atas1

Berkah Tak Terduga Banyu Setrum

Sabtu, 16 Mar 2019 | 12:31:44 WIB, Dilihat 1083 Kali - Oleh V. Kirjito, Pr. , Rohaniwan, Pemerhati Budaya Air Hujan.

SHARE


Berkah Tak Terduga Banyu Setrum Si kecil Dante bersama kedua orangtuanya, Robertus Pipit Prasetyo – Sisilia Fajar Dewayani. (dok keluarga)

Baca Juga : Layani NYIA, Bangun Tanki Avtur Kapasitas 16 KL


Pada edisi ini saya sajikan pengalaman suami istri keluarga muda Robertus Pipit Prasetyo – Sisilia Fajar Dewayani. Tinggal di Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tulisan ini diberikan ke  saya, Desember 2017. Semoga memberi inspirasi pembaca untuk tidak menyepelekan air. Air yang berkualitas secara biologis. Kualitas air yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh manusia.

V. Kirjito

 BERAWAL dari ketidak-sengajaan kami berjalan-jalan ke Paroki Kebonarum, Klaten, untuk bertemu Romo Kirjito yang terkenal nyentrik itu, pada akhir tahun 2013. Sesampainya di sana ternyata sedang ada pertemuan lintas budaya dengan romo-romo yang sedang membahas tentang “air setrum”.  Dalam hati saya bertanya-tanya, ini pada ngapain romo-romo kok ngurusi air. Penasaran juga kami mendengarkan diskusi. Kami  mencoba minum “banyu setrum” itu. Langsunglah bereaksi. Pergi ke “belakang,” berkali-kali buang air kecil. Awalnya hanya begitu saja, tapi sudah membuat kami ingat tentang “banyu setrum” itu.

Lalu kami lanjutkan berjalan-jalan ke Klaten. Ada yang bercerita bahwa pakdhenya sembuh dari stroke dan jantung yang tadinya bedrest. Sekarang sudah berjalan dan sembuh dengan minum “banyu setrum.” Dalam perjalanan pulang, topik tersebut menjadi perbincangan kami berdua  dan satu orang teman lagi. Ada apa ini sebenarnya dengan “banyu setrum?”

 

Belajar di Muntilan

Waktu berlalu dan “banyu setrum” terlewat begitu saja. Sampai suatu ketika, sekitar bulan Oktober 2014 dengan beberapa teman kami mau jalan-jalan ke Yogya. Teringat Romo Kirjito yang sudah pindah ke Muntilan. Mampirlah kami ke Pastoran Sanjaya Muntilan. Topik pembicaraanpun masih sama tentang “banyu setrum”. Kami semua antusias mengikuti diskusi dengan nara sumber Romo Kirjito, yang sejak Januari 2014 mendapat tugas khusus penelitian budaya air, khususnya air hujan. “Labora Eksperimental Air Hujan”, demikian beliau memberi nama kegiatan dan pekerjaannya.

Pada diskusi malam itu ada  yang mengusik hati dan pikiran saya. Sudah tujuh tahun kami berumah tangga, belum juga diberi momongan. Saya bercanda dengan Romo Kirjito. “Air ini bisa bikin hamil nggak Romo?” Semua tertawa terbahak-bahak. Romo dengan optimistis menjawab. “Mau jadi kelinci percobaan?” Dan kami pun tambah terbahak-bahak.

 

Vonis dokter

Pulang malam itu kami membawa ionizer, alat “banyu setrum”. Tapi apa yang terjadi? Lama kami tidak langsung menggunakannya. Ionizer itu tergeletak begitu saja. Sampai suatu ketika saya divonis dokter Rumah Sakit Elisabeth Semarang, untuk operasi sinus dan amandel karena pilek dan batuk yang tak kunjung sembuh, tulang hidung bengkok. Ketika itu saya keluar dari R.S. Elisabeth rasanya tidak ada semangat. Malas untuk menjalani operasi. Sebenarnya operasi itu sudah imbauan kedua kalinya dari dokter.

Dari kejauhan saya melihat sosok yang saya kenal. Ternyata Romo Kirjito sedang menunggu antrean untuk general check up. Saya datangi beliau dan kami pun berbincang-bincang. Saya bercerita tentang sakit saya. Lalu Romo Kirjito menyarankan untuk mencoba “banyu setrum” tersebut sebelum operasi. Dan kali ini saya mempunyai motivasi dan percaya. Sesampainya dirumah alat yang belum kami gunakan itu mulai saya fungsikan untuk ionisasi air minum.  Kali ini kami mau hidup sehat dan tidak mau operasi.

Saya juga mencari beberapa literatur tentang hidup sehat. Saya menemukan buku berjudul “Food Combining”. Dengan membaca buku itu saya menemukan benang merah “banyu setrum” dengan buah-buahan seperti yang dituliskan di buku tersebut. Benang merah tersebut adalah “virus dan bakteri tidak menyukai kondisi basa”. Buah dan “banyu setrum” mempunyai sifat basa. Tambah yakinlah kami dengan “banyu setrum” dikombinasi  dengan buah buahan dan sayuran. Enam bulan kami mengubah pola makan, dan minum dengan “banyu setrum”. Lebih banyak mengonsumsi buah juga. Dengan pola tersebut badan terasa lebih segar dan fit.

 

Berkah Tak Terduga

Tujuh tahun kami berkeluarga belum dikarunia momongan. Tiba tiba saya hamil pada Februari 2015. Betapa gembiranya kami berdua. Bahkan tidak hanya itu. Suami saya biasa nglembur-nglembur pekerjaan. Kecapaian itu pasti. Ujung-ujungnya, sakit tipus  setiap tahun. Tidak menyangka bahwa sejak konsumsi “ banyu setrum” kombinasi banyak makan buah-buahan, tidak pernah sakit tipus lagi. Demikian juga ibu saya yang menderita maag, sekarang sudah tidak lagi. Ternyata hidup sehat tidak semahal yang kami pikirkan. “Banyu setrum” salah satu solusinya. Saya juga tidak jadi operasi sinus dan amandel, dan tidak pernah kumat lagi. Bagi kami “banyu setrum” mengalirkan berkah Tuhan yang tak terduga.

 

Kelinci Berhasil

Setelah memasuki usia tujuh bulan kehamilan, dengan gurau gembira kami memberi tahu Romo Kirjito. “Kelinci percobaannya berhasil Mo,” gurau saya lewat telepon seluler. Saya bercerita panjang lebar. Romo minta izin merekam sebagai dukomentasi.

Selama hamil tidak ada masalah kesehatan saya maupun janin. Tanggal 2 Nopember 2016  saya melahirkan anak pertama dengan berat badan 3.4 kg. Bayi saya sangat sehat. Tangisannya paling keras diantara bayi-bayi lain di ruang yang sama Rumah Sakit Panti Wilasa Semarang. Kami beri nama Nicolas Danate Sasrabahu.

Sampai sekarang, kami tetap minum “banyu setrum.” Puji Tuhan anak kami Dante, sehat dan ceria selalu, tidak pernah sakit yang berlebihan. Paling panas badan karena mau tumbuh gigi. Saat menulis ini Dante umur dua tahun. Ia super aktif. Selalu ingin melakukan apa yang dikerjakan kami orang tuanya. Tidak rewel seperti biasanya bayi kanak-kanak. Perkembangannya jauh lebih cepat dari pada anak-anak lain seusianya.

Pada usia lima bulan sudah bisa menirukan suara ayam berkokok dan adzan meski belum begitu jelas. Pertama kali memanggil ibunya sudah berbunyi “Bu Lia.”

Pakde-nya, Pak Dadut,  dosen Psikologi di Unika Soegijapranata Semarang, tergoda untuk test Dante.  Ia menugaskan satu orang mahasiswanya.  Menggunakan instrumen test ilmiah untuk anak umur sampai dengan 30 bulan. Dante baru 24 bulan. Skala ukur ilmiah hasilnya: paling rendah disebut  “di bawah rata-rata”, lalu “rata-rata” dan yang tertinggi “baik sekali”. Dante mendapat “baik sekali”.

 

Anak Cerdas

Sutu hari saya membeli puzzle gambar transportasi. Karena masih terlalu sulit, cuma saya ajari dua kali, lalu saya simpan. Kasihan, belum mampu, pikir saya. Sebulan kemudian, puzzle itu saya berikan. Langsung Dante utak-utik sendiri, tanpa saya ajari lagi. Mengherankan sekali, dari 20 puzzle, Dante menyelesaikan dengan benar 10 puzzle. Kami orang tua terheran-heran, bahagia, bangga punya anak pertama sehat, cerdas, tidak sulit momongnya, tidak rewel, jarang sekali menangis. Tujuh tahun kami menanti kebahagiaan berkeluarga seperti ini. Terimakasih Romo Kirjito berkat inovasi “banyu setrum”, banyak keluarga yang menjadi lebih sehat dan menginspirasi kaum muda untuk terus berinovasi.(*)

 

 



Sabtu, 16 Mar 2019, 12:31:44 WIB Oleh : warjono 528 View
Layani NYIA, Bangun Tanki Avtur Kapasitas 16 KL
Sabtu, 16 Mar 2019, 12:31:44 WIB Oleh : Sholihul Hadi 655 View
Satpol PP Bukan Penjaga Kota yang Pasif
Sabtu, 16 Mar 2019, 12:31:44 WIB Oleh : Sholihul Hadi 729 View
Jangan Anggap Remeh Pelatihan Menjahit

Tuliskan Komentar