atas1

Budaya Baca yang Rendah

Selasa, 13 Agu 2019 | 22:35:41 WIB, Dilihat 535 Kali - Oleh Muhammad Mufti AM

SHARE


Budaya Baca yang Rendah Muhammad Mufti AM

Baca Juga : Adu Kreativitas Mengolah Bahan Bekas


BARU-baru ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merilis Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) masyarakat di 34 provinsi. Hasilnya adalah rata-rata Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah di angka 37,32%. Sedangkan Indeks Alibaca tertinggi provinsi berdasarkan tiga peringkat teratas secara berurutan diduduki oleh DKI Jakarta (58,16%), DIY (56,20%), dan Kepulauan Riau (54,76%). Namun ketiga provinsi tersebut belum mencapai kategori aktivitas literasi tinggi, karena indeks ketiganya belum melampui angka 80,01% . Dengan kata lain berada di level aktivitas literasi sedang (Kemendikbud, 2019). 

Sementara survei Kajian Budaya Baca Masyarakat Indonesia yang dilaksanakan Perpustakaan Nasional pada tahun 2017 hasilnya tidak jauh berbeda. Survei untuk mengetahui tingkat gemar membaca pada masyarakat pelajar di 30 kabupaten/kota pada 15 provinsi di Indonesia menunjukkan skor 36,48%. Skor itu merujuk pada kategori kegemaran membaca peringkat rendah (skor 20, 1-40). 

Hasil kajian di atas menjadi keprihatinan kita bersama. Tak dapat disangkal bahwa tingkat literasi baca masyarakat memang belum seperti yang diharapkan. Sejumlah riset selalu menempatkan literasi membaca Indonesia pada posisi kurang menguntungkan. Membaca belum menjadi budaya mengakar kuat di kalangan masyarakat. Rendahnya budaya membaca masih terus membayangi, terutama di kalangan generasi muda. Padahal ciri suatu bangsa maju, cerdas berperadaban ditengarai oleh tingginya budaya membaca.

Berbagai upaya telah dilakukan agar kondisi demikian dapat teratasi. Misalnya, mendekatkan buku pada masyarakat melalui bermacam kegiatan berbasis literasi. Ya, Buku diibaratkan jendela dunia. Buku menambah wawasan dan pengetahuan. Sementara tempat identik dengan buku adalah perpustakaan. Buku dan perpustakaan saling melekat tak terpisahkan. Perpustakaan merupakan sebuah institusi yang perannya cukup strategis terhadap tumbuhnya budaya literasi di Indonesia. Perpustakaan tidak hanya menyediakan buku maupun koleksi non buku, tetapi turut mendorong masyarakat melek pengetahuan. 

Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pun mengamanatkan pembudayaan kegemaran membaca. Aktivitasnya dilakukan melalui satuan keluarga, pendidikan dan masyarakat. Itu dapat berarti buku sebagai bahan bacaan perlu didekatkan kepada masyarakat. Simpulnya bisa melalui peran lembaga pendidikan, perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, bahkan perpustakaan keluarga. Perpustakaan dikembangkan hingga menyentuh lapisan masyarakat terbawah. 

Meskipun buku dan perpustakaan bagian dari dunia pendidikan, namun stigma terhadap perpustakaan sampai saat ini belum beranjak. Perpustakaan dipandang tak lebih sebagai pelengkap saja dalam struktur kelembagaan. Di sekolah misalnya, masih banyak perpustakaan belum dikelola secara baik. Entah dalam penyediaan ruang/gedung, koleksi lebih didominasi buku paket, sarana prasarana memprihatinkan. Belum lagi anggaran minim dan pengelolanya tak berlatar belakang pendidikan atau pelatihan bidang perpustakaan.

Keberadaan perpustakaan mestinya jangan diabaikan begitu saja. Potensi perpustakaan dalam meningkatkan keberdayaan bangsa sebenarnya cukup besar. Di dunia pendidikan, eksistensi perpustakaan sejalan sekaligus menunjang prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional di negara kita.  Sedangkan bagi masyarakat umum, perpustakaan dapat menjadi tempat pembelajaran sepanjang hayat yang murah, terbuka, dan mandiri. Sangat disayangkan apabila ada lembaga atau institusi menempatkan gedung/ruang perpustakaannya di tempat kurang baik. Hal itu menimbulkan kesan bahwa perpustakaan memang tidak dianggap penting.  Pandangan negatif yang terlanjur melekat pada perpustakaan mestinya disingkirkan. Tentu harus ada komitmen dan upaya nyata dari semua pihak berkepentingan agar peran fungsi perpustakaan lebih mengedepan. 

Pada era milenial, fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi masih amat dibutuhkan. Sumber-sumber informasi di perpustakaan semua disediakan buat pemustaka, terutama mereka yang haus akan informasi. Seiring perkembangan teknologi, informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Sejumlah perpustakaan telah menunjukkan tindakan nyata, baik perpustakaan daerah, perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan desa. Bahkan beberapa perpustakaan di antaranya memenuhi standar ISO dan terakreditasi.

Perpustakaan kini mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan layanan berbasis teknologi tanpa mengesampingkan buku. Koleksi digital (e-book) bersama wifi internet gratis berkecepatan tinggi menjadi primadona perpustakaan. Selain itu fasilitas seperti ruang baca sejuk nyaman, unik dan artistik, serta ruang baca santai, ruang diskusi berskala besar atau kecil menjadi daya tarik tersendiri. Begitu pula ruang baca outdoor dilengkapi gazebo, taman dan permainan anak, ditambah lagi kegiatan aplikatif berbasis pemberdayaan, makin mengukuhkan peran fungsi perpustakaan.

Sebagai sebuah institusi, perpustakaan memiliki fungsi-fungsi sangat erat dengan kepentingan masyarakat. Sulistyo-Basuki (1991), guru besar Ilmu Perpustakaan Indonesia membagi fungsi itu menjadi lima yaitu: Pertama fungsi sebagai penyimpan karya manusia. Kedua fungsi pendidikan. Ketiga, fungsi informasi dengan menyediakan kemudahan akses yang cepat terhadap informasi tepat dan dibutuhkan. Keempat, fungsi rekreasi dengan peran penting mendorong minat baca terutama pada waktu senggang. Kelima, fungsi kultural, sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat. 

Merujuk kelima fungsi di atas, maka perpustakaan beserta seluruh komponen di dalamnya pantas diperhitungkan, sebagaimana terjadi di lingkungan perguruan tinggi ternama. Terbukti, perpustakaan ikut membantu terlaksananya Tridarma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ada ungkapan menyatakan, bahwa perpustakaan merupakan jantungnya pendidikan. Oleh karena itu, bila ingin melihat kemajuan suatu lembaga pendidikan maka lihatlah perpustakaannya. Demikian pula jika ingin melihat tingkat peradaban suatu bangsa, kita dapat melihat dan menjelajahi perpustakaannya. 

Fungsi perpustakaan akan terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Perpustakaan tak lagi sekadar tempat penyimpanan, melulu bergelut dengan buku. Lihatlah Perpustakaan Nasional berlantai 24 di Jakarta atau Grhatama Pustaka DIY.  Keduanya menjalankan fungsi lebih kompleks didukung perangkat teknologi informasi sehingga mampu bertransformasi menjadi wahana rekreasi edukatif. 

Undang-undang juga mengamanatkan perpustakaan sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Pemerintah berkewajiban mendorong, membina dan memfasilitasi kebutuhan literasi masyarakat di berbagai daerah. Degup jantung pendidikan senantiasa dipacu sehingga ilmu akan terus mengalir, mengisi ruang dan memberikan kontribusi bagi setiap pencari ilmu. Itu bisa terjadi manakala buku maupun informasi lainnya selalu tersedia dan perpustakaan semakin optimal memainkan peran dan fungsinya. ** 

 

Muhammad Mufti AM

Pegiat Literasi, Penulis Lepas, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, DIY

 

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 20 Juli 2019)

 



Selasa, 13 Agu 2019, 22:35:41 WIB Oleh : W Asmani 1461 View
Adu Kreativitas Mengolah Bahan Bekas
Selasa, 13 Agu 2019, 22:35:41 WIB Oleh : Putut Wiryawan 322 View
Estafet
Selasa, 13 Agu 2019, 22:35:41 WIB Oleh : Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si. 421 View
Keteladanan Ibu

Tuliskan Komentar