atas1

Bersama Media, Jogja Harus Dinginkan Indonesia

Rabu, 29 Mei 2019 | 01:04:18 WIB, Dilihat 421 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Bersama Media, Jogja Harus Dinginkan Indonesia Kabid Humas Polda DIY AKBP Yuliyanto didampingi Octo Lampito, Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat saat memberikan paparan dalam acara buka bersama Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Pemimpin Redaksi Media se Yogyakarta di Hotel Merapi-merbabu, seturan, Selasa (28/5/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Hampir Seribu Personil Siap Amankan Operasi Ketupat


KORANBERNAS.ID -- Rupanya berakhirnya pemilihan umum serentak 17 April 2019 lalu tidak serta merta menghentikan dukung-mendukung pasangan presiden. Dukung-mendukung calon presiden dan calon anggota legislatif ini ternyata diiringi dengan terus bermunculannya berita-berita bohong (HOAX) dan ujaran kebencian, terutama di ranah media sosial.

Bahkan pemerintah sempat melakukan pembatasan kepada pengguna untuk berkirim video dan gambar di media sosial dan instant messaging. Semua dilakukan demi berkurangnya sebaran HOAX, ujaran kebencian dan provokasi paska kerusuhan di Bawaslu 21-22 Mei 2019 lalu. Meski jalur komunikasi lain dibiarkan normal, tetap saja langkah pemerintah ini menuai pro dan kontra dikalangan pengguna internet Indonesia.

Kabid Humas Polda DIY AKBP Yuliyanto menyampaikan, Bahwa media mainstream dalam hal ini mampu menangkal berita bohong. Dengan kualitas dan kevalidan informasi serta berpegang teguh pada kode etik, media mainstream dapat mendidik dan mencerdaskan masyarakat agar cermat memilih informasi.

Masyarakat tentunya sepakat untuk menolak adanya berita Hoax, dan hal ini harus terus dilawan. Melalui para Pimpinan Redaksi, informasi-informasi positif tentunya bisa digaungkan bersama-sama dengan semua elemen masyarakat demi menciptakan situasi yang kondusif.

"Peran media mainstream untuk memerangi provokasi dan hoax ini sangat penting. karena hoax kini banyak beredar di media sosial maka media mainstream ini masih menjadi rujukan untuk mencari tahu apakah informasi itu benar atau tidak," paparnya saat buka bersama dengan para pemimpin redaksi media di hotel Merapi-Merbabu, Selasa (28/5/2019).

"Meskipun masih disayangkan bahwa tak sediikit pengguna internet di Indonesia masih percaya kolom komentar daripada tautan berita sesungguhnya yang biasa disertakan di sosial media tersebut," imbuh Yuli.

Yuli berharap berharap bahwa media mainstream ini tetap bisa memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat. Terus menyebarkan informasi yang membuat adem masyarakat, bukan media menyulut kemarahan.

Yuli juga meyakini bahwa melalui media-media mainstream yang berbasis di yogyakarta dapat menyebarkan kebaikan bagi seluruh Indonesia. Banyaknya perguruan tinggi ternama tentu melahirkan orang-orang pintar, sehingga bisa mendorong atau menciptakan situasi yang baik untuk mempengaruhi Nasional.

"Artinya pengaruh dari Jogja untuk Indonesia itu sangat besar, selain produsen mahasiswa cerdas, forum rektor di Jogja juga sangat baik. artinya jika para cendekiawan dan para profesor itu berkumpul kemudian membuat gerakan yang membuat adem Indonesia itu sangat mungkin untuk mempengaruhi bangsa Indonesia," pungkasnya.(yve)



Rabu, 29 Mei 2019, 01:04:18 WIB Oleh : Nila Jalasutra 336 View
Hampir Seribu Personil Siap Amankan Operasi Ketupat
Selasa, 28 Mei 2019, 01:04:18 WIB Oleh : W Asmani 437 View
Jelang Lebaran, Antrian Premium Mengular
Selasa, 28 Mei 2019, 01:04:18 WIB Oleh : Sari Wijaya 342 View
Sambut Lebaran, Bantul Bersihkan Kawasan Wisata

Tuliskan Komentar