Minggu, 11 Apr 2021,


bu-bu-ajrih-mboten-mbotenJoko Widodo berbincang dengan buruh gendong yang usai menjalani vaksinasi di Pasar Beringharjo Yogyakarta. (Istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim
"Bu... Bu... Ajrih mBoten?"..... "Mboten..."
Presiden Jokowi Menyaksikan Vaksinasi Buruh Gendong Pasar Beringharjo
SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Presiden Joko Widodo memantau langsung kegiatan vaksinasi tahap kedua serentak di Pasar Beringharjo dan Benteng Vre de Burg, Yogyakarta, Senin (1/3/2021). Lebih dari 5.750 pedagang pasar tersebut rencananya menjadi penerima vaksinasi tahap kedua. Mereka merupakan bagian dari sekitar 19.800 warga Malioboro yang mendapatkan jatah vaksinasi kali ini


Kegiatan vaksinasi yang bertepatan dengan peringatan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret ini menjadi Istimewa bagi para pedagang pasar, juru parkir dan buruh gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta.


Wahyuni salah satunya. Sebagai buruh gendong yang mendapatkan vaksinasi, ia tergopoh-gopoh menghampiri bingkisan dari Presiden yang disiapkan bagi seluruh peserta vaksin di pintu keluar. Entah malu atau tidak percaya diri, perempuan berusia 54 tahun ini seperti tidak menyadari bahwa orang nomor satu di Indonesia memanggil-manggilnya.

"Bu, bu," panggil Joko Widodo sambil melambaikan tangan isyarat agar Si Ibu mendekat.


"Ibu baju biru, Ibu baju biru," teriak Paspampres lebih keras.


Dengan ragu-ragu Wahyuni mendekat menghampiri Joko Widodo. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ikut mendampingi Presiden ikut melambaikan tangan, isyarat kepada Wahyuni agar mendekat.


Jokowi bertanya kepada perempuan paruh baya ini, Apakah divaksin sakit?

"Mboten (tidak)," jawabnya sambil menggelengkan kepala.

"Saestu? (yang benar?), Ajrih mboten? (takut tidak?)," tanya Jokowi lagi.

"Mboten," jawab Wahyuni malu-malu.

"Cuma seperti digigit semut nggih bu?," tutup Joko Widodo.

Walau hanya berbicara sepatah-dua kata, Perempuan yang juga berjualan di Pasar Beringharjo ini mengaku sangat senang bisa berbicara langsung kepada Presiden. Momen langka ini membuat iri teman-temannya.

Porbani misalnya, Perempuan penjaja batik yang juga mendapatkan vaksin pada hari ini mengaku kesal karena tidak sempat mengabadikan Jokowi dan Sultan di ponsel pintarnya.

"Tadi udah mau ngambil gambar, Tapi diperingatkan petugas," ujarnya.

Berbeda dengan Wahyuni yang mengaku sempat takut saat akan disuntik vaksin. Sriyati warga Sayidan justru tidak takut sedikit pun. Usianya yang sudah menginjak 68 tidak menyurutkan keinginannya untuk mendapatkan vaksinasi.

Sejak pendaftaran vaksin untuk pedagang Pasar Beringharjo dan buruh gendong dibuka, Sriyati langsung mendaftarkan diri. "Aku sudah mantep," ujarnya.

"Cuma tadi sempat was-was karena wartu diperiksa tekanan darah tinggi. Untung setelah istirahat sejenak kemudian dites lagi, hasilnya normal," terangnya.

"Diomongi petugas, suruh istirahat dulu, mungkin tadi kemrungsung berangkat," lanjutnya.

"Sekarang sudah lega [sudah divaksin], tinggal nunggu vaksin kedua lagi. Tadi tidak sakit seperti disuntik biasa," ujarnya.

Perempuan yang sudah puluhan tahun menjajakan makanan keliling di pasar tradisional terbesar di Yogyakarta ini tinggal menunggu jadwal vaksin kedua yang akan dilaksanakan sebulan ke depan. Karena termasuk kategori lansia, jadwal vaksinasi kedua memang lebih lama dibandingkan warga usia di bawah 60 tahun.

Selama menunggu vaksinasi bagi pedagang pasar, Sriyati membatasi jualan di pasar tersebut selama pandemi. Kalau dulu dia setiap hari mengambil setoran makanan dari banyak pengepul, maka selama pandemi ini dia hanya mengambil setoran dari tetangga sekitarnya.

Melalui program vaksinasi ini, Ia berharap pandemi segera berakhir. Aktivitas ekonomi pun bisa segera pulih seperti sediakala.

Sementara Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk DIY vaksinasi dilakukan di tiga lokasi, salah satunya di Pasar Beringharjo. Vaksinasi dilaksanakan selama enam hari, dengan target rata-rata 900 orang perhari.

Menurut Budi, vaksinasi tahap kedua ini diberikan sesuai arahan Presiden RI dengan target diberikan pada sekitar 16,9 juta tenaga publik. Sebab merekalah yang setiap hari beraktivitas dan bertemu masyarakat, termasuk para pedagang pasar, sehingga rentan terpapar virus Covid-19. (**)



SHARE

'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini