bukit-teletabis-panen-raya-jagung-hibridaWarga Bukit Teletqbis di Pule Bener, Desa Giring Paliyan, Gunungkidu, Senin (25/2/2019). (Istimewa)


redaktur

Bukit Teletabis Panen Raya Jagung Hibrida


KORANBERNAS.ID -- Warga Bukit Teletqbis di Pule Bener, Desa Giring Paliyan, Gunungkidul boleh berbangga hati. Para petani di desa itu berhasil panen raya jagung hibrida.

Tiono, Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Pedukuhan Pule Bener, Desa Giring, Kecamatan Paliyan pun melaporkan hasil panen kepada Bupati Gunungkidul Hj Badingah S.Sos, didampingi Utusan Pusat Pendidikan BPSDMP Kementerian Pertanian Drs. Gunawan Yulianto, MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan DIY Ir. Sasangka, M. Si, Kepala BPTP DIY Dr Ir Joko Pramono MP, perwakilan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (polbangtan Yo-Ma) dan sejumlah pejabat lainnya, Senin (25/2/2019).


Baca Lainnya :

Menurutnya satu hektar tanaman jagung menghasilkan 11,032 ton atau senilai Rp 33.096.000. Jika dikurangi biaya produksi, sarana produksi dan tenaga kerja Rp 8.390.000. Hasil bersihnya sebesar Rp 24.706.000.

Sementara Sasangka mengingatkan kepada petani untuk melakukan antisipasi terhadap kemungkinan turunnya harga jagung pada panen raya. Sekarang hibrida masih Rp 3.800 tiap kilo gram. Pada saat semua petani panen jagung harga bisa turun tajam. 


Baca Lainnya :

Untuk mengatasi hal tersebut, petani pada panen raya menunda penjualan. Selain itu mengolah menjadi beras jagung, membuata makanan olahan. 

“Lebih dari itu, sebagai pejual harus menentukan harga. Tidak boleh harga jagung ditentukan oleh pembeli,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir Bambang Wisnu Broto mengatakan produksi jagung setahun sekitar 234.000 ton, baru 11.000 ton yang diolah. Untuk makanan olahan sekitar 3 persen atau 6.000 ton dan untuk pakan ayam 5.000 ton. Selebihnya sekitar 223 ribu ton dijual ke Jawa Timur dan beberapa kota di Jawa Tengah seperti Sragen, Grobokan dan Semarang. 

“Idelanya produksi jagung diolah dulu sebelum dijual ke luar daerah,” jelasnya.

Produksi jagung dari tahun ke tahun terus meningkat dikarenakan banyak faktor yang mendukung. Seperti pengembangan benih hibrida yang produksinya 1 hektar 8 ton lebih, kemudian intensifikasi lahan. 

Gunawan mengungkaokan butuh strategi menjual jagung dalam bentuk olahan, tentu diperlukan koordinasi dangan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, selain juga memerlukan investor untuk membangun industri olahan dengan bahan baku jagung.

Sekarang ini makanan olahan jagung masih terbatas dalam industri rumah tangga. Ada pembuatan emping jagung, ceriping, marning dan lainnya. 

"Sehingga sangat perlu pemerintah membangun pabrik dengan spesifikasi olahan dari bahan jagung," ungkapnya.(*/yve)

 

 

 


TAGS:

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini