atas

Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi

Sabtu, 08 Des 2018 | 00:01:58 WIB, Dilihat 376 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi Aziz Yon Haryono (kanan) dan Syamsul Hadi menjadi narasumber FGD Warisan Budaya/Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta 2018, Jumat (07/12/2018), di Inna Garuda Malioboro. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Grebeg Silaturahmi Diikuti Peserta dari Enam Agama


KORANBERNAS.ID – Kota Yogyakarta menyimpan banyak benda cagar budaya (BCB) maupun benda warisan budaya (BWB). Semakin tua usia benda itu maka semakin memiliki daya tarik.

“Berbeda dengan manusia, cagar budaya itu makin tua makin seksi,” ujar Aziz Yon Haryono, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) Warisan Budaya/Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta 2018, Jumat (07/12/2018), di Inna Garuda Malioboro.

Didampingi anggota Komisi D DPRD Kota Yogyakarta,  Syamsul Hadi, lebih lanjut Aziz menyampaikan sejak Yogyakarta resmi memperoleh status istimewa dari pemerintah pusat ditandai lahirnya Undang-undang No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, muncul banyak isu liar.

Selain Dana Keistimewaan (Danais) dirasakan paling mencuat di masyarakat, upaya penyelamatan dan perlindungan BCB juga tidak luput dari perhatian dan kritik masyarakat.

Menurut dia, di era globalisasi yang membuat dunia terkesan satu rasa dan satu warna, keberadaan cagar budaya dan warisan budaya di Yogyakarta merupakan peluang sekaligus tantangan.

Di satu sisi Yogyakarta tidak bisa lepas dari kapitalisasi dan komersialisasi kota, di sisi lain masih beruntung punya banyak keungggulan.

Peserta FGD menyimak penjelasan dari narasumber. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dengan pluralitasnya, Yogyakarta dinilai sebagai kota ternyaman di Indonesia, kota kerajaan terakhir di Jawa serta kota yang banyak memiliki peninggalan arkeologi dan kepurbakalaan.

Ditambah lagi, Yogyakarta juga layak disebut sebagai kota yang memiiliki keanekaragaman budaya di dunia tanpa mengesampingkan upaya pelestarian nilai-nilai tradisi, kontemporer serta kerakyatan.

Kalaupun kemudian angka kemiskinan dan kesenjangan begitu tinggi, ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. “Bagaimana status keistimewaan ini bisa memperpendek jurang kesenjangan,” ungkap Aziz.

Di hadapan tokoh masyarakat Kecamatan Danurejan lebih jauh Aziz menjelaskan perbedaan antara warisan budaya dengan cagar budaya.

BWB tercatat di daftar warisan budaya sedangkan BCB melalui proses penetapan. “Meski berbeda namun perlakuannya tetap sama,” tandasnya.

Sependapat, Syamsul Hadi mengatakan BCB memang menjadi sesuatu yang menarik bagi Yogyakarta, kota tua yang menjadi cikal bakal Mataram.

Mengenai tata kota, dia menyatakan konsepnya sudah sangat bagus, tinggal bagaimana memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya pariwisata. (sol)



Jumat, 07 Des 2018, 00:01:58 WIB Oleh : W Asmani 338 View
Grebeg Silaturahmi Diikuti Peserta dari Enam Agama
Jumat, 07 Des 2018, 00:01:58 WIB Oleh : Sari Wijaya 417 View
Warga Dusun Colo Ditemukan Meninggal, Tercebur di Sungai Opak
Jumat, 07 Des 2018, 00:01:58 WIB Oleh : Sari Wijaya 293 View
Mesin ATM Diganjal Tusuk Gigi

Tuliskan Komentar