atas

You are Not Sick, You are Thirsty

Minggu, 13 Jan 2019 | 13:00:10 WIB, Dilihat 632 Kali - Oleh V. Kirjito, Pr. , Rohaniwan, Pemerhati Budaya Air Hujan.

SHARE


You are Not Sick, You are Thirsty Pameran Budaya Air Hujan di Bentara Budaya Jakarta, 2015. Seorang pengunjung sedang mengamati proses ionisasi air hujan, mencermati baunya dan akhirnya meminumnya. (DOK. BENTARA BUDAYA JAKARTA)

Baca Juga : Memancing, Mujihadin Tersambar Petir


Sahabat saya pecinta air, Dr. Frederick Kosasih dari Denpasar, Bali, memberi dua buku bagus. “You’re Not Sick, You’re Thirsty”, dan “You’re Body Many Cries for Water”, keduanya tulisan Dr. Batmanghelidj M.D, (1931-1990), seorang peneliti, penulis dan aktif memperkenalkan kekuatan air sebagai solusi kesehatan yang alami. Ia mengenyam pedidikan tinggi di Fettes College di Scotland kemudian melanjutkan ke jenjang pasca sarjana di St. Mary’s Hospital Medical School of London University.

Ketika Revolusi Iran pecah pada tahun 1979, Dr. Batmanghelidj dijebloskan ke penjara Evin Prison, sebagai tahanan politik selama dua tahun tujuh bulan. Pada suatu malam, Dr. Batmanghelidj harus merawat sesama tahanan yang menderita sakit maag akut. Tanpa adanya peralatan medis yang memadahi, Dr. Batmanghelidj memberikan dua gelas air putih. Dalam waktu delapan menit, nyerinya telah hilang. Tahanan itupun dianjurkan untuk minum dua gelas air putih setiap tiga jam. Akhirnya ia benar-benar sembuh. Dr. Batmanghelidj berhasil mengobati 3,000 orang sesama tahanan yang menderita penyakit maag (stress-induced peptic ulcer) hanya dengan menggunakan air.

Di dalam penjara Evin itulah, ia melakukan penelitian secara intensif mengenai pengaruh air untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif. Penjara menjadi ‘laboratorium’ yang ideal. Hasil penelitiannya dipublikasikan sebagai editorial di Journal of Clinical Gastroenterology edisi Juni 1983.

Tubuh mengeluarkan sinyal bahwa ia kekurangan cairan, dehidrasi dengan cara memunculkan nyeri. Banyak penyakit degeneratif, termasuk diantaranya asthma, arthritis, hypertension, angina, obesitas dewasa, lupus dan multiple sclerosis. Maka pesannya kepada dunia adalah:

Kamu bukanlah sakit, kamu haus. Janganlah mengatasi kehausan dengan obat-obatan.”

Minum Menjaga Stamina

Dalam masyarakat sering terdengar orang berujar, “sehari tidak makan kuat. Tidak minum, mana tahan.” Namun kebanyakan dari kita kalau perut lapar, spontan berpikir mencari makanan dulu, bukan air. Nah, coba satu dua gelas saja. Toh relatif tanpa biaya mahal, tidak sulit mendapatkannya di manapun. Minum air membantu kerja tubuh mempertahankan stamina, ibarat air radiator mobil berperan mempertahankan suhu mesin tetap aman.

Kalau benar, rasa lapar cukup direspons dengan minum, bukankah akan membantu mengatasi masalah lapar ketika sedang dalam perjalanan atau sedang tidak ada di rumah sendiri. Sekali lagi dicoba saja. Syukur minum air yang tidak harus membeli, air yang diproses sendiri. Saya sendiri sudah sering mencoba. Saat perut terasa lapar, karena sudah lewat jam biasanya makan, saya minum dulu 2-3 gelas air. Air yang sudah saya ionisasi sendiri. Benar, rasa lapar hilang. Saya coba lagi ketika dalam perjalanan. Hasilnya rasa lapar reda.

Jadi riset dehidrasi Dr. Batmanghelidj itu mau disikapi bagaimana? Ditanggapi apakah benar atau hoaks? Mitos atau kenyataan? Janganlah terburu-buru menilai negatif. Kita perlu menghargai karyanya. Kita cari positifnya. Jadikan motivasi untuk belajar dengan cara bereksperimen. Eksperimen air akan memberikan pengetahuan yang nyata dan terbukti. Tidak hanya pengetahuan informatif saja. Bukan hanya “jarene”, atau “kata orang.”

Jangan Remehkan Air

Dalam hidup sehari-hari, semua orang menganggap air bukan hal yang paling penting. Di bawah sadar masih kuat cenderung memandang air dengan sebelah mata. Muncul kata-kata, “ah...hanya air,” “mung banyu…” Nah, siapa yang memikirkan hubungan air dengan kesehatan? Jarang ada kan? Kalaupun ada yang mengaitkan dengan kesehatan atau malah kesembuhan, segera dicap klenik, hoaks, mitos, perdukunan dsb. “Ah, itu tidak ilmiah,“ respon orang yang merasa terpelajar.

Nah, cap “tidak ilmiah” malah bisa membunuh pikiran orang-orang sederhana namun kaya pengalaman dan kearifan yang terbentuk bersama alam khususnya air. Dalam budaya sehari-hari, kesehatan pasti dikaitkan dengan gizi. Kecerdasan pun dikaitkan dengan gizi makanan. Itu banyak benarnya. Namun makanan juga harus diproses menggunakan air. Maka peran air jangan diremehkan. Pengetahuan dan pengertiannya bisa diperdalam lagi.

Ada begitu banyak macam air. Ada air kemasan yang iklannya sangat menarik. Tetapi lihatlah, banyak sisa air cukup banyak dalam gelas plastik, botol plastik. Itu biasa terjadi di ruang rapat, sidang, di kampus-kampus, rumah makan, tempat hajatan, layatan, pentas seni, dan sebagainya. Terkadang masih ada yang utuh, belum dibuka tutupnya, menjadi satu dengan sampah! Itu indikasi sikap meremehkan air.

Menjaga Hulu Sehat

Peran air lebih tepat ditempatkan pada hulu kesehatan. Obat, itu hilir kesehatan, kata dr. Tirta yang bertugas di sebuah rumah sakit di Malang. Mencegah lebih penting daripada berobat. Sudah banyak anjuran bagaimana cara mencegah agar tidak sakit. Tapi hal ini menjadi urusan individual. Sangat ditentukan oleh pemahaman dan kesadaran pribadi tiap orang. Celahnya hanya ada di asupan air itu tadi. Tidak ada pihak manapun yang akan melarang kita, --juga dalam kondisi sakit pun--, mengonsumsi air yang bersih dan sehat. Air seperti apa, itulah perlunya penelitian eksperimental terhadap air yang hendak diminum.(*)

 



Minggu, 13 Jan 2019, 13:00:10 WIB Oleh : Sari Wijaya 747 View
Memancing, Mujihadin Tersambar Petir
Minggu, 13 Jan 2019, 13:00:10 WIB Oleh : Sari Wijaya 391 View
Banteng Revolusioner Harus Solid
Sabtu, 12 Jan 2019, 13:00:10 WIB Oleh : Sari Wijaya 431 View
Pandai Saja Tak Cukup, Integritas Wajib

Tuliskan Komentar