warga-bondalem-tetap--menolak-pembangunan-pengelolaan-air-limbahWarga Bondalem, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro menolak pembangunan SPAL-DT di dekat pemukiman mereka. (sari wijaya/koranbernad.id)


sri-wijaya

Warga Bondalem Tetap Menolak Pembangunan Pengelolaan Air Limbah

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Perwakilan warga Bondalem, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, menggelar pertemuan untuk konsolidasi soal pembangunan proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik-Terpusat (SPAL-DT) di Kantor DPUPKB Kabupaten Bantul, Kamis (25/6/2020).

Warga menolak pembangunan proyek yang dibiayai oleh APBN tersebut. Proyek ini dijadwal pembangunan mulai April 2020 dan ditarget selesai Februari 2021 mendatang.


Baca Lainnya :

Tujuh perwakilan yang melakukan pertemuan di kantor DPUPKB adalah ketua warga penolak, Muantoro, didampingi Wahyu Rihadi, Alip, Subarjono, Iswanto, Budi Wantoro dan Agus W.

“Jadi memang dalam pertemuan tersebut kami tetap pada sikap bahwa kami menolak pembangunan di Bondalem dan berharap dipindah ke tempat lain,” kata Muantoro, didampingi Wahyu Rihadi, kepada koranbernas.id di lokasi calon pembangunan SPAL-DT, Kamis (25/6/2020) sore  ini. Jumlah warga yang menolak ada 194 Kepala Keluarga (KK) atau 94 persen dari warga setempat.


Baca Lainnya :

Dari pantauan di lokasi, warga terlihat membentangkan beragam spanduk penolakan, sejak dari gapura masuk Bondalem hingga di dekat lokasi pembangunan. Warga didampingi DPD LBH Ferari DIY saat menyampaikan aspirasi penolakan.

“Dalam pertemuan di kantor DPUPKB memang kami diberi tahu jika bangunan akan memenuhi spek, jadi tidak akan merembes. Tapi kita ini (tinggal di) daerah gempa. Kalau umpama ada goncangan dan retak, kami khawatir tampungan air limbah akan merembes dan terjadi pencemaran. Padahal pemukiman warga tidak jauh,” katanya.

Lokasi pembangunan hanya berjarak 50 meter dari masjid dan kurang dari 200 meter dari pemukiman penduduk. Jika mengacu dari aturan, mestinya minimal berjarak 2 kilometer. Sehingga mereka berharap proyek tersebut bisa dipindah ke tempat lain.

“Kami menolak juga karena sosialisasinya kami nilai  kurang. Warga terdampak terdekat bahkan tidak diajak sosialisasi,” kata Muantoro. Selain itu, di Dusun mereka juga sudah ada IPAL Komunal yang bisa memenuhi satu pedukuhan.

Selain daerah rawan gempa, lokasi tersebut juga rawan banjir  karena terkepung oleh tiga sungai yakni Sungai Winongo di sisi Timur, Sungai Gejlik di sisi  barat, serta Sungai Kretek yang pada bulan Januari Februari sering banjir. Sungai Winongo meluap ke Barat dan Kali Gejlik meluap ke timur sehingga bertemu di Dusun Bondalem. Belum lagi banjir kiriman dari sisi utara.

Menurut Muantoro, ada dua pedusunan yang relatif lebih memungkinkan untuk dibangun SPAL-DT karena luas dan jauh dari pemukiman, yakni Dusun Dodotan dan Dusun Kanutan. Warga berharap agar ada survei di dua dusun itu, dan bisa memindah lokasi  proyek ke sana.

“Kami tidak menolak adanya pembangunan yang dilakukan pemerintah. Hanya saja aspirasi ini agar didengar dan dicari titik tengah yang terbaik,” imbuh Wahyu Rihadi. (eru)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini