahli kubur suk-suk...,” kelakarnya kemudian menegaskan apapun yang terjadi bangsa Indonesia harus bersatu.

Cak Nun kemudian mengungkapkan sebenarnya 01 atau 02 memiliki tujuan yang sama yaitu mengabdi kepada kepentingan bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia.

Tidak bingung

Menjawab pertanyaan dua kubu saling menggelar syukuran kemenangan, menurut Cak Nun, rakyat tidak bingung menyikapi hal itu.

“Yang satunya sujud syukur. Satunya syukuran. Mangga saja. Kita tidak masalah. Saya sudah percaya sama Indonesia. Wis gedhe-gedhe, nduwe aturan, punya undang-undang dan konstitusi. Curang tidak curang, jujur tidak jujur, bagi rakyat tidak ada masalah. Rakyat diajak sengsara gelem. Malah seneng. Rakyat kita top,” puji Cak Nun.

Bahkan rakyat Indonesia terbukti sudah terbiasa dengan ketidaknyamanan bahkan sangat kebal dan tangguh menghadapi kekacauan. Selain itu, juga terbiasa ditipu dengan klaim atau manipulasi. Lagi-lagi, rakyat tetap tenang-tenang saja.

Begitu pula saat mendengar informasi harga-harga akan naik, pemerintah justru ditantang supaya menaikkan harga-harga, kebutuhan pokok misalnya.

Endi kok ra mundhak-mundhak. Enak jadi pemimpin Indonesia itu. Rakyatnya tidak rewel. Legawa. Yang tidak legawa itu kan para penyembah nafsu kekuasaan. Presiden mesthine meguru neng rakyat,” kata dia.

Bersama Kiai Kanjeng keliling ke daerah-daerah, Cak Nun berprinsip yang dia lakukan selama puluhan tahun itu untuk menjaga persatuan, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika memang terjadi suasana kisruh, dia selalu mengajak masyarakat jangan menambah kekisruhan dengan adu pendapat.

“Sehebat-hebatnya pendapat, itu hanya pendapat, dan pendapat tidak pasti benar. Setiap orang boleh berpendapat dan pendapat seseorang tidak bisa dibatalkan oleh pendapat orang lain. Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat apakah di dalam agama, politik dan apapun,” paparnya.

Cak Nun didampingi Toto Raharjo. (sholihul hadi/koranbernas.id)

People power

Ditanya soal people power, Cak Nun justru balik bertanya secara kongkret people itu berapa jumlahnya. Itulah yang disebut bahasa politik. “People power itu yang berada di bawah bergolak mendesak yang di atas. Sekarang ini bukan bergolak di bawah tetapi bergolak di kiri dan kanan,” jelasnya.

Sambil berkelakar, Cak Nun menyatakan dirinya setiap hari melakukan people power dengan ribuan orang jamaah pengajian di berbagai daerah yang dia kunjungi.

Bedanya, people power bersama jamaah Maiyah itu tujuannya untuk kebahagiaan masyarakat. “Saya ajak masyarakat bergembira dan bahagia, meski miskin dan terpuruk tidak perlu susah, presiden ra cocok karo pilihane ra masalah,” tandasnya.

Menjawab pertanyaan mungkin tidaknya Jokowi dan Prabowo bertemu, menurut Cak Nun, silaturahmi bisa dinilai dari berbagai kepentingan. “Kenapa di tengah situasi seperti ini kok silaturahmi, kuwi mesti arep nyang-nyangan, negosiasi, tukar konsensi. Wajar itu,” ucapnya.

Sebaiknya nggak ketemu? Menjawab pertanyaan wartawan seperti itu, Cak Nun berujar, “Silakan. Wong dudu urusanku. Dudu urusanmu. Ketemu nggak ketemu silakan.”

Ditanya lagi seharusnya mereka memberi teladan? Dia mengatakan tidak mungkin orang sedang bertengkar menjadi teladan.

“Yang di atas sudah kerengan, jangankan disuruh memberi contoh, mereka mungkin sudah saling benci. Ya ra isa. Jokowi seneng nek Prabowo kalah. Prabowo seneng nek Jokowi kalah. Tidak mungkin mereka bersatu. Nek Jokowi dan Prabowo gelem sinau, alhamdulillah. Nek ora gelem, mereka wis gedhe-gedhe, wis dadi presiden,” kata Cak Nun kemudian menegaskan jika elite tidak mau bersatu biarkan rakyat yang bersatu. (sol)



Kamis, 25 Apr 2019, 21:11:46 WIB Oleh : Sholihul Hadi 43568 View
Ini Uniknya Bakpia Kukus Tugu Jogja
Rabu, 24 Apr 2019, 21:11:46 WIB Oleh : Arie Giyarto 1615 View
Begini Ekspresi Rektor UGM Saat Baca Puisi
Rabu, 24 Apr 2019, 21:11:46 WIB Oleh : Sari Wijaya 1551 View
Muncul Lubang Sedalam Empat Meter Saat Jalan Ini Ambles

Tuliskan Komentar